Cerita Panas Rumble X Riot! – Part 21

Cerita Panas Rumble X Riot! – Part 21by on.Cerita Panas Rumble X Riot! – Part 21Rumble X Riot! – Part 21 EPISODE II SIDE STORY – Helena Pukulan demi pukulan kulesakkan ke samsak yang tergantung kuat. Peluh bercucuran, membasahi seluruh tubuh. Beberapa menetes ke lantai, membentuk genangan kecil. Aku tak peduli, terus kulesakkan tinju menghajar samsak yang bergoyang-goyang. Aku harus menjadi lebih kuat, apapun caranya! “Helen, istirahat dulu. Kamu ga […]

multixnxx-Milf, Black hair, Asian, Anal, Close up on-10 multixnxx-Milf, Black hair, Asian, Anal, Close up on-11Rumble X Riot! – Part 21

EPISODE II
SIDE STORY – Helena

Pukulan demi pukulan kulesakkan ke samsak yang tergantung kuat. Peluh bercucuran, membasahi seluruh tubuh. Beberapa menetes ke lantai, membentuk genangan kecil. Aku tak peduli, terus kulesakkan tinju menghajar samsak yang bergoyang-goyang. Aku harus menjadi lebih kuat, apapun caranya!

“Helen, istirahat dulu. Kamu ga akan mau drop dan terbaring di ranjang kan?”

Kutengok asal suara. Naga, duduk kelelahan di tepi arena. Nafasnya turun naik, tanda sedang meregenerasi stamina setelah sparring melawan anak buah Papa. Akhir-akhir ini dia kesulitan mengatur stamina. Salahnya sendiri, yang jarang latihan.

Aku tak mengindahkan kata-katanya, dan terus meninju samsak di depanku. Kausku sampai basah terkena keringat yang merembes dari seluruh pori-pori kulit. Jika aku capek melatih tinju, maka giliran kakiku yang menendang samsak. Terus begitu, sejak dua jam lalu.

Sejak aku tahu siapa Elang sesungguhnya, aku menyadari ada gap yang besar diantara kami. Elang terlahir sebagai petarung, dan gerak tubuhnya menyiratkan bukti dari tempaan latihan yang dijalaninya di masa lalu. Hal ini membuatku iri. Jika dia saja bisa membuat Kakakku kewalahan, bagaimana ketika aku melawannya? Memikirkannya saja, membuatku kesal.

“Helena! Istirahat dulu, kamu belum makan dari pagi!” teriak Naga padaku, tapi masih tak kugubris. Aku terlalu asik dengan samsak ini. Aku malah sudah bisa membayangkan samsak ini adalah Elang. Pukul disini, tendang sebelah sini. Harus-bisa-menang-dari-dia!

Tiba-tiba mataku berkunang-kunang. Samsaknya kenapa jadi banyak begini? Tubuhku juga limbung, seketika lemas seakan semua tenaga tadi menguap begitu saja. Loh, kenapa sekarang malah seisi gimnasium ini berputar?

Lalu semuanya berubah gelap.

***

Aku membuka mata, mengerjap beberapa kali sambil menunggu kesadaranku pulih. Kutengok kiri dan kanan, tampak para ajudan dan pelayan dirumah ini berkumpul mengelilingiku. Sementara Naga duduk disamping, mendesah lega ketika aku melihatnya. Dan baru kusadari, aku berada di ranjang kamarku sendiri.

“Kalian semua ngapain disini?” tanyaku penuh selidik, karena melihat kecemasan dari raut wajah mereka.

Naga tiba-tiba memukul pelan kepalaku. “Bego, kita semua khawatir sama kamu,” katanya, pelan. Lalu Naga menyodorkan sekaleng cairan isotonik padaku. “Minum dulu, kamu kekurangan banyak cairan. Tadi kamu pingsan, ya wajar sih kalau dilihat dari latihan kamu yang diforsir itu,” lanjutnya.

“Nona Helen hampir saja dibawa kerumah sakit,” ujar salah satu pelayan rumahku.

“Untunglah cuma kecapaian,” timpal yang lain.

Mereka, para pelayan rumahku ini, berlomba-lomba menanyakan keadaanku, apa yang kurasakan, atau sekedar berbagi saran. Meski aku jarang berkomunikasi dengan mereka, tapi mereka tetap peduli denganku; terlepas dari hubungan majikan dan pelayannya.

“Aku ga apa-apa, terima kasih sudah khawatir. Kalian boleh melanjutkan pekerjaan kalian sekarang,” kataku, lirih.

Selesai para pelayan dan ajudan pergi, tinggalah aku dan Naga. Dia tampak mengurut kening sesekali, lalu menatapku lekat.

“Saya mengerti jika kita berdua punya target yang sama. Saya juga ga mau dikalahkan begitu saja, tapi ga dengan memaksakan diri begini, Helena,” ujar Naga. Dia kemudian menggigit ibu jari, kebiasaannya kala sedang cemas. “Jika Papa tahu, semua bisa runyam. Dan bukan mustahil dia juga akan melenyapkan anak itu,” tambahnya.

“Jadi dengan mengirim Elang ke rumah sakit jiwa dianggap tindakan yang tepat untuk menyelamatkannya?”

Naga mengangguk. “Itu tindakan darurat. Beritanya menyebar cepat, dan sampai ke telinga Papa. Dia malah ingin segera membereskan anak itu, bahkan sebelum saya bisa membujuk Kepala Sekolah untuk memindahkan dia ke sekolah lain. Jujur, saya ga mau dia jadi ancaman buat kamu dengan terus ada di dekat kamu, tapi saya juga ga mau dia sampai kenapa-kenapa. Ah, kenapa kita jadi membahas anak itu. Segera ganti baju dan turun ke ruang makan, kita makan siang.”

Naga bangun lalu beranjak keluar kamar. Ketika dia berada di ambang pintu, aku teringat sesuatu.

“Kak, terus nasib Elang gimana?” tanyaku.

Naga tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaanku. “Sudah saya serahkan ke Kepala Sekolah sepenuhnya. Jangan khawatir, Kepala Sekolah punya banyak cara untuk melindungi murid-muridnya,” jawabnya.

Aku tersenyum lega. Syukurlah, dia baik-baik saja. Aku selalu takut jika Papa sudah ikut campur. Dia selalu punya cara-cara sadis untuk memuluskan langkah-langkahnya. Termasuk membunuh. Wataknya juga keras, terlebih hobi berselingkuhnya, tidak heran jika Mama memilih pergi darinya. Naga adalah salah satu contoh hasil dari perselingkuhan Papa. Waktu itu, Mama yang tak juga menghasilkan keturunan membuat Papa berselingkuh dengan seseorang yang kini jadi Mama tiriku. Lahirlah Naga, dan beberapa tahun setelah Naga lahir, disusul diriku.

Aku kemudian bangun dari ranjang, dan bercermin. Aku lalu menanggalkan seluruh pakaianku, dan kembali menghadap cermin. Buah dadaku mengecil, apa ini efek dari tubuhku yang jadi lebih kurus? Dan, duh… bekas-bekas luka ini mengganggu!

Tunggu, kenapa baru sekarang aku menganggapnya mengganggu? Bukannya selama ini aku tak mempermasalahkannya? Apa sekarang aku sudah lebih condong menjadi wanita seutuhnya? Euwh, tidak mungkin.

Setelah berganti baju, aku menuruni tangga. Disinilah aku berpapasan dengan Niel, dan tangan kanan Papa. Dia selalu rapi, dengan setelan jas yang melekat di tubuhnya. Pribadinya juga bersih dan maskulin, berbanding terbalik dengan pekerjaan-pekerjaan kotor yang dia lakukan untuk Papa.

“Selamat siang, Nona Helena,” Niel memberi salam sambil sedikit membungkuk. Salam formal.

Aku membalas salamnya, lalu melempar senyum kecil.

“Apa Tuan Rufio ada di ruangannya?” tanya Niel.

Aku mengangkat bahu. “Coba tengok sendiri. Permisi,” jawabku, singkat lalu cepat-cepat menuruni anak tangga.

Aku tidak suka berbicara lama dengannya, entahlah. Rasanya seperti ada aura tak enak terpancar darinya yang membuat orang-orang sekitarnya merasa tak nyaman. Mungkin aura itu muncul akibat dari efek samping pekerjaannya yang seorang pembunuh bayaran. Yap, Niel adalah seorang Assassin; yang terbaik di generasinya.

Aku tiba di ruang makan, disana sudah duduk Naga dan Mama tiriku, Jasmine. Mama tiriku tipikal yang irit senyum, bahkan ekspresi. Mungkin itu akibat dari mentalnya yang terpukul karena Papa memaksa Jasmine menggugurkan janin calon adikku dan Naga. Katanya, dua anak cukup. Karena kata-kata itu pula, Jasmine membenciku. Somehow, aku bisa merasakannya lewat tatapan mata tajam Jasmine.

“Kak, bisa ga aku gausah makan sebanyak ini?” protesku, ketika melihat banyaknya menu yang disajikan di meja makan.

“Udahlah, makan saja tanpa protes. Belum tentu mereka yang di jalanan sana bisa makan sebanyak ini,” kata Naga.

“Kalo gitu, kenapa kita ga coba masak untuk mereka yang dijalanan sana? Mereka juga pantes untuk makan kok,” timpalku lagi.

“Makan-saja-yang-tersaji-di-meja!” balas Naga, tegas. Dia kelihatan menyeramkan jika tegas begitu.

Jasmine berdehem, membuat kami berdua terdiam. “Sudahlah, Naga. Makan saja,” timpal Jasmine. “Dan Helena, memangnya kamu pikir kita sedang bakti sosial? Kita ini keluarga mafia, hidup dari tragedi orang lain. Apa kata keluarga cabang jika keluarga utama–”

Aku memotong, “tapi anggap aja kita berusaha menebus dosa-dosa kita karena–”

“Karena kita banyak melakukan pekerjaan ‘kotor’? Helena, kita bukan baju kotor yang dibawa ke laundry lantas jadi bersih kembali. Bahkan–”

“–Kenapa sih semua orang di keluarga ini ga punya hati?! Dan–”

“–DAN JANGAN MEMOTONG JIKA SAYA SEDANG BICARA! Apa ibu kandung kamu tidak mengajarkan itu dulu?”

Aku kaget. Bisa-bisanya wanita simpanan ini bicara begitu?! Dasar nenek tua, seharusnya dia sadar siapa dirinya disini! Jika saja, ah… sudahlah.

“Kak, selera makan aku hilang,” kataku, lalu menaruh sendok dan garpu di sisi piring. Aku lalu beranjak pergi, bermaksud menuju kamarku.

“Ya, seperti itu. Kabur saja seperti ibumu,” ejek Jasmine, lagi.

Aku terdiam. Ini sudah kelewatan, aku tak masalah jika dia ingin mengejekku sepuasnya, tapi jangan Mama! Aku kini menatapnya amat tajam, seakan ingin melahapnya bulat-bulat. Tanganku mengepal, begitu erat dan bisa kapan saja dilesakkan ke wajah tuanya.

“Like Mother, Like Daughter.”

Aku refleks menyapu apapun yang ada di meja makan. Piring makanku terlempar ke samping, dan tak sengaja mengenai salah satu pelayan kami. Lengannya tergores, dan dia meringis kesakitan sambil melihatku.

Cukup, aku tak tahan lagi!

Aku berlari menuju kamarku, menaiki anak tangga cepat-cepat. Ada bulir-bulir air mata mengumpul di pelupuk, tapi sekuat mungkin kutahan agar tak jatuh. Aku tak ingin dilihat menangis di depan orang lain.

Kukunci pintu kamar, dan menjatuhkan diri ke ranjang. Menangis sepuasnya, meski dalam benaman bantal. Aku berusaha menerima kenyataan bahwa Mama pergi, dan itu sudah menjadi keputusannya. Aku juga tak membenci Papa dengan sikap teganya, atau Jasmine yang selalu menunjukkan kebenciannya padaku, atau Naga yang kerap diagung-agungkan menjadi pewaris tahta Papa. Tidak, aku tidak membenci hal-hal yang tak bisa membahagiakanku. Tapi setidaknya bisakah mereka untuk menghargai perasaanku? Aku mungkin konyol, galak, susah diatur, jarang mau mendengarkan orang lain, tapi aku juga punya perasaan, sama seperti manusia lainnya. Aku juga bisa sakit hati kalau ada yang berkata jelek tentang Mama. Diatas semua itu, aku hanya ingin punya keluarga yang normal. Tanpa harus tertawa diatas mayat dan genangan darah orang lain. Tanpa harus membangun tangga kejayaan tapi menggunakan tengkorak orang lain. Hanya keluarga sederhana, tapi bahagia.

Aku hanya ingin punya kehidupan normal.

Tangisku makin menjadi-jadi. Tuhan, aku muak dengan semua ini. Aku benci memaksakkan diriku sendiri, bersikap dengan standar ketentuan yang mereka mau. Aku ingin jadi diriku sendiri, dan keluarga yang lengkap!

Hanya sesederhana itu, bisakah?

Aku tahu, aku hanya meminta pada ketiadaan. Sesuatu bernama Tuhan itu tak pernah ada. Jika Dia ada, maka Dia tak akan membiarkan orang jahat macam Papaku melenggang bebas di muka bumi. Tuhan hanya simbol spiritual tanpa imej nyata, tempat orang-orang yang pasrah akan cobaan hidup, meminta pada nurani. Dan lucu, aku menyalahkan segala sesuatunya pada hal yang bahkan kuanggap tak ada.

Sebersit bayang melintas di benakku. Elang.

“Kenapa… tiba… tiba…”

Aku menepuk kepalaku sendiri. Payah, apa bedanya aku dengan Papa? Jika Papa menggunakan orang lain untuk mewujudkan tujuannya, lalu dimana bedanya aku yang memanfaatkan Elang untuk membantuku mencapai ambisiku? Hanya karena ingin menunjukkan bahwa aku tak kalah dari Naga, aku sampai memanfaatkan dia. Dan di masa tersulitnya, aku malah kabur dan pergi. Lucu, manusia selalu melihat noda di tubuh orang lain, sekecil apapun itu, tapi tak sadar akan noda sendiri jika tak bercermin.

Disaat seperti ini, aku rindu Elang. Dia selalu saja bisa menepis rasa sedihku, kapanpun itu. Tingkah konyolnya, kepolosannya, sikap paniknya, segala gerak-geriknya memancing senyum. Aku memang menganggapnya saingan, sekarang. Tapi lebih dari itu, aku seperti menumpukan harapan padanya.

“Apa… bisa ketemu lagi, ya?” tanyaku, ragu-ragu.

Untuk ukuran orang yang rindu seseorang sehabis menangis, aku termasuk aneh. Ah, terserahlah.

Aku duduk pada ranjang, lalu menatap ke langit biru lewat jendela kaca. Berharap menemukan Tuhan di langit luas sana. Atau bahkan secuil dari jejaknya pun tak apa.

“Tuhan, jika besok Engkau mempertemukanku dengan seseorang yang kini memenuhi kepalaku, maka aku akan percaya kepada-Mu. Janji,” ujarku, sambil mengacungkan dua jari ke atas.

Entah kenapa, aku ingin percaya, meski sia-sia.

***

Aku merinding geli, kalau mengingat kenapa kemarin bisa menangis seperti itu. Duh, Helena jadi lemah, pasti mereka akan berpikir begitu jika tahu bahwa aku menangis seperti bayi.

Sekarang jam istirahat pertama. Aku terlalu banyak melamun tadi, jadi tak sempat titip makanan. Jadi harus turun ke kantin, duh… pasti penuh jam-jam begini.

Ini gara-gara cowok aneh dan psiko itu, yang tak juga pergi dari kepalaku. Tadi pagi aku teringat dirinya, sampai harus telat ke sekolah karena terlalu banyak… ehem, masturbasi. Bantal dikamarku sampai basah lepek, dan ah itu biar pelayan yang urus. Dan kenapa sampai sekarang aku masih tak bisa mengusir dia dari kepalaku?!

“Padahal dia tega sama aku loh, benturin kepala aku ke tembok gitu….”

Aku uring-uringan, dan mengeluh sendiri. Hal ini membuat Dira menghampiriku, dan menanyakan apa aku baik-baik saja. Apa aku kelihatan baik-baik saja? Aku krisis perasaan, Dira. Aku butuh Elang jadi rasa ini bisa kembali nyaman.

“Aku mau ke kantin aja ah,” ujarku, bersungut-sungut.

Dira yang melihat ada yang tak beres denganku, bertanya, “mau ditemenin ga? Keliatannya mengkhawatirkan gitu.”

“Gausah, aku mau sendiri….”

Aku berjalan gontai menuruni anak tangga, dan menyusuri koridor lantai dasar. Aku butuh moodbooster, tapi tak mau cowok lain. Aku mau Elang, si anak burung yang lucu imut psiko itu. Aaaarrgghh, aku benci fase ini!

Aku baru menyadari bahwa di depan sana, terlihat kerumunan siswa mengelilingi ruang Kepala Sekolah. Bagai magnet, hal ini membuatku ikut mencari tahu. Tapi sedetik kemudian, mereka menepi, minggir seketika. Seakan ada Ratu Inggris akan lewat.

Dan disinilah harapanku terkabul. Dia, keluar dari ruang Kepala Sekolah. Si anak burung lucu imut psiko itu, Elang. Dia sekarang lebih kurus, pipinya tirus. Duh, apa saja yang dilaluinya selama di tempat itu sih? Dia makan apa disana? Tidurnya dimana? Bergaulnya dengan siapa? Maaf ya Elang, mengirimmu ke Rumah Sakit Jiwa adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukan Naga untuk menghindarimu dari Papa.

“Tuh kan, dia kesini lagi! Aduh, mesti gimana…” aku bergumam sendiri.

Akhirnya, aku bersikap seperti orang tak kenal. Mau bagaimana lagi, aku gugup! Jika aku bersikap seperti biasa, apa yang mau aku bilang padanya? Elang, i miss you. I need you to fill the hole in this heart. I want you to know I’m falling in love with you. You’re the one blablablabla, waaaahhh! Aku tak akan sanggup bilang begitu!

Aku berjalan ke arahnya, tepatnya melewatinya. Aku membuang muka, dan dia juga begitu; sama-sama tak acuh satu sama lain. Saling memunggungi, dan aku mengerti kenapa dia begitu. Mungkin dia marah, bahkan benci padaku. Tak apa, aku biasa dibenci. Tapi, tetap saja rasanya sakit saat dia bersikap begitu padaku.

“Elang,” aku menggumam. “Aku kangen kamu,” lanjutku. Astaga! Aku bicara apa?! Tanpa sadar menggumam sendiri, bagaimana kalau dia dengar? Apa tak mustahil dia malah akan jijik padaku? Aduh Helen, tolol sekali kamu.

“Ya, kenapa Hel?” tanya Elang, dan ini spontan membuatku membalikkan badan. Menatapnya, lagi. Tapi sepertinya dia tak mendengar gumamanku yang ‘aku kangen kamu’ itu. Syukurlah.

“Engga, ga jadi. Bye,” balasku, sambil sedikit melambaikan tangan, lalu berlari tanpa sempat melihat responnya.

Sudahlah, kenyataan bahwa Elang masih ada di sekolah ini sudah cukup membuatku lega. Aku tak berharap dia mau akrab lagi denganku, aku bersyukur jika dia mau begitu. Dia masih ada disini, di tempat yang masih bisa kujangkau, itu cukup bagiku.

Aku menatap langit biru. Ada formasi awan yang berarak pelan, tertiup angin. Lalu formasi awan-awan itu membentuk satu wajah, seperti wajah kakek yang sedang tersenyum riang. Lalu aku teringat ucapanku kemarin, dan menghubungkannya dengan wajah riang di langit itu. Seakan, seperti menyiratkan ucapan ‘Sekarang kamu percaya pada-Ku?’

Aku mengangguk, lalu tersenyum lebar. Mengacungkan jempol tinggi-tinggi ke langit. “Makasih ya Tuhan, baik deh sama Helen!” ujarku, riang.

Suara-suara heboh tiba-tiba menggema. Aku melihat ke sumber kehebohan, dan melihat Elang berdiri di tengah lapangan. Dia sedang mengacungkan jari tengah, dan jika kuikuti arahnya maka… ups, pada kakakku.

Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum lebar. “Dasar jagoan karbitan, baru muncul lagi udah bikin heboh,” ujarku, pelan.

Aku lalu berlari riang menuju kantin. Pokoknya siang ini mau makan yang banyak. Aku mau makan mie goreng, lalu sosis bakar, ah ayam goreng juga! Mau minum susu, jus mangga, sama soda gembira.

“Ciyeeee Helen, mentang-mentang lagi gembira,” ledekku pada diri sendiri.

Entah kenapa, nafsu makanku kembali. Bersama dengan kebahagiaan yang membuncah ini.

SIDE STORY:
Helena – END

Author: 

Related Posts

Comments are closed.