Cerita Sex Istriku Dikuasai Bosku – Part 8

Cerita Sex Istriku Dikuasai Bosku – Part 8by on.Cerita Sex Istriku Dikuasai Bosku – Part 8Istriku Dikuasai Bosku – Part 8 6) PERTANDINGAN SEPAKBOLA Setelah cindy selesai mandi dan mengeringkan badannya, Jack merogoh tasnya dan memberikan Cindy pakaian. Pakaian tersebut baru, bukan pakaian yang dibawa dan dimiliki Cindy. Ternyata pakaian tersebut baru dibeli Jack bersama-sama dengan pakaian dalam yang tadi malam dikenakan Cindy. Cindy tidak memerhatikan pakaian tersebut, dia langsung […]

multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-10 (3) multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-10 (2) multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-10 (1)

Istriku Dikuasai Bosku – Part 8

6) PERTANDINGAN SEPAKBOLA

Setelah cindy selesai mandi dan mengeringkan badannya, Jack merogoh tasnya dan memberikan Cindy pakaian. Pakaian tersebut baru, bukan pakaian yang dibawa dan dimiliki Cindy. Ternyata pakaian tersebut baru dibeli Jack bersama-sama dengan pakaian dalam yang tadi malam dikenakan Cindy. Cindy tidak memerhatikan pakaian tersebut, dia langsung pergi ke kloset untuk segera menutupi tubuhnya . Sekilas menurutku pakaiannya terlalu kecil.

Cindy keluar dari kloset mengenakan rok putih yang sangat tipis dan ketat, hampir-hampir tidak bisa menutupi pantatnya. Bajunya yang berwarna pink juga sangat tipis dan ketat sampai kelihatannya bisa sobek sewaktu-waktu terlebih dibagian dadanya yang tertekan membuat payudara istriku kelihatan menggembung. Ada logo klub sepakbola dari daerah tersebut di kausnya.

Bh Cindy yang berwarna orange terang kelihatan menerawang bahkan tali bhnya sesekali keluar dari kaosnya. Bhnya jenis yang hanya berbentuk separuh dibagian bawahnya saja, ditambah dengan bh tersebut mengangkat payudara istriku sehingga kelihatan seperti payudaranya akan meloncat keluar. Cindy beul-betul kelihatan seperti wanita yang biasa mangkal di pinggir jalan.

“Aku beli kaus itu di toko dekat hotel.,” kata Jack.

“Jack,mana celana dalamku,” kata Cindy, memberitahuku bahwa dia ternyata tidak mengenakan apa-apa dibagian bawah badannya.
“tidak pake celana dalam-celana dalaman sekarang.”

Di dalam mobil, kami tidak tahu kemana Jack akan membawa kami sampai di perempatan lampu merah dia berkata, “saya sudah bilang belum kalau kita mau nonton bola malam ini?”

“belum,” aku dan Cindy menjawab bersamaan, tapi aku tahu Jack hanya berbasa-basi menanyakannya.

“Ya, kita cuma bisa dapat tiket ekonomi gara-gara banyak orang. Pertandingannya mungkin kurang seru tapi yang penting rame-ramenya.”

“banyak orang?, rame-rame? ” tanyaku.

“Oh, Randy dan Billy ikut nonton. Mereka juga ngajak teman-teman mereka. Juga anak buah mereka.”

Kami sampai di parkiran stadion dan mendapat tempat parkir yang jauh dari stadiun kemudian segera mencari kelompoknya Randy dan Billy. Selagi kami mencari-cari Billy dan Randy diantara kumpulan suporter , Cindy menjadi pusat perhatian dan mendapat siulan dan godaan dari gerombolan suporter yang melihatnya.

Akhirnya kami menemukan Randy dan Billy sedang menunggu kami bersama beberapa teman dan anak buah mereka. Teman Billy dan Randy sama-sama berumuran kira-kira pertengahan 30an dan memiliki kesamaan fisik dengan mereka dikarenakan ternyata berasal dari daerah yang sama. Kemudian dua asisten Billy dan Randy yang kelihatannya baru lulus sma. Mereka semua laki-laki, tidak ada perempuannya. Billy, Randy dan kumpulannya yang membelikan tiket, sebagai imbalannya supaya imbang Cindy yang menjadi hiburannya. Para pria tersebut tidak bisa melepaskan mata mereka dari Cindy seakan menelanjanginya. Aku menduga-duga apakah Billy dan Randy sudah menceritakan kepada semuanya kalau mereka baru saja menikmati istriku. Bagaimanapun, kami sudah booking tiket malam ini dan aku tahu Jack ada rapat penting besok jadi aku yakin tidak ada kesempatan untuk berbuat gila malam ini. Kami hanya menonton pertandingan dan langsung ke bandara.

Sebagai selingan sebelum masuk stadion, mereka mengajak Cindy bermain bola sebentar. Ketika Cindy fokus pada bola, mereka mencolek-colek tubuhnya sembunyi-sembunyi. Ketika istriku mengejar bola, mereka menikmati suguhan belahan dada Cindy yang memantul-mantul diatas bh orangenya. Mereka sengaja meminta Cindy melempar bolanya daripada menendangnya supaya bisa melihat Cindy membungkukkan badannya. Kalau bolanya di kaki Cindy mereka berlarian kearahnya berpura-pura hendak merebut bolanya sambil menggerayangi tubuhnya. Akhirnya Cindy kelihatan pasrah saja menerima sentuhan-sentuhan nakal mereka.

Walaupun banyak kumpulan suporter lain disekitar situ, beberapanya wanita dan juga pihak keamanan, tapi Billy berani menepuk pantat Cindy sambil kulihat Randy memegang payudara Cindy. Suporter pria disekitar sana ikut tertawa melihat Randy memasukkan jari tengahnya ke belahan dada Cindy dan menggosok-gosokkannya disana.

Aku dan Jack masih berbusana pantai dan Jack menyuruhku mengambil pakaian baru dari tas di mobil. Sekali lagi aku benci meninggalkan Cindy sendiri walaupun ditengah keramaian. Aku menoleh kearahnya sebelum pergi.

“jangan khawatir,” kataJack. “kujamin vaginanya tetap aman sementara ini.”

Ketika aku berjalan kembali kulihat kulihat Cindy tidak ada di kumpulan kami, aku cemas Jack berbohong. Setelah mencari-cari aku melihat Cindy berada diantara dua kendaraan besar berjenis SUV yang parkir berdekatan. Badannya menyandar di salah satu SUV, Randy dan salah satu temannya bergantian menciumi bibirnya sembari memegang-megang payudaranya diatas bhnya dan mengesek-gesek vaginanya yang tidak tertutupi apa-apa. Jack berdiri berjaga-jaga dekat kendaraan tersebut. Aku hanya bisa menatap dalam diam. Walaupun Cindy memang aman tidak disetubuhi, kelihatannya Jack menggunakan istriku untuk menghibur para suporter dengan mengijinkan mereka bergantian satu-satu atau sekaligus berdua menikmati bibir istriku dan memegang-megang tubuhnya.

Setelah Jack merasa cukup, kamipun bubar dan memasuki stadiun. Cindy duduk dekat dengan jalan, Jack disebelahnya. Randy dan Billy dibaris tepat dibawah Jack dan Cindy. Dan aku duduk bersama anak buah Randy dan Billy dibaris dibawahnya lagi. Yang lainnya duduk disekitaran kami.

Hal pertama yang kuperhatikan dengan jelas banyak laki-laki yang sudah bernafsu di bagian kami dikarenakan kelakuan Jack tadi, yang kedua semuanya memperhatikan semua tingkah laku Cindy. Yang ketiga tentu saja Cindy semakin gugup karena harus menjaga vaginanya agar tidak kelihatan selagi dia mencoba duduk dengan roknya yang pendek dan ketat.

Semakin banyak suporter yang mulai mengisi stadion ketika kulihat Jack membisikkan sesuatu ke Cindy sambil matanya melirik kearah kakinya. Kulihat raut muka Cindy terkejut tapi pelan-pelan mengangkangkan kakinya. Dari dua baris dibawah ditempatku duduk, aku bisa lihat rambut kemaluannya dengan jelas dibawah roknya. Kemudian aku bisa membaca bibir Jack dengan jelas ketika dia berkata “lebih lebar,” ke Cindy, dan istriku mengangkangkan lebih lebar. Kaki kirinya bahkan berada di tangga tmpat orang naik turun dan kaki kanannya berdempetan dengan Jack. Sekarang bukan hanya rambut kemaluannya yang kelihatan, sampai bibir vaginanya terlihat jelas olehku begitu juga gundukan vaginanya dan selangkangannya.

Aku memandang cemas kebawah melihat penonton yang naik dan melihat Cindy. Belahan dada Cindy dan kakinya yang menjulur keluar ke tangga yang pertama-tama menarik perhatian mereka, tapi mata mereka semakin melotot setelah melihat vagina istriku yang terekspos secara vulgar .

Penonton yang duduk pun mengetahui hal tersebut dikarenakan berita itu tersebar dari mulut-ke mulut dan semakin banyak penonton yang memalingkan wajahnya untuk menikmati keindahan vagina Cindy.

Setelah pertandingan dimulai, Jack sengaja berulangkali menyuruh Cindy untuk sesuatu. Entah membeli cemilan, kemudian minuman, rokok dsb tetapi menyuruhnya menghampiri penjualnya bukannya memanggil si penjual. Setiap kali Cindy naik atau turun tangga semua kepala menoleh ke arahnya untuk melihat guncangan belahan dadanya dan goyangan pantatnya. Hampir semuanya mengetahui Cindy tidak mengenakan celana dalam dan beberapa pria berjongkok dibelakangnya ketika dia naik untuk melihat kebawah roknya. Kelihatannya mereka berhasil mengintip vagina Cindy kelihatan dari ekspresi mereka yang puas. Bahkan ada penjual semakin mendekat dan sengaja duduk di tangga di sebelah Cindy sambil melirik-lirik roknya.

Pertandingannya berjalan membosankan. Skornya pun masih kacamata. Tapi tribun kami rame bukan dikarenakan cuaca yg hangat atau suporter yg fanatik tapi dikarenakan Cindy. Aku tidak tahu berapa orang yang sudah melihat vagina Cindy tapi mungkin jumlahnya lebih banyak dari yang melihatnya di pantai tadi sore.

Setelah pertandingan berjalan kurang lebih satu jam, penonton ditribun kami lebih banyak memperhatikan Cindy daripada menonton pertandingan. tribun kami semakin riuh rendah menyoraki Cindy yang berjalan kesana kemari. Bahkan beberapa dari mereka sengaja meremas pantat Cindy membuatnya hampir menjatuhkan belanjaannya..

Selama pertandingan, Billy dan Randy dan asisten mereka berbalik badan mengajak ngobrol Cindy sambil memelototi vaginanya. Ketika pertandingan akan berakhir, Billy berkata, “Cindy, yang menarik dari pertandingan ini hanya kamu.”

“Cindy, pertandingannya membosankan,” kata Randy. “Coba kamu pamerkan dadamu supaya rame?”

Cindy tidak menjawab pertanyaan tidak senonoh itu. Tapi kedua asisten mereka, yang masih muda, horny mendengar keinginan bos mereka berteriak, “Ya, Buka bajunya! Pamerin dadanya!”

Kemudian mereka berteriak seirama, “Buka! Buka!”

Billy dan Randy mengikuti.

Tidak lama, hampir semua deretan dibawah dan diseberang kami ikut-ikutan bersorak. Melihat tingkah laku Cindy mereka yakin kalau Cindy adalah wanita penggoda yang eksibisionis.

“Buka! Buka!”

Akhirnya orang-orang di bagian lain mulai menoleh untuk melihat ada kejadian apa.

Cindy kelihatan malu sekali mendengar koor melecehkan tersebut, tapi tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya duduk disana menahan malu.

Ketika teriakannya semakin keras, Jack mengatakan sesuatu di telinga Cindy. Kuliat mulutnya menganga terkejut menatap Jack dan menggelengkan kepalanya.

Tapi semua keinginan Jack harus dipenuhi dan Cindy mengerti hal itu. Ketika Jack menyuruhnya berdiri, Cindy pun berdiri.

Dia menatap kerumunan penonton yang semakin berisik melihat target mereka berdiri.

Cindy dengan mata sayu memegang bagian bawah bajunya dan mengangkatnya. Teriakan penonton semakin keras. Tapi ketika sampai pada bhnya Cindy menurunkan bajunya kembali. Penonton merasa kurang puas, begitu juga Jack. Penonton meneriakkan “huu” sebentar kemudian kembali meneriakkan “Buka! Buka!”

Melihat tatapan Jack, Cindy mengerti apa yang harus dilakukan dan seperti mendapat pesan bahwa dia harus melakukannya. Cindy kembali mengangkat bajunya tetapi kali ini cup bhnya ikut diangkat. Payudaranya tertumpah keluar dan tergantung bergoyang-goyang dengan Cindy memegang baju dan bhnya diatas dadanya.

Kerumunan penonton berteriak keras sekali, paling keras selama pertandingan tersebut. Semua orang di tribun kami berdiri. Barisan dibelakangnya, kiri, kanan dan sampai kebawah. Mungkin ada lebih seribuan orang memandangi istriku yang sedang memamerkan payudaranya yang besar ke seluruh penonton. Aku yakin Jack kemudian meneriakkan sesuatu karena kulihat Cindy mulai memalingkan badannya kekiri kekanan mempertontonkan payudaranya lebih jelas dan menggoyangkan badannya untuk membuat payudaranya terguncang-guncang. Kerumunan penonton menyambutnya dengan teriakan-teriakan yang semakin memekakkan telinga.

Cindy tersenyum, mungkin atas perintah Jack bahkan berteriak “Wooooo!” Tapi dimataku jelas kulihat wajahnya ketakutan dan tangannya yang memegang baju dan bhnya gemetaran.

Kulihat banyak hp ditujukan ke Cindy dan beberapa pria berlari naik atau turun agar bisa memoto dengan lebih dekat. Melihat semakin banyak yang berlarian Jack akhirnya menyuruh Cindy menurunkan bajunya dan duduk kembali. Cindy mengusap sedikit air mata diiujung matanya sambil memakai kembali bh dan bajunya.

Penonton mulai tenang kembali ketika dua orang dengan badan besar dan jaket kuning naik tangga kearah kami. Ternyata mereka sekuriti dan mereka mengincar Cindy.

Mereka memerintah Cindy untuk mengikuti mereka. Jack berdiri mencoba berbicara dengan mereka tapi mereka tidak megindahkannya. Salah satu dari mereka memegang lengan Cindy dan menuntunnya turun tangga dibarengi teriakan huu dari para penggemar baru Cindy..

Jack turun mengikuti Cindy, membawakan tasnya. Akupun mengikuti kebawah tribun. Dua orang sekuriti tersebut membawa kami ke pos sekuriti.

Dalam ruangan yang mengintimidasi, salah seorang sekuriti berkata, “Kami akan menahannya sementara sebelum polisi datang yang akan menahan dengan tuduhan menganggu ketertiban umum.”

“Ayolah, pak, dia hanya bersenang-senang. Dia tidak menyakiti siapapun.” Bela Jack.

“Anda suaminya?” tanya sekuriti kedua.

“Bukan,” kataku, “Saya suaminya.”

Jack mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar ratusan ribu. “Saya rasa kita bisa melupakan semuanya dan memberinya sekedar peringatan..”

Kedua sekuriti tersebut saling menatap memikirkan sesuatu. Aku tidak yakin apakah mereka akan mengambil uang tersebut atau ikut menahan Jack..

“Tidak bisa,” kata sekuriti pertama.

Tapi Jack yang tidak biasa ditolak membalas. “Bagaimana kalau…” dia diam sebentar, menurunkan suaranya. “bagaimana kalau dia memberi kalian pertunjukan pribadi?”

“maksudmu dia mau memamerkan dadanya ke kita?”tanya sekuriti kedua.

“Ya, itu maksud saya. Kalian dapat menikmati tontonan payudaranya dengan jelas. DAN uangnya tetap saya kasih. Habis itu lepaskan kami.”

Kedua penjaga tersebut memandangi Cindy yang memakai pakaian seperti wanita jalanan, kemudian saling menatap, dan kembali memandang Cindy, dan kembali lagi saling menatap.

“Baiklah,”kata sekuriti yang pertama. “kasih liat barangnya.”

Jack mengangguk ke arah Cindy. Cindy menarik nafas panjang,menghembuskannya kemudian dengan patuh mengulangi kejadian didalam stadion tadi. Dia mengangkat baju sekalian bhnya dan payudaranya menjadi tontonan sekuriti yang ternganga-ngangga.

Tetapi kedua sekuriti tersebut ternyata tidak puas dengan hanya melihat. Sekuriti pertama memegang payudara kanan Cindy. Ketika Jack, Cindy maupun aku tidak ada yang protes, sekuriti kedua ikut memegang payudar kiri istriku dan meremas-remasnya.

Kami berlima berada di ruang sekuriti dibawah lampu yang remang-remang dengan dua orang sekuriti dengan kasar memainkan payudara istriku. Sekuriti pertama kemudian meletakkan tangannya yang bebas dibawah rok Cindy dan mulai mengelus vaginanya. Sekuriti kedua meremas-remas pantatnya membuat roknya terangkat memperlihatkan vagina dan pantatnya dengan jelas dan gerayangan tangan-tangan tersebut.

Aku bertanya-tanya sampai kapan mereka puas ketika kulihat sekuriti kedua berdiri dibelakang Cindy dan mengeluarkan penisnya. Sebelum kami sempat bereaksi dia sudah menghujamkan penisnya kedalam vagina Cindy dari belakang. Dia mendorong badan Cindy kedepan dan menyetubuhinya dengan cepat.

Sekuriti pertama tidak mau ketinggalan segera mengeluarkan penisnya dan dengan Cindy membungkuk dengan kedua tangannya di lututnya, Sekuriti tersebut membuka jaketnya dan memasukkan penisnya ke mulut Cindy.

Cindy berpegangan pada pinggang pria didepannya sementara dia membungkuk mengulum penisnya sambil digauli dari belakang. Kemudian pria dibelakang Cindy mengangkat Cindy berdiri, membaliknya dan mengangkat sambil mengepaskan penisnya di vagina Cindy dan kembali menyetubuhinya dengan memegang pantat Cindy.

Tidak mau kalah, sekuriti satunya berdiri dibelakang Cindy dan mulai memasukkan penisnya ke lubang pantat Cindy. Istriku sekarang seperti melayang diantara dua pria berbadan besar yang satu menyetubuhi vaginanya dan yang lain memerkosa pantatnya.

Bahkan Jack kagum melihat tenaga mereka. Cindy merintih merasakan badannya naik turun diatas kedua penis mereka. Mereka berdua menggenjot dengan cepat memanfaatkan momen saat ini yang pasti tidak akan terulang. Cindy menggeliat dan kepalanya terlempar kesana kemari , tangannya memeluk pria didepannya.

Pria yang menghujam vaginanya orgasme duluan diikuti tak lama kemudian pria yang menyodok pantatnya. Mereka kemudian melempar Cindy kearahku . Mereka memakai celana dan jaket kuning mereka dan berkata, “Ok, keluar. Langsung keluar stadion keparkiran dan jangan kembali lagi.”

Kami bergegas keluar pos sekuriti dan mencari pintu keluar menuju kendaraan kami dan segera menuju bandara.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.