Cerita Sex Goodbye, My Stupid School – Part 23

Cerita Sex Goodbye, My Stupid School – Part 23by on.Cerita Sex Goodbye, My Stupid School – Part 23Goodbye, My Stupid School – Part 23 Gerry duduk di kursi favoritnya di pojok kafetaria DNS. Di seberangnya, tampak Faruk melahap sepiring mie goreng telor dengan penuh semangat. Berbeda dengan kompatriot playboy-nya, pemuda bertampang cute-face itu terdiam lesu menerawang jauh seakan tengah berada di alam lain. Hampir lima menit kesadaran Gerry cut off dengan lingkungan […]

multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-3 (1) multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-3 multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-4 (1)Goodbye, My Stupid School – Part 23

Gerry duduk di kursi favoritnya di pojok kafetaria DNS. Di seberangnya, tampak Faruk melahap sepiring mie goreng telor dengan penuh semangat. Berbeda dengan kompatriot playboy-nya, pemuda bertampang cute-face itu terdiam lesu menerawang jauh seakan tengah berada di alam lain. Hampir lima menit kesadaran Gerry cut off dengan lingkungan sekitar, hingga suara kerubukan dalam perut, mengingatkannya bahwa ia lapar. Namun ajaib. Piring batagornya yang beberapa saat lalu masih menggumpal utuh, kini tinggal setengah.

Far! Brengsek lo! Bayar empat ribu!

Lah, kok?

Faruk menghentikan suapannya, menatap Gerry tanpa dosa.

Lo nyolong batagor gua, kan? Harga setengahnya empat ribu! sergah Gerry menggeram.

Beberapa detik Faruk cepat-cepat mengunyah makanan dalam gumpalan pipinya sambil mengacungkan jari. Setelah isi mulutnya kosong, barulah ia berbicara.

Yang makan batagor lo tadi ya elo sendiri, goblok! Lo gak nyadar, emang?

Gerry tesentak. Matanya membeliak lebar. Kedua tangannya seketika mengangkat keatas tutupi mulut ekspresikan rasa tak percaya, persis gadis-gadis anime histeris.

Well, Gerry memang bukan banci. Tapi, kegiatannya melakukan crossdressing acap kali ada event cosplay atau Jejepangan, suka tak suka sedikit mempengaruhi jiwanya.

Suka tak suka, ekspresi marah Faruk pun berubah kasihan.

S-serius lo? tanya Gerry takut-takut.

Serius, Manis, Faruk mendesah. Ia tarik selembar tisu di atas meja lalu mengelap pipi Gerry yang belepotan bumbu kacang.

Monyet! plak! Tepisan tangan Gerry serta merta membuat tisu tersebut melayang. Kali ini, kembali bergestur lebih macho. Ahh, gue ngerti sekarang. Jadi, selama ini elo kan yang jailin gue? SMS-SMS-in gue dengan puisi-puisi aneh gak penting! Lelaki berkulit mulus itu melanjutkan kata-katanya dengan wajah penuh keyakinan, menunjuk-nunjuk Faruk memakai garpu.

Faruk melongo. Melongo sejadi-jadinya tak mengerti.

M-maksud lo?

Hahahaha, celetukan tawa Gerry bergetar menakutkan. Sudahlah, akui saja, Angel Interceptor! tuduhnya seraya mengambil ponsel dari saku. Ia tunjukan layarnya di depan muka Faruk setelah menekan-nekannya sesaat.

Faruk pun meraih benda itu, melihatnya.

Cinta bisa datang, bisa pergi.
Namun aku hadir bersama ketulusan hati.
Tersenyumlah Gerry. Aku yakin kamu bisa bersinar, tanpa Snowy. 🙂

<3 Angel Interceptor <3 Maaf Gerry, aku tahu selama ini kalau aku sering menyakitimu. Kamu mungkin membenci aku. Tapi izinkanlah Sang Waktu untuk kita berbicara Aku tunggu di balkon atas gedung dua, pulang sekolah 🙂

<3 Angel Interceptor <3 Gerry, kamu nggak dateng 🙁
Padahal, aku menunggu kamu, hingga langit menghitam curahkan tangisnya.
Besok, ya tempat dan waktu yang sama. <3 <3 Angel Interceptor <3 Gerry, where are you? 🙁 🙁 🙁
With true friends, even water drunk together is sweet enough.
Aku selalu ada di sini, kok, hampir tiap hari pulang sekolah .
Datanglah suatu saat kalau kau mau, karena aku pun kesepian, ingin berbagi denganmu 🙂

<3 Angel Interceptor <3 A-apa? Faruk tercekat. Tajam matanya serta merta berkilat-kilat penuh kegairahan. Karena ia tahu pasti, siapakah Angel Interceptor sebenarnya! So begitu cepat aku dicap terpidana hanya karena gara-gara mengelap pipi kenyalmu, Sherlock? Faruk menyunggingkan senyum. Sebuah senyum misterius disertai tatapan menusuk tajam. Bahu Gerry terangkat. Siapa lagi? Cuma elo kan yang dari dulu napsu nusbol gue? Sering ngeremes-remes pantat gue kalo gue lagi crossdressing? ELO kali, yang ngebet banget pengen ditusbol! Buktinya, gue grepe lo diem aja! Pake gigit-gigit bibir so imut segala, pula! Faruk meninggikan ucapanya, tanpa sadar membuat adik-adik kelas di sekeliling meja mereka cekikikan. Well, sesungguhnya, ya. Pernah ada bisikan setan di hati Faruk untuk bertindak gila menggagahi serta menodai Gerry. In Ghea form, tentu saja. Karena Ghea manis sekali. Dan Faruk, seorang maniak seks kambuhan yang penasaran akan segala hal. Tapi, tidak. Otak Faruk masih lurus. Ia tak ingin menjerumuskan sahabatnya sendiri. Ehm, saran gue, datangilah Angel fuckin Interceptor ini, Ger. Percayalah, hidup lo akan segera berubah. Berubah sejatinya! Jangan biarkan Ghea menggerogoti kejantananmu, Buddy. Jangan. lanjutnya menurunkan intonasi, menepuk-nepuk pundak Gerry dengan hati berdebar. Emang, l-lo tau siapa orang gila ini? B-beneran ini cewek? tanya Gerry menjinak, mulai goyah keyakinan prasangkanya. Yep. Perempuan idaman sejuta lelaki. Si Galau bertopeng keangkuhan. Ups Faruk merogoh kantong jaketnya. Kali ini, ponselnya yang bersuara. From : MyPrincessForever Faruuk 🙁
I need you
Astrid marah besar, Faruk. Aku skrg ada di seke klub LIT dalem perpustakaan.
Ini semua salah aku. Aku memang bodoh. Maafin aku T_T
Aku butuh kamu, Honeeey T_T

Lelaki itu berusaha tenang saat menaruh selembar uang dua puluh ribuan di atas meja, sebelum ia buru-buru pergi. Pada Gerry, ia berbisik. Ambil kembaliannya, Ger. Gue ada urusan bentar. See ya!

.

Gerry tercenung.

Ada lima menit ia kembali terdiam sembari menopang dagu oleh remasan kedua tangannya.

Dhira.

Faruk sekarang telah menjadi milik Dhira.

Ia sadar, Faruk pasti dipanggil oleh Dhira.

Hanya belaian angin lembut dari kipas angin kafetarialah yang kini menemani Gerry.

Baru kali ini Gerry merasa begitu kesepian. Setelah Snowy, lalu Faruk.

Meja ini, meja spesial sarat kenangan ini, yang biasanya ditempati oleh tiga manusia ceria, kini bersisa seorang. Semua meninggalkannya. Demi cinta.

.

Well, I think, everybody has choose their on way. Everybody change. Everybody move.

And, me?

Angel Interceptor. Who the hell is She?

# 5

Goodbye, Traitor. Welcome Princess

Step 1 : A Hug

Tabir wajah telah terbelah

Tautan hati yang erat mengikat lama kini rapuh berserakan

Apakah kau yang memang munafik,

Atau aku, yang tak tulus mengarungi persahabatan ini?

Entahlah.

Pergi jalani kebahagiaanmu sendiri, Dhira.

Kali ini, aku tak bisa berbagi. Tak bisa turut berbahagia.

Maaf, PURA-PURA turut berbahagia.

Akhirnya.

A-Astrid d-dengerin dulu. I-iya, aku minta maaf. Aku ngaku sal

DIAM! SIAPA SURUH KAMU POTONG OMONGAN AKU, HAH! MO ALESAN APA LAGI KAMU, DHIRA! pekik Astrid sembari menggebrak meja tempat Dhira tertunduk pasrah.

Di dalam kelas XII-D yang telah kosong, hanya diisi ia dan Dhira, mantan Ketua OSIS DNS itu membelalaki sahabatnya oleh sorot penuh amarah. Sepanjang hampir sembilan tahun persahabatannya dengan sang Gadis, belum pernah Astrid membentak sekeras ini. Tak kentara, Astrid memang mengambil peran dominan dalam pertemanannya bersama Dhira. Namun, marah bukanlah cara ia berinteraksi. Astrid sungguh menyayangi Dhira. Kata-kata tegasnya, ocehan-ocehan menasehati sok dewasanya, wanti-wanti sarat nuansa paranoidnya, semata-mata hanyalah untuk melindungi si Bocah Pemimpi. Astrid cuma tak ingin Dhira terperosok, itu saja. Sama sekali tak ada niatan membatasi sahabatnya. Dhira adalah gadis yang baik. Yang tulus. Astrid sadar betul itu. Namun

Namun, detik ini beda.

Tak ada tatap kasih sayang seharusnya. Hanya terpancar mimik kejijikan di wajah Astrid menatap sahabatnya. Apalagi, setelah Dhira bercerita jujur mengenai petualangan-nya bersama Faruk. Bahwa ia sering menyerahkan tubuhnya pada Faruk. Membiarkan bajingan kurang ajar tersebut merendahkan kehormatannya sebagai perempuan, hanya karena alasan yang paling tidak masuk akal. Cinta.

Dhira yang malang dan terlampau tulus, ingin menghentikan segala kebohongannya pada Astrid. Berharap Astrid bisa menerima Faruk dan berdamai dengan sang Lelaki. Dhira berusaha meyakinkan, bahwa Faruk sebenarnya adalah lelaki yang baik. Tapi, sayang, hanya makian sarat rasa benci yang timbul sebagai respon di hati gadis itu.

Jalang. Jalang bener-bener gak nyangka, Dhira ternyata serendah ini! Bisa-bisanya aku punya sahabat seorang MURAHAN!

“Jadi, selama ini kamu pasang muka munafik di depan aku, hah? Pura-pura sok setia kawan ama aku? Ngebenci Faruk? Padahal, diem-diem kamu sering BERZINA ama DIA??!” Astrid kembali meradang.

“B-bukan gitu, Astrid… a-aku”

Aku gak nyangka, Dhira, Kepala Astrid menggeleng. Muak. Jijik. Ingin muntah. “D-dasar pelacur… a-aku nggak nyangka… ternyata, k-kamu perempuan gak punya harga diri,

T-tapi Faruk ga pernah memperlakukan aku s-seperti itu, Astrid! Dhira mencoba berbicara. Pelan. Selalu, siswi berkacamata itu bersuara lebih lembut dari sahabatnya. Namun, kali ini ia tak tahu harus berucap apa lagi. D-Dia nggak seburuk yang kamu bayangin. D-Dia laki-laki impian aku. Aku sayang banget ama dia. Dan aku yakin, Faruk juga sayang sama aku.

BRAKKK!

“APA KAMU BILANG? SAYANG? UDAH BERAPA KALI FARUK MENODAI LUBANG KEMALUAN KOTOR KAMU ITU, HAH? BERAPA? BERAPA KALI DIA CABULIN TUBUH MURAHAN KAMU?” teriak Astrid merentet sedikit lepas kendali.

And finito. Untaian kata-kata memang lebih tajam daripada pedang.

Dhira tersentak. Ia berdiri balas menggebrak meja. Meletup tak tertahan gejolak amarahnya menyengat keras nurani. Patut disayangkan, satu detik ia kehilangan kendali, ayunan tangan pun melayang dengan keras.

PLAKKKK!

Dhira menampar Astrid. Keras sekali. Mungkin, cukup tepat disebut gamparan, karena jemari tangannya mengepal dan Astrid pun kontan terhuyung jatuh terduduk di atas lantai.

.

.

kesunyian serta merta menyeruak. Astrid membelalak. Wajah galaknya yang tak henti mengintimidasi Dhira kini berubah menjadi paras menahan tangis. Bola matanya menggetar berkilau kaca-kaca. Ekspresi shock nan sangat mendalam terpancar di muka siswi cerdas penderita broken home itu.

A-Astrid?

Tak beda dengan sahabatnya, guratan raut keterkejutan pun membias di sekujur wajah Dhira.

“A-ASTRID! M-MAAFIN AKU! AKU GAK BERMAKSUD”

Udalah, Dhira a-aku emang gak pantes lagi jadi sahabat kamu. Dari dulu, a-aku emang selalu bikin hidup kamu susah. M-maksa bikin hidup kamu sial seperti hidup aku. bisik Astrid dengan nada gemetar.

Dhira berusaha maju dan membantu Astrid yang terjatuh. Namun, uluran tangan itu segera dingin ditepisnya.

Astrid, p-please tadi aku gak sengaj

K-kamu selalu dapet apa yang kamu impikan, Dhira. K-kamu punya segalanya yang aku gak punya. Berlinangan air mata kini mulai turun membasahi pipi Astrid. K-keluarga bahagia, sosok papa penuh kasih sayang, teman-teman riuh ceria yang selalu membuatmu tertawa,

Dhira mundur, selangkah, perlahan-lahan menutupi mulutnya. Sungguh, tak mengerti dengan isakan kata-kata yang mengalir dari mulut sahabatnya! Sembilan tahun bersama, baru kali ini

S-sedangkan aku a-aku gak punya temen. C-cuma kamu. T-tapi kamu bahagia dan a-aku s-selalu membawa beban hidup, Astrid menarik napas sejenak, berusaha menenangkan dadanya yang berguncang-guncang pilu menangis.

Dhira meledak. Air matanya pun turut menetes. ASTRID! KAMU BICARA APA, SAYANG? AKU GAK NGERTI! pekiknya berlutut hendak memeluk Astrid. Namun, gadis itu serta merta bangkit berdiri dan berbalik lari meninggalkan kelas, menjauhi Dhira.

T-terima kasih buat segalanya, D-Dhira. Maaf kalo aku selama ini nyusahin hidup kamu.

BRAKK!

Pintu terbanting.

ASTRID TUNGGU!

Dhira pun buru-buru melesat mengejar Astrid. Namun, Astrid terus berlari acuh tak peduli, seakan ingin menghilang dari wajah teman kecilnya.

Astriiiid please m-maafin aku, Sayang! jerit Dhira terengah.

Pergi! Pergilah, Dhira. Tinggalkan aku! Tinggalkan sahabat munafik yang kerap memendam iri atas segala kebahagiaan yang kamu miliki ini! Astrid berteriak membalas dalam hati.

Hanya bisa menghindar pilu siswi yang kini hidup sendiri ditinggal sang Mama bekerja ke Inggris itu berlari meninggalkan sahabatnya. Ia berlari. Berlari. Dan, tak henti berlari. Setelah pecah lepas kendali menguakkan rahasia isi hati kecilnya pada Dhira, tentu saja Astrid tak mampu lagi menampilkan mukanya di depan sang Gadis.

Astrid terus berkelok-kelok menyusuri koridor-koridor sekolah membawa tangisnya. Percuma ia sembunyikan. Toh, semua pun pasti akan tahu apa yang terjadi.

Ia sadar, Dhira tak menyerah mengejarnya. Bahkan, ketika kaki mungilnya tiba menginjak aspal hitam di pelataran parkir samping sekolah pun Astrid masih bisa merasakan kehadiran Dhira di belakangnya.

Astriiid! M-maafin aku, Astrid! Maafin aku udah gak jujur ama kamuuu! Berkelebat suara teriakan campur tangis dari kejauhan.

Ya, dibohongin emang sakit. Tentang Faruk, sebagai sahabat dekat, tentu saja perih rasanya tak dipercaya menjadi teman bicara. Ditipu mentah-mentah.

Tapi kamu juga tahu semua juga tahu, kan, kalo aku benci banget ama Faruk?

Aku ngerti, Dhira. Aku ngerti. Buat apa cerita-cerita ama aku yang cuma bisa menghalang-halangi impian kamu? Meremukkan angan-angan cinta kamu bersama Faruk?

Di tengah-tengah barisan kendaraan yang terparkir rapi, Astrid tercekat. Sesaat, gadis itu terdiam, tak tahu akan berlari ke mana lagi. Ia tak membawa mobil. Namun, lamat-lamat ia melihat sebuah BMW silver seri M3 bergerak mundur keluar dari deretan parkir.

Cheska!

Astriiid huk huk huk,

Astrid mendapati tubuhnya didekap dari belakang oleh sebuah pelukan hangat. Ia ganas meronta. Tanpa melihat ke belakang, ditangkisnya pelukan tersebut. Cepat-cepat ia menghampiri mobil Cheska dan langsung mengetuk-ngetuk pintu depan kirinya.

Chess buka pintunya, plisss.

Cheska sontak membuka pintu mobilnya dengan sigap, menatap Astrid yang menangis tutupi muka di jok sebelahnya penuh keheranan. Tapi, ia tetap lanjut menyetir, melajukan kendaraannya keluar area sekolah.

Setelah berjalan agak jauh dan Astrid mulai tenang, Cheska pun serta merta menepikan kendaraannya ke samping jalan. Teduh, di bawah pepohonan.

Trid ada apa, sih, kamu ama Dhira? Cerita ama aku! sergah siswi bermata kucing itu mengguncang-guncang bahu Astrid.

Astrid perlahan menoleh. Ia menarik napas. Dilihatnya Cheska yang biasa sehari-harinya bertampang acuh dan bersorot tengil itu memancarkan rona wajah berbeda. Pancaran raut khawatir seorang teman, yang baru pertama kali Astrid liat sepanjang hidupnya, sepanjang dirinya mengenal gadis itu.

Seketika, Astrid pun kembali menangis. Terisak di pelukan Cheska. Menceritakan segalanya. Semua. Debu-debu di dalam lubuk hatinya.

Hari ini, ia benar-benar kacau. Sebetulnya, ia tak bermaksud bertingkah seterbuka ini di depan Cheska. Amit-amit, dan sungguh memalukan. Namun semua di luar kendali. Terlepas begitu saja. Spontan. Hari ini, Astrid sungguh benar-benar tak berdaya. Tak ubahnya layangan putus.

Cheska terpejam. Memeluk sahabat barunya dengan tulus.

Relax, Honey relax kamu bisa cerita apa aja ama aku. Anything. Gadis itu lembut membelai rambut Astrid, yang minggu lalu baru saja dipotong pendek sebahu. Anyway, youre our fourth unicornm rite? Aku, Sherry ama Giztha, akan selalu ada di sampingmu. Tenang aja.

Astrid terdiam. Membisu. Ia tak menjawab, atau pun berkomentar atas perkataan Cheska. Sebulir air mata mengalir indah terjatuh di pipi gadis itu.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.