Kisah Hot Duh Om, Nikmat Bangetz – Part 2

Kisah Hot Duh Om, Nikmat Bangetz – Part 2by on.Kisah Hot Duh Om, Nikmat Bangetz – Part 2Duh Om, Nikmat Bangetz – Part 2 Om Idris dan Om Zul Setelah acara pesta sex dengan 4 om arab, om Idris kontak aku lagi, “Nez, santai yuk ma aku dan Zul di hotel, nti aku kasi kamu honor sebulan gaji kamu deh, Zul juga mo ngasi honor sebulan gaji kamu”. Wah asik juga tu, […]

multixnxx-Black hair, Asian, Panties, Upskirt, Anal,-11 multixnxx-Black hair, Asian, Panties, Upskirt, Anal,-12Duh Om, Nikmat Bangetz – Part 2

Om Idris dan Om Zul
Setelah acara pesta sex dengan 4 om arab, om Idris kontak aku lagi, “Nez, santai yuk ma aku dan Zul di hotel, nti aku kasi

kamu honor sebulan gaji kamu deh, Zul juga mo ngasi honor sebulan gaji kamu”. Wah asik juga tu, dikerjain semaleman dikasi

honor 2 bulan gaji, biar gajiku UMR juga. “Kudu nanya om Ahmed dulu om, kan Inez kerja ma dia”. “Soial itu mah bisa diatur

Nez, yang penting kamunya mau enggak”. “Inez si mau banget om, bisnya nikmat banget dimasukin pisang tanduk gitu”. “Bisa

aja kamu Nez, ok deh nti kukontak kamu lagi lo dah beres semuanya”. Lama gak da kabar dari dia, kukira dah batal

rencananya. Ku heran juga kenapa om Idris penasaran banget pengen ngn totin aku, apdahal aku biasa2 aja, gak da yang

istimewa dibadanku. Sedikit gambaran fisik tentang diriku, umur saat ini masi kepala 1, cuma DO kelas 10, berkulit putih,

berambut lurus sepundak, dengan toket yang sekal, gak besar si malah bisa dibilangimut, tinggi 155 cm, berat 45 kg, dengan

perut rata dan pinggang kecil namun sintal. Pinggul serasi dengan bentuk badan dan kedua bongkahan pantatku yang indah.
Secara terus terang memang kuakui juga penampilan om Idris tidak mengecewakan. Bentuk tubuhnya pun kekar dan atletis

dengan perut yang six packs.

Aku dah lupa ma rencana itu, tiba2 om Idris kontak aku, “nez, dah beres semua, om Ahmed gak keberatan, malming nanti

kujemput ya”. “Keroyokan lagi ya om”. “Gak lah, aku mau nikmatin kamu sendiri aja Nez, bis tu baru giliran Zul”. “iya deh om”.

Pada harinya aku dah siap2, aku merapikan wajahku dan memilih gaun yang agak seksi. Dari cermin rias di kamarku, kudapati

gaun yang kukenakan terlihat agak ketat melekat di tubuhku sehingga bentuk lekukan tubuhku terlihat dengan jelas. Toketku

yang imut kelihatan sedikit menonjol. Sambil mematut-matutkan diri di muka cermin aku memperhatikan penampilan

keseluruhan bentuk tubuhku. Kudapati bentuk keseluruhan tubuhku ramping dan seimbang. Toketku yang imut tapi kelihatan

kenyal. Demikian pula bentuk pantatku kelihatan agak menonjol. Ditambah lagi kulitku yang memang putih bersih membuat

bentuk keseluruhan tubuhku menarik untuk diliat. Mungkin itu yang mebuat ke 2 om itu napsu banget pengen ngen totin aku

lagi malem ini. Om Idris menjemputku sesuai waktu yang dijanjikan, pake cipika cipiki dulu lagi. “Wah kamu cantik banget

Nez, mana sexy lagi”. “Ah om bisa aja, sexy dari Hongkong”. “Iya Nez, kamu biar imut tapi sexy banget deh, dah siap kan, yuk

brangkat”. Dia menggandeng aku ke mobilnya, membukakan pintu mobilnya untuk aku. “Kita kemana om”. “Ke rumahku aja

ya, gak apa kan, kosong kok rumahnya”. “Asal gak ganggu keluarga aja om”. “Keluargaku gak disini kok Nez, aku bujang

disini, Zul juga”, jawabnya sambil tertawa. Sampe dirumahnya, om Zul menjemput di pintu, dia juga cipika cipiki ma aku,

mesra banget ni 2 om malem ini ke aku. Kita bertiga langsung santap amlem, om idris dah siapkan makan malem yang

berlebih lauknya, sampe aku bingung mo makan yang mana. Mereka meladeni aku, mengambilkan aku nasi dan lauk pauknya,

mengambilkan aku minum, wah pokoknya aku diistimewakan deh malem ni, Seperti biasa lelaki suka ngegombal, mereka juga

ngegombal terus sepanjang acara makan malem. Biar itu gombal banget tapi aku seneng ja, serasa disanjung gitu. Itu

bodonya prempuan kali ya, dah tau digombali masi juga ngerasa disanjung.

Setelah makan malam kita duduk di taman belakang rumah om Idris, tajir banget deh si om, rumah besar mewah masi ada

taman luas lagi diblekangnya. Mereka ngobrol santai sambil menghabiskan beberapa kaleng bir. Aku gak biasa minum

alkohol, jadi om idris menyiapkan minuman kaleng macem2 buat aku. “Bisnya aku gak tau kamu suka minuman apa, jadi

kubeli j macem2 buat kamu nez”. “Makasi om, perhatian banget si om ke aku”. Mereka terus ja ngegombali aku, aku cuma

senyum2 seneng aja. Malem makin larut dan hawa pelan2 mulai terasa dingin. Mereka mengajak aku amsuk ke rumah. aku

masuk ke kamar mandi untuk menukan gaunku dengan baju tidur nylon yang tipis tanpa BH sehingga toketku terlihat

membayang di balik baju tidur itu. Aku sengaja membawa baju tidur sexy untuk ngeramein aja. Ketika aku keluar, ke 2 om

agak terhenyak untuk beberapa saat, padahal di pesta sex kemaren mreka dah meliat aku telbul. Akan tetapi mereka segera

dapat menguasai dirinya kembali dan om Idris kedipin mata ke om zul, om zul segera menyingkir ke lantai atas.

om Idris mengajakku segera masuk ke kamar tidur. Dikamar dia langsung melingkarkan tangan di dadaku dan menyentuh

toketku dari luar daster. aku segera merebahkan diri bertelungkup di atas tempat tidur. Kemudian om Idris menarik tanganku

dan meletakkannya di atas pangkuannya. Sementara itu bibirnya mulai menyusur leher dan belakang telingaku yang paling

sensitif. Aku langsung ditariknya, pelukannya dan tangannya yang satu langsung mendekap toketku yang sebelah kanan,

sedangkan tangannya yang satu mengelus-elus punggungku sambil mulutnya melumat bibirku dengan gemas. Tangan om

Idris yang berada di toketku disisipkan pada belahan daster yang terbuka dan mulai memelintir dengan halus ujung pentilku

yang telah mengeras. om Idris mendorongku perlahan-lahan sehingga yelentang di ranjang. Jemarinya mulai meremas-remas

toketku dan memilin-milin pentilnya. Saat itu aku masih belum total terhanyut tetapi ternyata om Idris jagoan juga dan dalam

waktu mungkin kurang dari 10 menit aku mulai mengeluarkan suara mendesis yang tak bisa kutahan. Kulihat dia tersenyum.

Dan menghentikan aktivitasnya. Kini om Idris berusaha membuka baju tidurku belum selesai berpikir beberapa saat kemudian

aku merasakan tarikan lembut di pahaku dan merasakan hawa dingin AC di kulit pahaku yang berarti celana dalamku telah

dilepas. om Idris menelanjangi diriku dengan seenaknya sampai aku benar-benar dalam keadaan bertelanjang bulat tanpa ada

lagi sehelai benang pun yang menutupi tubuhku. Secara reflek, dalam keadaan terangsang, aku mengusap-usap kon tol om

Idris yang telah tegang dari luar celananya. Bagian bawah celana om Idris terlihat menggembung besar. Kemudian om Idris

menarik tanganku ke arah resluiting celananya yang telah terbuka dan menyusupkan tanganku memegang kon tol om Idris

yang telah tegang itu. Jilatan-jilatan om Idris di bagian tubuhku yang sensitif membuatku bergelinjang dengan dahsyat

menahan arus birahi. Setelah beberapa saat mengelusnya, kemudian om Idris berdiri di hadapanku dan membuka celananya

sehingga kon tolnya tiba-tiba melonjak keluar. Kini om Idris berada dalam keadaan bertelanjang bulat. kon tol om Idris yang

sangat besar dan panjang itu. Batang kon tolnya kurang lebih berdiameter 5 cm dikelilingi oleh urat-urat yang melingkar dan

pada ujung kepalanya yang sangat besar, panjangnya mungkin kurang lebih 18 cm, pada bagian pangkalnya ditumbuhi

dengan rambut keriting yang lebat. Kulitnya agak tebal, terus ada urat besar di sisi kiri dan kanan yang terlihat seperti ada

cacing di dalam kulitnya. Kepala kon tolnya tampak kompak, penuh dan agak berkerut-kerut. Garis lubangnya tampak seperti

luka irisan di kepala kon tolnya. Kemudian dia menyodorkan kon tolnya ke hadapan wajahku. aku segera menggenggam kon

tolnya dan terasa hangat dalam telapak tanganku. Aku memegangnya perlahan, terasa ada sedikit kedutan terutama di

bagian uratnya. Lingkaran genggamanku tampak tak tersisa memenuhi lingkaran batangnya. kuraih kon tol om Idris itu ke

dalam mulutku menjilati seluruh permukaannya dengan lidahku kemudian kukulum dan hisap sehebat-hebatnya. Kuluman dan

hisapanku itu membuat kon tol om Idris yang memang telah berukuran besar menjadi bertambah besar lagi. dari kon tol om

Idris yang sedang mengembang keras dalam mulutku kurasakan ada semacam aroma yang khas yang menimbulkan suatu

rasa sensasional dalam diriku membuatku bertambah gemas dan semakin menjadi-jadi menghisap kon tol itu lebih hebat lagi

secara bertubi-tubi. Kuluman dan hisapanku yang bertubi-tubi itu rupanya membuat om Idris tidak tahan lagi.

Dengan keras dia menghentakkan tubuhku dalam posisi telentang di atas tempat tidur. Aku segera membuka kedua belah

pahaku lebar-lebar. Sambil berlutut mendekatkan tubuhnya di antara pahaku, kedua tangannya membuka pahaku sehingga

slangkanganku terkuak tepat menghadap pinggulnya karena ranjangnya tidak terlalu tinggi. Itu juga berarti bahwa sekian

saat lagi akan ada sesuatu yang akan menempel di permukaan memekku. Benar saja, aku merasakan sebuah benda tumpul

menempel tepat di permukaan memekku. Tidak langsung diselipkan di ujung lubangnya, tetapi hanya digesek-gesekkan di

seluruh permukaan bibirnya, membuat bibir memekku terasa monyong-monyong kesana kemari mengikuti arah gerakan

kepala kon tolnya. aku merasakan rasa nikmat yang benar-benar bergerak cepat di sekujur tubuhku dimulai dari titik gesekan

itu. Beberapa saat om Idris melakukan itu, cukup untuk membuat tanganku meraih tangannya dan pahaku terangkat menjepit

pinggulnya. Aku benar-benar menanti puncak permainannya.

om Idris menghentikan aktivitasnya itu dan menempelkan kepala kon tolnya tepat di antara bibir memekku dan terasa bagiku

tepat di ambang lubang memekku. Aku benar-benar menanti tusukannya. “Oohh,” tak sabar aku menunggunya. Tiba-tiba aku

merasakan sepasang jemari membuka ke kiri dan ke kanan bibir memekku. aku merasakan sebuah benda tumpul dari daging

mendesak di tengah-tengah bentangan bibir itu. Perlahan-lahan om Idris mulai memasukkan kon tolnya ke memekku. Aku

berusaha membantu dengan membuka bibir memekku lebar-lebar. Kelihatannya sangat sulit untuk kon tol sebesar itu masuk

ke dalam lubang memekku yang kecil. Tangan om Idris yang satu memegang pinggulku sambil menariknya ke atas, sehingga

pantatku agak terangkat dari tempat tidur, sedangkan tangannya yang satu memegang batang kontolnya yang diarahkan

masuk ke dalam memekku. Pada saat om Idris mulai menekan kon tolnya, aku menjerit tertahan, “Aduh, sakit om, pelan2

om…” Om Idris agak menghentikan kegiatannya sebentar untuk memberiku kesempatan untuk mengambil nafas, kemudian

om Idris melanjutkan kembali usahanya untuk memasukkan kon tolnya. Sementara itu batang kon tol om Idris mulai

mendesak masuk dengan mantap. Sedikit demi sedikit aku merasakan erisinya ruangan dalam liang memekku. Aku

menggelinjang ketika merasakan kepala kon tolnya mulai melalui liang memekku, diikuti oleh gesekan dari urat-urat

batangnya setelahnya. Aku hanya mengangkang merasakan desakan pinggul om Idris sambil membuka pahaku lebih lebar

lagi. Aku mulai merasakan perasaan penuh di memekku dan semakin penuh seiring dengan semakin dalamnya batang itu

masuk ke dalam memekku. Sedikit suara lenguhan kudengarkan dari om Idris ketika seluruh batang itu amblas masuk.

Rasanya seperti terganjal dan untuk menggerakkan kaki saja rasanya agak susah. Sedikit demi sedikit aku mulai merasa

nyaman. Saat itu seluruh batang kon tol om Idris telah amblas masuk seluruhnya di dalam liang memekku. Tanpa sengaja aku

terkejang seperti menahan kencing sehingga akibatnya seperti meremas batang kon tol om Idris. Aku agak terlonjak sejenak

ketika merasakan kon tol om Idris itu menerobos ke dalam liang memekku dan menyentuh bibir rahimku. Oleh karena itu

secara refleks aku mengangkat kedua belah pahaku tinggi-tinggi dan menjepit pinggang om Idris erat-erat untuk selanjutnya

aku mulai mengoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan tubuh om Idris. Tanganku memegangi lengannya yang

mencengkeram pinggulku. Aku menariknya kembali ketika om Idris menarik kon tolnya dan belum sampai tiga perempat

panjangnya kemudian menghunjamkannya lagi dengan kuat. Aku nyaris menjerit menahan lonjakan rasa nikmat yang

disiramkannya secara tiba-tiba itu. Begitulah beberapa kali om Idris melakukan hujaman-hujaman ke dalam liang

memekku.Setiap kali hujaman seperti menyiramkan rasa nikmat yang amat banyak ke tubuhku. Aku begitu terangsang seiring

dengan semakin seringnya permukaan dinding lubang memekku menerima gesekan-gesekan dari urat-urat batang kon tol om

Idris. om Idris menggenjotku dengan irama gerakan yang konstan tidak cepat dan tidak lambat. Tapi anehnya justru bagiku

aku semakin bisa merasakan setiap milimeter permukaan kulit kon tolnya. Pada tahap ini, seperti sebuah tahap ancang-

ancang menuju ke sebuah ledakan yang hebat, aku merasakan pahaku mulai seperti mati rasa seiring dengan semakin

membengkaknya rasa nikmat di area selangkanganku. Tubuh kami sebentar menyatu kemudian sebentar lagi merenggang

diiringi desah nafas kami yang semakin lama semakin cepat.

Setelah agak beberapa lama kami bergumul tiba-tiba om Idris menghentikan gerakannya dan mengeluarkan kon tolnya yang

masih berdiri dengan tegar dari liang memekku. Selanjutnya dia membungkukkan tubuhku ke pinggir ranjang aku kini berada

dalam posisi menungging. Dalam posisi yang sedemikian om Idris menyodok memekku dari belakang dengan garangnya

sehingga dengan cepat aku telah mencapai puncak terlebih dahulu. Begitu aku sedang mengalami puncak ejakulasi, om Idris

menarik kon tolnya dari liang memekku, dia berbaring dan minta aku berada di posisi atas. Selanjutnya dengan spontan kuraih

kon tolnya dan memandunya ke arah liang memekku. Kemudian kutekan tubuhku agak kuat ke tubuh om Idris dan mulai

mengayunkan tubuhku turun-naik di atas tubuhnya. Mula-mula secara perlahan-lahan akan tetapi lama-kelamaan semakin

cepat dan kuat sambil berdesah-desah kecil. Sementara itu om Idris dengan tenang telentang menikmati seluruh permainanku

sampai tiba-tiba kurasakan suatu ketegangan yang amat dahsyat dan dia mulai mengerang-erang kecil. Dengan semakin

cepat aku menggerakkan tubuhku turun-naik di atas tubuh om Idris dan nafasku pun semakin memburu berpacu dengan

hebat menggali seluruh kenikmatan tubuh laki-laki yang berada di bawahku. Tidak berapa lama kemudian aku menjadi

terpekik kecil mencapai puncakku dan tubuhku langsung terkulai menelungkup di atas tubuh om Idris.

Setelah beberapa saat aku tertelungkup di atas tubuh om Idris, tiba-tiba dia bangkit dengan suatu gerakan yang cepat.

Kemudian dengan sigap dia menelentangkan tubuhku di atas tempat tidur dan mengangkat tinggi-tinggi kedua belah pahaku

ke atas sehingga liang memekku yang telah basah kuyup tersebut menjadi terlihat jelas menganga dengan lebar. Selanjutnya

om Idris mengacungkan kon tolnya yang masih berdiri dengan tegang itu ke arah liang memekku dan menghunjamkan

kembali kon tolnya tersebut ke memekku dengan garang. Aku menjadi terhentak bergelinjang kembali ketika kon tol om Idris

mulai menerobos dengan buasnya ke dalam memekku dan membuat gerakan mundur-maju dalam liang memekku. Aku pun

kini semakin hebat menggoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan turun-naiknya kon tol om Idris yang semakin

lama semakin cepat menggenjotkan di atas tubuhku. Aku merasakan betapa liang memekku berusaha menghisap dan

melahap kon tol om Idris yang teramat besar dan panjang itu. Selama pertarungan itu beberapa kali aku terpekik agak keras

karena kon tol om Idris tegar dan perkasa itu menghujam lubang memekku. Akhirnya kulihat om Idris tiba juga pada

puncaknya. Dengan mimik wajah yang sangat luar biasa dia mencapai puncaknya secara bertubi-tubi menyemprotkan seluruh

pejunya ke dalam tubuhku dalam waktu yang amat panjang. Sementara itu kon tolnya tetap dibenamkannya sedalam-

dalamnya di liang memekku sehingga seluruh cairan pejunya habis.

Selanjutnya kami terhempas kelelahan ke tempat tidur dengan tubuh yang tetap menyatu. Selama kami tergolek, kon tol om

Idris masih tetap terbenam dalam tubuhku, dan aku pun memang berusaha menjepitnya erat-erat karena tidak ingin segera

kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhku. Setelah beberapa lama kami tergolek melepaskan lelah, om Idris mulai

bangkit dan menciumi wajahku dengan lembut yang segera kusambut dengan mengangakan mulutku sehingga kini kami

terlibat dalam suatu adegan cium yang mesra penuh dengan perasaan. Sementara itu tangannya dengan halus membelai-

belai rambutku. Suasana romantis ini akhirnya membuat gairah kami muncul kembali. Kulihat kon tol om Idris mulai kembali

menegang tegak sehingga secara serta merta om Idris segera menguakkan kedua belah pahaku membukanya lebar-lebar

untuk kemudian mulai ngen totin aku kembali. Walaupun baru aja ngecret, om Idris masih tetap saja kelihatan bugar. kon

tolnya pun masih tetap berfungsi dengan baik melakukan tugasnya keluar-masuk liang memekku dengan tegar hingga

membuatku menjadi agak kewalahan. Aku telah terkapar lunglai dengan tidak putus-putusnya mengerang kecil karena terus

-menerus mencapai puncak berkali-kali namun kon tol om Idris masih tetap tegar bertahan. Suasana ini berakhir dengan

tibanya kembali puncak om Idris yang dahsyat, pejunya kembali menyembur2 dalam memekku. Aku benar-benar kelelahan

dan langsung tergolek di tempat tidur untuk kemudian terlelap.

Gak tau aku tertidur berapa lama. aku terbangun karena ada elusan di pahaku. Kulihat om zul senyum kepadaku, “Masih

lemes ya Nez”. Aku jadi teringat kalo aku juga kudu muasin om Zul. Lumayan tidur gak tau brapa lama bikin tubuhku rada

segeran. “Aku siram badan dulu ya om, biar tambah seger”. Aku masuk ke kamar mandi dan membilas badanku dibawah

shower air hangat, seger rasanya badan tersiram air hangay. aku sekalian aja keramas supaya ngantukku bener2 ilang.

Cukup lama aku membersihkan badanku, setelah selesai, ku lap rambut dengan anduk dan badanku dangan anduk laennya.

aku membungkus rambutkud engan anduk dan badan ku lilit dengan anduk satunya. Aku keluar kamar, kuliat om Zul sudah

menyediakan kopi dan teh anget. “Aku gak tau kamu suka minum apa Nez, makanya kubuatkan aja teh dan kopi. Blon

digulain, kamu yg gulain sendiri ya sesuai dengan takaran manis yang kamu suka. Kamu dah manis banget jadi jangan pake

gula banyak2”. Aku senyum aja mendengar candaannya. “Om lama ya nunggunya, om Idris gak puas2 si, sekarang om

Idrisnya mana”. “Dia tidur dikamar diatas, kamu minum aja, ni ada biskuit dimakan aja sambil dicelupin ke minuman anget,

enak kan”. Perhatian banget om Zul ke aku, padahal dia pasti dah naek ke otak nunggu gilirannya ngen totin aku berikutnya.
Aku makan biskuit dan minum kopi yang dah dia sediain dengan santai aja, biar aja dia makin menggebu nunggu akus iap

ngeladenin napsunya, tapi om Zul kliatan santai aja, gak kliatan lo gi naek ke otak napsunya.

Setelah selesai makan dan minum, aku berbaring diranjang, om Zul segera mengurai anduk yang melilit rambutku, di lapnya

lagi rambutku yang masi setengah basah, gak bisa sampe kering si, trus disisirinya rambutku pake jarinya, mesra banget si ni

om yang satu ini. Dia melepaskan anduk yang melilit badanku. Dia dengan cepat mencium bibirku, Lidahnya terus mendesak

masuk ke mulutku . Lidahnya bermain dalam mulutku, menyapu ke sana kemari , mengelitik mulutku . Lidahku pun ikut

bermain, birahiku meninggi lagi. Tangannya mulai meraba toketku, meremas pelan selembut mungkin . Tangan satunya

merabai pahaku. Memekku mulai terasa basah dan aku semakin bernapsu jadinya. Dia kemudian melumat pentilku, Lidahnya

terus bermain di pentilku. Toketku yang satunya mendapat sentuhan , rabaan , dan remasan lembut tangan kirinya. Birahiku

semakin meningkat . Dan sekarang tangannya membuka kakiku lebar , kepalanya mendekati slangkanganku . Hidungnya

menghirup aroma memekku. Matanya nanar menyaksikan memekku, belahannya masih terasa sempit dengan bulu jembut

halus yang tumbuh subur di bukit memekku . Dengan dua jarinya dia membelah bibir memekku dan menemukan itilku yang

merah, serta liang memekku yang tampak basah. Lidahnya pun menjulur , menjilati memekku sehingga aku mengerang,

menggeliat, ” aahh enak om…”. Lidahnya terus saja menyapu memekku . bergerak cepat di itilku yang terlihat semakin

tegang. Aku pun terus mengerang nikmat kerna Lidahnya semakin liar menyapu memekku.

Kontolnya sudah tegang sekali . Dia menyodorkan kontolnya ke mulutku. Aku meraba-raba kontolnya, kucium kepalanya,

kujilat, kugesekkan ke pipiku. Dia merem-melek karenanya. Kemudian batang kon tolnya kuremes dan kuarahkan ke mulutku

lalu kukulum. ”aahh Nez, enak…,” erangnya sambil meremasi rambut Cindyku. Kontolnya bergerak dalam mulut ku , maju

mundur . aku mencoba memasukkanya seluruh batang kon tolnya hingga menyodok di tenggorokan. Aku mengalami kesulitan

dengan ukuran kon tolnya, dan hampir tersedak untuk beberapa waktu. Dia rupanya dah gak bisa nahan napsunya, kon tolnya

dikluarkan dari mulutku.

Dia menaiki aku yang dah telentang diranjang, dia sudah bernafsu segera mengarahkan kon tolnya ke memekku. Kepala kon

tolnya menempel di liang memekku. Perlahan- lahan kont ol yang besar itu menyesaki ruang di liang memekku. aku mengigit

bibirku dan dia terus menekan , hingga kon tolnya mentok di dalam memekku. Perlahan dia menarik kon tolnya dari liang

memekku, aku mengerang, dia juga, “gila , enak bener memek kamu Nez”. Dia terus mengerakkan kon tolnya dalam

memekku. mulutnya langsung melumat pentilku lagi sambil terus menggenjot memekku, dia melakukan gigitan-gigitan ringan,

kadang dijilatinya pentilku yang tampak menonjol , mengeras itu . ”aahh om, aku gak kuat, enak banget,” erangku. Dia terus

bergerak , kon tolnya keluar masuk liang memekku yang dah basah. Tubuhku terus mengeliat saking nikmatnya . Rasa

orgasme semakin mendekati aku, ”aahh aku sudah hampir om.. terus.” erangku. om Zul yang sudah pengalaman dalam

bercinta , tahu aku segera orgasme , gerakan kon tolnya menjadi semakin liar , menghentak hentak dengan ganasnya. dan

akhirnya tubuhku mengejang. ”aahh aku keluar om..” erangku, lalu tubuhku mengejet beberapa kali . Dia memperlambat

gerakan kon tolnya , dan merasakan , ada getaran di dalam memekku. Liang memekku semakin basah lalu tak lama kemudian

dia merasa kon tolnya seperti terendam cairan yang hangat. Setelah beberapa saat , aku kembali mengerang. Saat dia

kembali mengerakan kon tolnya dengan cepat dalam liang memekku, cairan orgasme itu memperlancar keluar-masuknya kon

tolnya sehingga otomatis sodokannya pun semakin keras. aku terus mengerang selama hampir lima menit , sebelum akhirnya

dia menyemburkan pejunya dalam memekku. ” ohh .. enak banget Nez, ” dia melenguh . Lalu perlahan menarik keluar kon tol

besarnya, heran aku melihat kon tolnya masi ja ngaceng dengan kerasnya. Bersamaan dengan tercabutnya kon tolnya,

pejunya yang kental juga meleleh keluar dengan deras dari liang memekku.

om Zul langsung mendorong tubuh aku merangkak di ranjang dan memposisikan dirinya di belakang aku. Kupikir dia akan

memasuki aku dari belakang lagi, kayanya ketagihan masuk pantat juga ni om, ketularan om Idris kayanya. dia melebarkan

lubang pantatku dan menekan kepala kon tolnya yang besar membelah otot lubang pantatku yang rapat. aku menggelinjang

jadinya , dia mencengkeram dengan erat pinggulku sampai meninggalkan bekas di sana. Lalu dia mulai menekan masuk kon

tolnya membelah lubang pantatku. aku tak menyadarinya, tapi matanya terpejam rapat ketakutan, yang malah membuat om

Zul dan aku semakin bergairah. Pada akhirnya usahanya berhasil dan mendorong kepala kon tolnya masuk ke dalam lubang

pantatku. Dia terus mendorong sampai akhirnya batang kon tolnya masuk ke dalam lubang pantatku seluruhnya hingga

kantung biji pelernya menghantam itilku. Dengan kon tolnya yang sudah seluruhnya tertanam dalam lubang pantatku, dia

memegangi pinggulku dengan erat dan mulai bergerak mengayun kon tolnya keluar masuk. Gerakan mengayunnya membuat

suara aneh saat kantung biji pelernya menghantam itil dan memekku berulang-ulang. lubang pantatku melebar dengan rapat

mencengkeram batang kon tolnya. Setiap kali dia menarik kon tolnya keluar, lubang pantatku juga tertarik keluar. Mendadak

dia menyodok kon tolnya dengan sebuah hentakan keras sambil tangannya melebarkan bongkahan pantatku agar dia dapat

masuk sedalam mungkin. Tubuhku terus menggelinjang dibawah enjotan kon tolnya. Dengan sigap dia terus memegangi

pinggulku dan terus menggenjot lubang pantatku dengan ganas, sampai akhirnya dia mencapai orgasmenya sendiri. Dia

memuncratkan pejunya lagi kemudian jatuh terhempas di atas pantat aku. Pejunya muncrat masi banyak juga biar tadi dah

muncrat di memekku, sampe meleleh keluar dari lubang pantatku. Apalagi ketika dia mencabut kon tolnya, pejunya

membentuk lelehan panjang turun dari pantatku. dia tergeletak di sebelah aku, “Nikmat banget malem ini Nez…”

Author: 

Related Posts

Comments are closed.