Cerita Dewasa Once Upon A Time In Someplace – Part 23

Cerita Dewasa Once Upon A Time In Someplace – Part 23by on.Cerita Dewasa Once Upon A Time In Someplace – Part 23Once Upon A Time In Someplace – Part 23 Chapter XXIII : 3some Again Gavin side’s story : 3some Again Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku masih mondar-mandir di depan pintu kamar rawatku. Mbak Tika masih membeli makan sekalian mengantar Mbak Ina Dan Mbak Rani pulang. Sementara Mbak Lula pergi ikut rapat. Aku […]

tumblr_mjjp3zrS6X1rl5fsho1_540 tumblr_mjjp3zrS6X1rl5fsho2_1280Once Upon A Time In Someplace – Part 23

Chapter XXIII : 3some Again

Gavin side’s story : 3some Again

Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku masih mondar-mandir di depan pintu kamar rawatku. Mbak Tika masih membeli makan sekalian mengantar Mbak Ina Dan Mbak Rani pulang. Sementara Mbak Lula pergi ikut rapat. Aku masih memikirkan apa yang tadi kami perbincangkan, terutama apa yang tadi diceritakan Mbak Rani.

Selain itu aku juga masih memikirkan Elang, kenapa dia belum kembali dan tiada kabar darinya. Aku sudah mencoba untuk menghubunginya berkali-kali, tapi tidak menyambung. Aku jadi khawatir, apa terjadi sesuatu padanya ?. Sampai Mbak Tika pulang membeli makanan, aku masih mondar-mandir. Sampai Mbak Tika bertanya padaku.

“Vin, kamu kenapa sih ? dari tadi mondar-mandir saja. Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan.”

“Tidak apa-apa Mbak. Aku hanya masih memikirkan hal yang tadi kita bicarakan. Selain itu aku masih menunggu Elang. Dia orang yang telah menolongku yang kini telah aku anggap sebagai saudara. Dia belum kembali dari tadi sore. Bahkan teleponku tidak diangkat. Aku takut terjadi sesuatu padanya.”

“Sudah makan dulu, habis itu minum obatnya. Mbak yakin dia tidak apa-apa. Kamu harus banyak istirahat, agar kebugaranmu pulih sepenuhnya.”

Akupun menuruti saran Mbak tika untuk makan dan minum obat. Sebenarnya aku merasa sudah sehat sepenuhnya. Tapi aku ingin benar-benar fit agar segera bertindak untuk kembali menyelidiki kematian Om Gian. Sambil makan kami mengobrol dan menonton tv.

Saat itu jam sembilan malam, salah satu tv sedang menayangkan berita. Saat itu aku merasa tidak asing dengan wajah pembaca berita di tv itu. “Mbak, apa mbak tidak merasa bahwa pembaca berita itu mirip Mbak Rani ?” tanyaku pada Mbak Tika.

“Lho..! Diakan memang Rani, Vin. Kamu baru tahu ya ? Tadi dari sini dia langsung berangkat ke Stasiun tv. Di jalan tadi dia bilang, kalau tidak ada kerjaan dia mau menemaniku di sini”

“Pantes.., tadi waktu dia di sini aku merasa pernah melihatnya. Tapi aslinya lebih cantik dari yang di tv ya. Di tv kelihatan jauh lebih tua dari aslinya. Jadi wajar aku tidak mengenalinya.”

“Ya iyalah. Waktu bekerja dia dituntut untuk selalu kelihatan sopan, formal dan serius. Hingga terlihat lebih tua. Sedang di luar pekerjaan, ya bebas. Seperti tadi, penampilannya seperti masih remaja.”

Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan Mbak Tika. Mataku masih memandang ke layar tv yang masih menayangkan berita yang dibawakan Mbak Rani. Aku tidak menyangka bahwa pembaca berita itu Mbak Rani. Orang yang beberapa jam lalu bercanda denganku.

Setelah acara itu berakhir pikiranku kembali ke masalah Elang yang belum menghubungiku sampai saat ini. Jarum jam sudah menunjukan pukul sepuluh lebih. Bahkan Mbak Tika yang berusaha mengalihkan perhatianku dari masalah itu juga tidak berhasil. Dia sudah berganti pakaian tidur yang disaat suasana normal pasti akan menarik perhatianku.

Dia coba menggodaku, tapi aku diam saja yang membuat dia sedikit cemberut hingga tidak menggangguku lagi beberapa saat. Sampai ketika kekhawatiranku menjadi sirna saat Elang menghubungiku. “Maaf, Vin. Aku ada urusan penting, hingga tidak sempat menghubungimu. Kini urusannya sudah selesai. Tapi aku tidak bisa kembali ke rumah sakit malam ini. Apa semuanya baik-baik saja di sana.” tanyanya.

“Ya, tidak apa-apa Lang. Disini tidak ada masalah. Kau tidak perlu khawatirkan aku. Disini ada saudara yang menemaniku.”

“Ok, Selamat malam. Oh ya, satu dua hari kita mungkin bisa santai.”

“Ya, Selamat malam juga. Maksudnya…” Aku belum sempat melanjutkan pertanyaanku, karena saat itu Elang sudah menutup teleponnya.

Aku menghampiri Mbak Tika yang masih melihat Tv. “Belum tidur Mbak ?” tanyaku sambil duduk di sebelahnya.

“Memang kamu lihat Mbak sedang apa ?” jawabnya ketus.

“Wah…! Ngambek ya ?” godaku.

“Ngaaak !”

“Kok cemberut gitu. hati-hati lho Mbak !”

“Memang kenapa ?”

“Nanti cantiknya bisa hilang .”

“Biariiin… !”

“Benar ?”

“Yaaa…, buat apa cantik kalau tidak ada yang perhatian !”

“Siapa bilang tidak ada yang perhatian ? Ini buktinya saya memperhatikan Mbak. Saya minta maaf, kalau tadi saya tidak terlalu perhatian pada Mbak”

Mbak Tika diam membisu, seolah tidak mendengar permintaan maafku. Tampaknya dia benar-benar marah. Aku lalu memegangi kepalaku dan pura-pura mengaduh, “Aduuuh… ah.. ah..”

“Kenapa Viiin..?” tanya Mbak Tika dengan khawatir.

“Tidak apa-apa Mbak, aku merasa sakit kalau Mbak marah padaku.” kataku menggoda.

“Huh.. dasar kamu ini, bikin Mbak sport jantung saja. Ya sudah, Mbak maafkan. Tapi..”

“Tapi apa Mbak …!” jawabku cepat.

Mulutnya tersenyum kemudian berkata, “Sudah lama kita kan tidak bertemu, kamu pasti tahukan maksud Mbak ?”

“Ehh…, sekarang Mbak, disini ?”

“Iya, kenapa ? kamu pikir Mbak tidak tahu apa yang dilakukan Bu Dokter itu disini !”

Aku hanya bisa tersenyum malu. “Mbak kok bisa tahu, memangnya dia mengatakannya pada Mbak ?”

“Ya ngaklah Gavin sayaaang..! Ini hanya naluri wanita. Dan Mbak juga berani taruhan, Ina juga pasti sudah pernah merasakan senjatamu. Mbak rasa Ina dan Dokter Lula juga pasti sama tahu apa yang terjadi pada kita.”

“Mbak tidak marah dengan semua ini ?”

“Kalau bisa sih Mbak mau marah, tapi apa Mbak punya hak untuk hal itu. Lagi pula orang sepertimu itu tidak bisa dilarang. Nanti biar kamu sendiri yang menghentikannya. satu lagi, wanita yang kamu kencani juga pasti orang sembarangan. Jadi kita semuanya aman.”

“Iya Mbak, aku sadar bahwa aku ini orang yang belum bisa setia kepada satu wanita. Tapi aku yakin suatu saat aku pasti bisa melakukannya.”

“Vin, bagaimana permainan Bu Dokter itu ?” tanya Mbak Tika tiba-tiba.

“Gimana ya, Mbak !”

“Sudah ceritakan saja, pakai malu-malu lagi. Mbak hanya ingin tahu.”

“Bukan begitu Mbak, aku baru kali ini melakukannya dengan Mbak Lula. Lagi pula tadi buru-buru Mbak jadi aku belum tahu keistimewaannya.”

“Pertama kali ya, pasti saat ini dia sedang gelisah ingin merasakannya lagi.”

“Dari mana Mbak tahu ?”

“Pengalaman, Vin.” jawab Mbak Tika tanpa menyebutkan maksudnya. Mbak Tika kemudian menggelendot manja di pelukanku. untuk beberapa saat kami sama-sama diam. Sesaat kemudian Mbak Tika berkata, “Vin, Mbak jadi horny. Karena membayangkan pertempuranmu dengan dokter itu Mbak jadi ingin melihat langsung. Kamu mau mengabulkan permintaan Mbak ?”

“Maksud Mbak ! Mbak ingin melihat kami bercinta di depan Mbak, atau kita bermain bertiga ?”

“Ya itu maksudnya ?”

Aku memandang Mbak Tika untuk memastikan keseriusannya. “Tapi apa dia mau Mbak ?” ujarku ragu.

“Mungkin pertama dia akan menolaknya, tapi nanti setelah terjadi dia akan menerimanya. Sudah telepon dia, bilang padanya kamu minta ditemanai. Dia pasti akan mau. Percayalah pada Mbak.”

Akupun menuruti permintaan Mbak Tika. Tapi saat aku meneleponya ternyata tidak dijawab. Tiga kali juga tidak dijawab. Mungkin dia sudah pulang pikirku. Mbak Tika hanya mengangkat bahunya, saat aku utarakan pikiranku. Tapi sebelum aku meletakkan kembali ponsel itu, tiba-tiba ada panggilan masuk. Tertera nama Mbak Lula dilayar ponsel. Aku segera menjawab panggilan itu.

Mbak Lula minta maaf karena tadi masih di ruang rapat, kemudian bertanya ada apa aku menelepo. Kujawab sesuai dengan apa yang tadi kami rencanakan. Tanpa berpikir lama Mbak Lula menyetujui permintaaanku. Dia akan segera ketempatku begitu rapat selesai.

Begitu aku menutup telepon Mbak Tika berkata “Benarkan apa yang Mbak bilang. Ayo kita bersiap-siap” Setelah itu Mbak Tika mengatakan rencananya. Aku hanya tersenyum mndengar rencana jahil dari Mbak Tika.

@@@@@

Jam sebelas malam kurang lima menit saat kudengar suara pintu diketuk. Aku segera memberi kode Mbak Tika, ketika tahu bahwa yang datang adalah Mbak Lula. Setelah Mbak Tika berpura-pura tidur, aku segera membuka pintu.

Mbak Lula telah menganti pakaiannya. Sekarang dia memakai blouse ketat lengan panjang berwarna biru muda, dengan kancing dibagian depan. Tercium bau harum yang membangkitkan gairah saat dia melangkah masuk. Aku segera menutup pintu dan menguncinya. Sementara Mbak Lula berhenti melangkah saat melihat Mbak Tika berbaring di tempat tidur. Dia menoleh ke arahku dan berkata, “Mbak pikir kamu minta ditemani karena tidak ada orang, itu ada Mbak Tika,” Ucapnya setengah berbisik.

“Tapi aku ingin ditemani Mbak juga.” Sambil berkata seperti itu aku memeluknya dari belakang kemudian kucium pipi Mbak Lula. Mbak Lula mungkin mengira aku hanya akan mengecup pipinya saja, namun tanganku segera membalikkan badannya kearahku dan kembali memeluknya erat, menciumi bibirnya. Mbak Lula mencoba menghindar, tapi aku cuek saja, tanganku juga mulai meremas payudaranya.

“Vin…, apa-apaan sih kamu …?”

“Mbak, Gavin mau lagi. Tadi belum puas karena terburu-buru.”

“Iya… Mbak ngerti, Mbak juga belum merasa puas dan ingin lagi. Tapi ga enaklah, kan ada Mbak Tika mu…”

“Ahh… tidak apa-apa Mbak, Mbak Tika sudah tidur. Lagi pula kalau dia tahu juga tidak mengapa. Tidak ada yang perlu dirahasiakan, kita sudah sama-sama tahu semuanya.”

Walau Mbak Lula sedikit menolak karena merasa sungkan ada Mbak Tika, aku tidak menyerah. Aku mulai menciumi lehernya, tanganku mulai menerobos bajunya dan meremas-remas payudaranya di balik Bra nya dengan gemas. Saat merasakan penolakan Mbak Lula mulai melemah, maka tanganku yang satu lagi mulai membuka kancing bajunya, kini tampaklah payudara besarnya yang terbungkus Bra warna merah muda.

Walau sudah pernah melihatnya, tapi pemandangan ini tetap mempesona diriku. Biar lebih leluasa, maka segera kubuka bajunya, kini dia hanya mengenakan Bra di bagian atas tubuhnya. Aku remas dan mainkan payudaranya dengan gemas, tanganku menyusup ke balik Bra nya, memilin dan mengelus putingnya. Putingnya kurasakan mulai membesar dan mengeras, pertanda Mbak Lula juga mulai terangsang.

Aku menjadi semakin bersemangat, kucari kaitan Bra nya, kulepas dan kini Mbak Lula sudah bertelanjang dada. Kudorong badan Mbak Lula agak menyandar ke sofa, segera payudara besar itu kulumat habis dengan mulutku dan lidahku. Kini tanganku mulai bergerilya di balik roknya, kurasakan dari balik celana dalamnya, vagina Mbak Lula mulai basah. Sedikit kuturunkan celana dalam itu sampai ke paha Mbak Lula. Kini jariku segera memainkan vagina Mbak Lula.

Cepat sekali kurasakan vagina Mbak Lula basah, rupanya Mbak Lula juga sudah horny. Dan dia menginginkan lagi permainan ini. Tampaknya apa yang dikatakan Mbak Tika adalah suatu kebenaran. Jariku mulai memainkan klitorisnya sesekali juga menusuk lobang vaginanya. Bibirku dengan rakus menciumi wajah, leher, dan payudara Mbak Lula, lalu lengan Mbak Lula agak aku angkat, aku ciumi ketiaknya. Mbak Lula yang tampaknya baru membersihkan diri menjadikan aroma parfum dan sabun bercampur, sehingga menimbulkan aroma tubuh yang enak sekali, menambah naik nafsuku.

Tangan Mbak Lula menurunkan celanaku. Kemudian mulai mengurut-urut penisku, jemari halusnya terasa nyaman saat memainkan penisku. Dengan jari jempolnya mengelus kepala penisku, dan empat jari lainnya mengocok batangku, nikmat sekali. Puas menggerayangi dan menciumi Mbak Lula, akupun segera melepaskan rok dan celana dalam Mbak Lula. Mbak Lula duduk di sofa, kakinya dilebarkan.

Aku segera berjongkok dan mengarahkan mulutku ke vaginanya, lidahku langsung membombardir vagina Mbak Lula, lubang vaginanya kujilat dan kusodok-sodok dengan ujung lidahku, klitorisnya menerima jilatanku yang penuh nafsu, Mbak Lula hanya bisa meremas-remas rambutku dan mendesah penuh kenikmatan. Aku terus saja memainkan klitoris Mbak Lula, belum lagi jariku dengan aktif menyodok-nyodok lubang vaginanya, makin kelojotan saja Mbak Lula dengan aksiku. Tak lama Mbak Lula mengejang, lalu orgasme.

Baru saja aku melepas lidahku dari klitorisnya, Mbak Lula segera menarikku, dan menyuruhku berbaring di sofa. Tanpa basa-basi lagi, dia langsung melumat penisku dengan mulutnya, tampak bernafsu sekali, habis penis dan bijiku, dijilat, dihisap dan dikulumnya, sepertinya Mbak Lula dahaga sekali dengan penisku ini.

Aku biarkan Mbak Lula memainkan penisku, sementara mataku menatap ke ranjang. Mbak Tika kulihat sedang duduk menyaksikan kami, dia nampak bermain dengan dirinya sendiri. Jari tangannya sibuk memainkan vagina dan klitorisnya, membuat nafsuku jadi ikut naik.
Sabar dulu Mbak Tika, aku tahu Mbak sudah lama menginginkan permainan ini, tapi sekarang jatah buat Mbak Lula dahulu.

Segera kuhentikan kegiatan Mbak Lula mengoral penisku, kubaringkan Mbak Lula di sofa. Kemudian aku segera menindihnya, Mbak Lula melebarkan kakinya, memberi kemudahan bagi penisku saat menerobos lubang vaginanya yang sudah sangat basah karena nafsu. Kupompa penisku dengan cepat, dan sedalam mungkin, mulutku tidak ada hentinya menciumi bibir, payudara dan puting Mbak Lula bergantian. Kami berdua bermain dengan panas memenuhi nafsu yang membuncah.

Mbak Lula mendesah dan mengerang dengan penuh kenikmatan, tangannya yang memeluk punggungku, kurasakan sangat kuat. Pompaan penisku terdengar sangat jelas di dalam lobang vagina Mbak Lula, semakin menambah sensasi dan kenikmatan kami. Mbak Lula mulai mengerang dan mengejang, cairan hangat menyembur dari vaginanya, tapi tak menghentikan gerakanku, justru semakin menambah gairahku.

Tiba-tiba kurasakan ada lidah yang bermain di biji dan lubang pantatku, nampaknya Mbak Tika juga sudah gerah melihat permainan kami, dan ikut bergabung. “Gila…. enak sekali rasanya,” saat aku memompa vagina Mbak Lula, biji dan lubang pantatku dijilati dengan ganas dan bergairah oleh Mbak Tika, wow … Nampaknya karena kenikmatan yang bertubi-tubi menghampiri, peniskupun mendekati klimaksnya, segera kukerahkan sodokan terakhirku sepenuh tenaga dan, “Crootttt….. croooott……..” spermaku menyembur kuat dalam lobang vagina Mbak Lula. Aku terkulai lemas …..mencabut penisku, dengan badan masih menindih Mbak Lula.

“Kamu ganas sekali, Vin…”

“Iya, soalnya tadi sore aku belum puas menikmati vagina Mbak….”

“Iya, Mbak juga….”

Nampaknya kini Mbak Lula menyadari, Mbak Tika ada di dekatku dan sedang menjilati sisa sperma di penisku. Mbak Lula agak kaget, dan sepertinya merasa tidak nyaman. Mbak Lula kemudian berkata…

“Vin, Mbak Lula mandi dulu yah…”

“Jangan dong Mbak, Gavin masih belum puas…”

“Kan ada Mbak Tika, kamu kan bisa puasin sama dia. Kalau kamu kurang sama Mbak, kita bisa lanjut kapan-kapan.”

“Nggak ah… Gavin mau Mbak Lula tetap di sini, juga Mbak Tika, kita bisa main bertiga …”

“Kamu ini aneh-aneh saja ah, Vin. Mbak nggak mau…”

“Kenapa… Mbak ???”

“Malu, Vin …”

“Malu …??? Yang ada di sini cuma kita bertiga, malu sama siapa …??? Mbak Tika… Mbak malu nggak …???” tanyaku pada Mbak Tika.

“Nggak Vin, malah sebenarnya Mbak memang sudah lama berfantasi melakukan seks bertiga seperti ini. Cuma bingung mau main sama siapa, kalau sama kamu dan satu wanita yang kamu mau, Mbak mau dan nggak merasa risih …”

“Tuh Mbak Lula dengar kan …”

“Iya Vin, tapi Mbak …”

“Sudah ah, Mbak Lula ikutin dan bikin santai saja. Nanti lama-lama Mbak juga bakalan menikmatinya.”

Baru saja aku selesai bicara, kulihat Mbak Lula agak mendesah. Rupanya Mbak Tika, sedang menggarap klitoris Mbak Lula. Aku segera berdiri dan mengarahkan penisku yang sudah kembali mengeras ke mulut Mbak Lula, minta dikulum lagi. Mbak Lula nampaknya tidak bisa menolak lagi dengan situasi yang ada, mulutnya segera mengulum penisku yang berdiri di sampingnya. Sementara Mbak Tika menjilati klitoris Mbak Lula. Aku sangat terangsang melihat pemandangan ini, kurasakan penisku sangat keras dalam mulut Mbak Lula. Tanganku kini sibuk meremas-remas dan memainkan payudara besar Mbak Lula.

“Aghhh…. awwww… aduhhhhh… teruuush…”

“Oooohhh….. ughh… yesss… yesss….”

“Tikh… Tiikhaa… ennaaakkkk…. ughh… ssshhhh…”

Mbak Lula nampaknya sangat menikmati permainan lidah Mbak Tika pada klitorisnya, dan benar saja… tak lama kemudian Mbak Lulapun orgasme. Aku segera melepas penisku dari mulut Mbak Lula… dan memberi kode Mbak Tika supaya berdiri, Mbak Lula masih telentang di sofa, kakinya mengangkang dengan vagina yang sudah merah karena menerima hantaman kenikmatan, namun aku berniat menambahnya, toh Mbak Lula sudah lama menginginkan permainan ini.

Maka tanpa banyak komentar kembali kuhantamkan penisku ke vagina Mbak Lula, Mbak Lula mendesah nikmat. Sementara Mbak Tika berjalan ke ujung sofa, naik dan berdiri tepat di atas muka Mbak Lula, kemudian menungging, kini vaginanya di atas muka Mbak Lula, sementara wajahnya berhadapan denganku. Mungkin Mbak Lula masih bingung dengan apa yang harus dilakukan…, karena belum pernah melakukan permainan threesome.

“Mbak, jilat klitorisku juga dong…”

Mbak Tika segera merendahkan pinggulnya, mengarahkan vaginanya ke mulut Mbak Lula, kulihat Mbak Lula mulai menjilat vagina Mbak Tika dan memainkannya. Aku segera mencium bibir Mbak Tika, dengan tanganku meremas-remas payudara Mbak Tika. Kini gantian Mbak Tika yang juga mendesah keenakan, sementara Mbak Lula terus memainkan klitoris Mbak Tika.

Ciuman Mbak Tika semakin panas seiring dengan makin intensifnya jilatan Mbak Lula pada klitorisnya. Aku semakin semangat memompa penisku dalam vagina Mbak Lula. Tubuh kami bertiga sudah berkeringat, namun semangat dan gairah kami sudah terbakar dengan sempurna. Tak berapa lama Mbak Tika juga mengejang dan orgasme.

Aku segera mencabut penisku dari lobang vagina Mbak Lula, kemudian Mbak Lula dan Mbak Tika kusuruh duduk di sofa panjang berdampingan, pasrah dengan kaki mengangkang siap menerima sodokan penisku pada vagina mereka. Kali ini gilirannya Mbak Tika, segera kuhujamkan penisku ke lubang vaginanya. Mbak Tika menjerit nikmat. Segera aku beraksi memulai memompa, sementara tanganku bergantian meremas-remas payudara besar milik Mbak Lula dan Mbak Tika.

Mbak Tika juga memulai inisiatif mencium Mbak Lula, Ugh… panas sekali melihatnya saat Mbak Lula berciuman dengan Mbak Tika, saling memainkan bibir dan lidah. Kadang-kadang aku juga ikut mencium mereka bergantian. Mulutku juga sesekali menciumi payudara mereka berdua, sensasional sekali nikmatnya, pompaanku dalam vagina Mbak Tika semakin kuat, rupanya Mbak Tika tidak tahan lagi dan menyemburkan orgasmenya.

Kucabut penisku dan segera kuarahkan ke vagina Mbak Lula, kini gantian aku memompa Mbak Lula. Sementara tangan Mbak Tika kembali memainkan klitorisnya sendiri. Mbak Lula membantu dengan meremas-remas payudara Mbak Tika, rupanya Mbak Lula mulai pandai berthreesome. Aku mencium Mbak Lula sambil meneruskan memompa penisku, gairah kami bertiga saat itu benar-benar amat tinggi.

“Yesss… yess… ahhhhh….”

“Teruuusss… Vin….”

“Oooohhh…… ooohh…. auuwwww …”

Mbak Lula ribut sekali, Tampaknya dia benar-benar kehausan selama ini. Membuat vaginanya sangat kangen saat bertemu dengan penisku, akupun tidak mau setengah-setengah memompakan penisku. Pinggul Mbak Lula ikut bergoyang mengimbangi dan menambah rasa enak. Tangannya terangkat ke atas meremas payudaranya sendiri, yang menambah rangsangan. Sodokanku makin kuat saja. Tidak lama Mbak Lula mulai menunjukkan gejala mau orgasme lagi, aku menjadi semakin bernafsu, dan akhirnya Mbak Lula orgasme diiringi desahan kuat. Sementara kulihat Mbak Tika masih sibuk bermain dengan klitorisnya.

“Sudah Vin, sana kamu ke Mbak Tika, Mbak Lula sudah capek, dari tadi kamu hajar habis-habisan, itu kasihan Mbak Tika, kamu selesaikan sama Mbak Tika ya… !!!”

Mbak Lula lalu hanya menyelonjor di sofa, aku segera menuju Mbak Tika. Kubuat posisinya menungging, dan aku sodok vaginanya dari belakang, kali ini aku bergerak dangan amat cepat, karena aku juga sudah mulai lelah, sambil menungging, kedua tangan Mbak Tika kutarik ke belakang, tapi tidak kuat, hanya sebagai pegangan. vaginanya sudah sangat basah, entah berapa banyak kenikmatan yang dia dapat, tapi tetap saja mau lagi dan lagi.

Penisku kini sudah mendekati batas maksimum, segera kulepas tangan Mbak Tika, kutinggikan tubuhnya sedikit, kini tanganku memeluk erat payudaranya, dan dengan desahan kuat aku lakukan sodokan terakhirku, keluarlah spermaku dengan kuat membasahi liang vaginanya. Kami terdiam sesaat. Lalu aku segera mencabut penisku. Puas, nikmat, dan lelah menjadi satu.

“Aghh… nikmat dan puas banget, Vin.”

“Kamu hebat Vin, Mbak senag sekali.”

“Mbak… bagaimana dengan Mbak Lula…”

“Kan kamu bisa lihat, Mbak sampai kehabisan tenaga…”

“Bagaimana, enak kan main bertiga… ?”

“Iya sih… tapi Mbak melakukan semuanya cuma demi kamu. Dan hanya sesekali saja ya… !”

“Jadi ceritanya Mbak Lula suka juga nih… ?”

“Ahhh, dasar nakal kamu, Vin…”

“Mbak juga sama Vin, cuma demi kamu. Tapi sebenarnya keuntungan juga buat kita-kita. Kita jadi mampu menahan seranganmu yang seperti tidak habis-habis. Ya, ngak Mbak,” ucap Mbak Tika, sambil memandang ke arah Mbak Lula.

“Oke… Gavin senang karena bisa main bersama Mbak Lula dan Mbak Tika, dan juga memuaskan Mbak berdua. Mungkin kapan-kapan kita perlu ajak Mbak Ina dan Mbak Rani, biar tugas Mbak berdua lebih ringan lagi…,” Ujarku, sambil tersenyum, mengoda mereka. Yang langsung disambut dengan senyum cemberut dari dua orang wanita di depanku.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.