Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 15

Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 15by on.Cerita Sex Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 15Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 15 15. Cinta Lama Belum Kelar ~~~oOo~~~ “Anita…” Dari pertama membuka mata subuh tadi, nama itu terus saja berseliweran di benak Bimo. Usulan Andri dan Revan untuk belajar Move On dengan Anita patut di coba, tapi… Apa masih mau Anita-nya mau? Pertanyaan berjudul ‘apa’ itu hampir membuat […]

multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-4 (1) multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-4 (2) multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-4Arimbi ( By : Siganteng_rusuh ) – Part 15

15.

Cinta Lama Belum Kelar

~~~oOo~~~
“Anita…” Dari pertama membuka mata subuh tadi, nama itu terus saja berseliweran di benak Bimo. Usulan Andri dan Revan untuk belajar Move On dengan Anita patut di coba, tapi… Apa masih mau Anita-nya mau? Pertanyaan berjudul ‘apa’ itu hampir membuat Bimo setres sendiri kalau saja tidak datang Bu Sriati menyelamatkan-nya.

“Hoeh kampret! Sini kamu!” Bentak Bu Sriati galak dari ambang pintu.

“Apa Buk?” Sahut Bimo lemah sambil perlahan turun dari tempat tidurnya.

“Di panggil Ayah!”

“Hadewh…” Bimo mendengus lemah dan perlahan melangkah gontai keluar. Firasatnya mengatakan bakal ada kultum membahas syarat sah-nya mabok kemarin. “Iya Yah.” Perlahan Bimo duduk di samping Ayahnya.

“Udah nggak pusing?” Tanya Pak Edi santai.

“Udah enggak.”

“Kamu itu loh Bim!” Ujug ujug Bu Sriati mencak mencak menimpali. “Kamu itu mau jadi apa sih?! Emang kalau udah mabok gitu udah ngerasa gagah, udah ngerasa jagoan kam…”

“Buk… Ibuk…” Dengan tenang Pak Edi menyela memotong kicauan Istrinya itu. “Nggak usah pakek otot napa sih Buk.”

“Ah Bapak ini!” Bu Sriati mendecak kesal.

“Biar Bapak aja yang ngomong. Ibuk Bikinin kopi aja gih.” Sambil bersungut kesal Bu Sriati langsung menggeloyor pergi. “Udah jangan di ambil ati itu omongan ibukmu. Gimana, kamu udah nggak pusing lagi?” Ulang Pak Edi sepeninggal Bu Sriati.

“Udah enggak Yah.”

“Mau rokok.” Pak Edi kemudian menyodorkan rokok-nya.

Bimo sedikit mengerutkan alis bingung. “Emang boleh Yah?” Mau bagaimana-pun juga, seumur umur Bimo belum pernah ngerokok di rumah. Alasan-nya jelas, takut Bu Sriati si macan galak meraung raung di dapur. “Ntar Ibuk ngamuk lagi?”

“Udah rokok aja… Biar santai ngobrol-nya.”

Di temani sebatang rokok dan secangkir kopi, akhirnya obrolan berjalan santai dan damai. Tidak ada penghakiman dan kultum seperti yang Bimo bayangkan, yang ada malah seperti obrolan santai seperti sesama teman. Dengan begitu, petuah petuah bijak dari Pak Edi bisa dengan mudah Bimo serap dan terima.

Memang seperti itulah seharusnya. Orang tua bukan hanya harus menjadi orang tua, tapi juga harus bisa menjadi teman dan sahabat anak anak-nya. Menasehati dengan ngobrol santai layaknya sahabat akan lebih baik, dari pada marah marah memakai emosi. Karena semakin memakai emosi, nasehat akan semakin sulit di terima, dan anak bakal semakin bandel membangkang.

“Yang penting kamu bisa jaga diri aja Bim.” Pungkas Pak Edi.

“Iya Yah.”

“Eh… Kamu bentar lagi ujian kan?” Bimo mengangguk. “Bagaimana persiapan-nya.”

“Ya gitu aja Yah.”

“Ya udah… Yang penting kamu rajin belajar-nya. Santai aja jangan tegang.” Pak Edi sekilas melirik jam dinding yang terpaku di tembok. “Udah jam enam tu. Sono mandi gih.”

Bimo perlahan beranjak berdiri. “Eh… Boleh minta rokoknya lagi Yah?” Pak Edi tersenyum mengangguk dan kemudian menyodorkan rokoknya. Selesai menyalakan sebatang, Bimo langsung menggeloyor masuk ke kamarnya.

“Udah… Gitu doang?” Tanya Bu Sriati yang sedari tadi mati matian menahan emosi. Padahal dari semalam Bu Sriati sudah berangan angan ingin mengruwes ngruwes Bimo sampai krispi.

“Lha terus?”

“Ya di omelin atau apa gitu. Bukannya malah di kasih rokok.”

Sambil tersenyum manis Pak Edi kemudian menjabarkan hukum dan tata cara menasehati anak yang baik dan benar. Tapi Bu Sriati tidak begitu saja bisa menerima gaya menasehati Pak Edi yeng terlau santai. Menurut Bu Sriati cara dan gaya Pak Edi itu malah akan semakin menjerumuskan anak ke arah yang salah.

Tapi ya sudahlah… Masing masing orang punya jalan dan cara masing masing.

~~~oOo~~~
“Anita…” Nama itu seharian ini terus berputar putar di benak Bimo. Dan hasilnya… Jelas Bimo pusing delapan keliling. Pusing bukan pusing memikirkan Anita-nya, tapi pusing memikirkan bagaimana caranya memulai pedekate episode ke dua. Memulai lagi lebih sulit dari pada benar benar memulai. Dapuk!

Berat memang kalau ujug ujug mendekati Anita lagi. Kesan pertemuan mereka terakhir dulu tidak dengan baik baik, bahkan disertai adegan ‘plak’ segala. Bimo masih belum lupa bagimana panasnya tamparan Anita waktu itu. Dan Bimo juga tidak bisa lupa, bagaimana tatapan kecewa Anita yang merasa di tipu mateng mateng.

“Aaaah… Semua ini gara gara si kutil Arimbi.” Guman Bimo frustasi sambil menjambaki rambutnya sendiri.

Tululit tululit…

Handphone jadul warisan Arimbi tiba tiba berdering. “Apa lagi ini…” Gerutu Bimo sambil malas malasan mengangkat panggilan itu. “Iya hallo Van… Kenapa?”

“—”

“Ini di cafe biasa.”

“—”

“Kenapa… Mo nyusul kesini?”

“—”

“Sembiarangan aja klo ngomong”

“—”

“Pokoknya jangan kesini.”

“—”

“Udah sono, kekepin Wanda aja sono. Pokoknya awas klo nyusul kesini.”

“—”

“Ooo… Ya udah.” Selesai menutup telefon, Bimo kemudian kembali mengantongi handphone itu. Eh… Tapi tunggu dulu. Handphone itu kan Nokia jadul 3315 warisan Arimbi, jadi… Ah… Lagi lagi Bimo jadi ingat Arimbi.

Sekilas Bimo tersenyum kecut dan kemudian menyapukan pandangan-nya ke sekeliling cafe. Di sini, hampir di setiap sudut cafe ini tersimpan segala kenangan bersama Arimbi. Di pojokan itu dulu dia dan Arimbi betah nongkrong berlama-lama demi wifi gratis.

Di sana, di pojokan samping pot bunga itu, di sana dulu dia nembak Anita dan akhirnya malah mendapat hadiah tampolan karena ulah iseng Arimbi yang tiba-tiba songong menciumnya. Di sini. Di kursi yang sedang di dudukinya saat ini, di sini dulu Arimbi kencan dengan Aditya. Dari kursi ini Arimbi dengan gaya centilnya mengiming-imingi Caffe Latte yang menggoda selera.

“Iya… Semua ada di sini.”

Sejenak Bimo tengadah terpejam sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Perlahan di usap dadanya yang masih sedikit nyeri. Ingatan tentang Arimbi kembali membuat dadanya sesak, menyakiti. Lepas dari ingatan Arimbi tak semudah mempelajari rumus aljabar.

“Hei…” Tiba-tiba terdengar sebuah sapa ramah di sampingnya. Perlahan Bimo membuka mata dan menoleh ke arah asal suara. “Tumben sendirian aja?”

“A-Anita?” Bimo setengah tergugup sambil membenahi sedikit posisi duduk-nya. Walau Bimo sudah berencana tapi dia tidak pernah menyangka akan secepat ini bertemu Anita. Ini terlalu cepat, dan jiwa raga Bimo belum sepenuhnya siap.

“Boleh gabung?” Lanjut Anita.

Perlahan Bimo sedikit menggeser posisi duduknya. “Yo pasti boleh… Silahkan.”

“Tumben sendirian?”

“Lha kamu kesini ama siapa?” Sebisa mungkin Bimo berusaha menghindari tatapan mata dengan Anita. Bilang Bimo memang cemen, tapi dia memang cemen. Cowok macam apa coba yang malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan? Kan dapuk itu namanya.

“Sendirian juga.” Sahut Anita sambil mengangkat tangan memanggil pelayan Cafe. “Kamu mo pesan lagi?”

“Nggak usah… Ini juga belum abis.” Jawab Bimo sambil mengangkat gelas Caffe Latte-nya.

“Ooo…” Anita tersenyum manis.

Tak berapa lama kemudian datang pelayan cafe siap mencatat pesanan Anita. “Iya Mbak… Mau pesan apa?”

“Mmmm…” Anita sebentar berfikir sambil membaca deretan menu. “Vanilla Latte aja Mbak.”

“Itu aja?”

“Oh iya… Ama Cup Cake strowberry deh, dua.”

“Oke… Tunggu bentar ya.”

“Eh.. Tadi belum jawab.” Ujar Anita sambil menaruh daftar menu di tempatnya semual. “Tumben sendirian?” Ulangnya.

Bimo merenges bingung salah tingkah. Bimo tau yang di maksud Anita itu siapa, tapi dia juga bingung harus menjawab apa. “Arimbi?” Sahut Bimo yang lagi lagi bodoh, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

“Ya siapa lagi.”

“Kenapa memangnya?”

“Dih…” Anita mendecak kesal. Bimo yang sekarang rasanya bukan Bimo yang dulu. Tingkah Bimo sekarang lebih mirip tingkah cowok nerd dalam casing gaul ganteng maximal. “Malah balik nanya lagi.”

“Arimbi maksud kamu?” Kan… Balik nanya lagi kan.

“Lha emang dari tadi yang aku tanyain siapa? Ya iya Arimbi.” Sahut Anita sebal.

“Oooo…” Bimo manggut manggut entah karena apa. “Nggak tau di mana.” Jawabnya kemudian.

“Loh…” Sontak Anita memicingkan mata curiga. Tumben Bimo tidak bareng Arimbi, biasanya kan mereka selalu bareng persis kayak kembar siam. “Kenapa? Kalian udah putus?”

Huadapuk! Sekarang gantian Bimo yang memicingkan mata bingung. Ooo.. Jadi begituuu. Jadi selama ini Anita mengira dia dan Arimbi itu pacaran. Pantes… “Kamu kira aku ama Arimbi pacaran ya?”

Akhirnya terjawab sudah alasan kenapa dulu Anita tiba tiba menghindarinya setelah tragedi tampolan maut itu.

“Ya iyalah… Kalau buka pacar mana mungkin dia marah marah ngelabrak aku.”

What?! Ngelabrak?! Whaini… Ada apa ini…

“Maksud kamu?”

Anita kemudian menceritakan kejadian setahun yang lalu. Tepat sehari sebelum Bimo menyatakan cinta di cafe ini, Arimbi mencarinya dan mengajak ketemuan di cafe ini juga. Di sini Arimbi marah marah dan menuduh Anita berusaha merebut Bimo darinya. “Itu alasan-nya kenapa aku kesel banget pas kamu nembak aku.”

Bimo hanya melongo diam. Dia hampir tidak percaya kalau Arimbi sampai sejauh itu. “Iya… Sampek di tampol segala.” Guman Bimo lirih sambil mengusap pipinya.

“Ya iyalah aku kesel maximal. Cewek mana coba yang nggak kesel di tembak cowok cuma mo di jadiin selingkuhan.”

“Permisi.” Obrolan mereka terpaksa terganggu kedatangan pelayan mengantarkan pesanan Anita.

“Makasih.” Ucap Anita manis.

“Lha terus klo gitu kenapa kamu mau aku ajakin ke sini waktu itu?” Lanjut Bimo begitu pelayan itu pergi.

“Ya waktu itu aku sebenernya mo ngajakin kamu ngomong baik baik, tapi keburu kamunya nembak duluan. Terus makin keselnya, Arimbi tau tau nyium kamu. Jadi deh… Plak…” Pungkas Anita sambil memeragakan bagaimana dia menampar Bimo dulu.

“Sakit.” Guman Bimo pelan.

“Eh… Tapi beneran kamu dah putus ama Arimbi?” Ulang Anita sambil mengaduk aduk pelan minuman-nya. Jujur Anita sedikit menyesali ceritanya barusan. Kalau Bimo masih bareng Arimbi, bisa bisa dia di kira mengadu domba lagi. Njier!

Bimo tersenyum dan menatap mata Anita. Entah kenapa dia jadi mempunyai keberanian menatap mata cewek cantik itu. “Kalau beneran putus kenapa?” Ya kan.. Ya kan… Malah balik nanya.

“Hm…” Anita mendengus kesal. Sumpah! Pertanyaan di balas pertanyan itu rasanya, Aaaaaargh! Ngebetein sumpah!

“Kamu mo daftar?”

“What?!” Anita kaget akut sampai hampir tersedak Vanilla Latte. “Huek… Sory dori mory rasa stowberry deh.” Ucapnya sambil bergaya bergidik geli. “Hiii… Nggak bakal.”

Bimo tersenyum melihat tingkah Anita. Gaya itu yang dulu sempat membuatnya suka dengan dia. Gaya manja riang gembira yang hampir mirip Ar… Oh shit! Iya… Anita hampir mirip Arimbi gayanya. “Aku ama Arimbi itu nggak pernah pacaran tau.” Ujar Bimo kemudian.

“Lah… Kok?” Bimo kemudian menceritakan siapa Arimbi sebenarnya, bagaimana mereka bisa akrab dan dekat sampai sampai di kira pacaran. Dengan khusuk Anita mendengarkan penuturan Bimo sambil manggut manggut mengerti. “Oooo… Jadi gitu to ceritanya.” Perlahan terbersit rasa bersalah di hati Anita. Dia menyesal kenapa waktu itu keburu emosi tanpa meminta penjelasan yang sebenarnya dari Bimo.

“Iya gitu ceritanya.”

“Terus sekarang Arimbi kemana? Tumben kamu bisa bebas.”

Sebentar Bimo menghela nafas dalam. “Arimbi udah punya pacar sekarang. Aditya.” Berat dan sakit. Mengakui Arimbi berpacaran dengan Aditya tetap membuat hatinya hancur berantakan. Tapi Bimo sebisa mungkin berusaha bersikap biasa. Dia harus bisa move on. Harus bisa!

“Kasihan banget kamu.”

“Kok kasihan?”

“Iya kasihan. Giliran kamu di rusuhin, tapi giliran dia semaunya sendiri.”

“Ya biarin. Malah bagus kok, aku merdeka jadinya.”

“Iya juga ya.” Anita tersenyum manis sambil kemudian menyodorkan cup cake pesanan-nya tapi. “Eh ini di makan. Keasikan ngobrol jadi di anggurin deh.”

Bimo mengangguk sambil tersenyum. Mungkin benar dia harus move on dan Anita yang menjadi korban-nya. Pertemuan tak terduga ini mungkin sinyal mencusuar di mana ada pulau tempat di mana dia bisa berlambuh. Mungkin di Anita-lah sauhnya harus berlabuh, dan sepertinya tidak terlalu sulit belajar melabuhkan hati di cewek ceria setipe Anita.

“Kenapa senyam senyum?”

“Ah enggak.” Bimo gelagapan salah tingkah kepergok memandangi Anita. “Kamu cantik.”

“Terus kalo cantik kenapa emangnya? Naksir?”

“Yoi… Mo CLBK malah.” Anita mengerutkan sepasang alisnya bingung. “Kan cinta lama kita belum kelar.”

Mungkin ini terasa aneh dan terlalu terburu buru. Tiba tiba ketemu lagi, tiba tiba akrab lagi, dan tiba tiba mau CLBK lagi. Tapi it’s oke, yang terjadi terjadilah. Tidak ada kata terlalu cepat untuk cinta. Yang ada hanya terlambat, dan Bimo tidak mau terlambat untuk yang kedua kalinya.

Gubrak!

“Cinta lama kita belum kelar Nit. Dan maaf kalau aku hanya menjadikan-mu pelarian. Akan kubalas tamparan waktu itu dengan ciuman di pipimu. Pasti! Secepatnya!”

~~~oOo~~~
@QueenArimbi

Adik cewek yang manis. #Imuet #Manja #Lucu

Tulis Arimbi sambil mengupload foto lucu Kamita di semua akun sosial media miliknya. Mention ber cie cie langsung membanjir menyambut Tweet Arimbi seperti biasanya. Arimbi hanya tersenyum senang. Dengan Kamita, Arimbi merasa menemukan adik cewek yang tidak pernah dia punya. Tenyata punya adik itu rasanya menyenangkan.

Kalau Arimbi senang dengan keberadaan Kamita, tapi tidak begitu dengan Aditya. Dia terus ngedumel uring uringan karena Kamita selalu mengganggu kencan-nya. Setiap Arimbi di ajakin kerumah, Arimbi pasti bakal lebih sibuk dengan Kamita, dan kadang kadang dengan Mama-nya.

“Sebenernya yang pacaran itu siapa sih?” Runtuk hati Aditya. “Kamu sonoan apa Mit… Gangguin orang mo pacaran aja deh.” Sungut Aditya kesal.

“Kenapa sih.” Kamita mencebik lucu. “Orang Kamita lagi main ama Mbak Arim juga, ya Mbak ya…” Arimbi tersenyum mengangguk mengiyakan Kamita.

“Iya Dit… Biarin aja napa sih. Lagian Kamita lucu kok.”

“Ah… Dasar gendut.” Umpat Aditya kesal sambil beranjak meninggalkan Arimbi yang sedang asik mengepang rambut Kamita.

“Mas Adieeeet!” Sumpah demi apapun juga, Kamita paling kesel kalau di kata gendut. Menurutnya dia tidak gendut tapi chubby menggemaskan.

“Udah ih…” Arimbi menahan Kamita yang hampir berlari melabrak Aditya. “Kan… Kepangan-nya jadi rusak kan.”

“Mas Adit tu Mbak.”

“Udah… Ntar Mas Adit-nya Mbak Arim omelin.”

“Janji ya Mbak.”

“Iyaaa…” Arimbi mengangguk sambil tersenyum. Kamita memang lucu.

“Kamita nggak gendut ya Mbak ya?”

“Enggak… Kamita chubby kok. Cantik.”

“Cantik kayak Mbak Arim?” Arimbi tersenyum sambil mengangguk mengiyakan.

Sementara Aditya, dia terus bersungut kesal dan kemudian membanting tubuhnya di sofa ruang tamu. Bibirnya tidak pernah berhenti komat kamit mendumel. Kalau begini terus apa gunanya dia pacaran. “Kamita mana Dit?” Tanya Bu Santi yang baru pulang dari pengajian.

“Tu di ruang tengah.”

“Ada Arimbi?” Wajah Bu Santi seketika berbinar cerah melihat anggukan lemah Aditya. “Arim…” Tanpa memperdulikan Aditya yang mendengus kesal, Bu Santi langsung berlalu masuk.

“Aaaaaaarg…!” Aditya menggeram frustasi sambil jumpalitan seperti cacing kepanasan di sofa. Dapuk men… Ini benar benar dapuk!

“Mas adit ayan ya?!” Seloroh Kamita dari dalam.

Huaaaaaaaa…

oOo
Sementara itu di rumah Septi. “Apa?!” Andri Septi Wanda dan Revan kompak tersentak kaget mendengar cerita Bimo. Mereka hampir tidak percaya kalau Bimo sudah bergerak mendekati Anita duluan sebelum mereka sempat beraksi.

“Serius kamu Bim?” Cecar Wanda masih belum yakin.

“Serius.”

“Lha kok bisa?” Timpal Septi.

“Begini ceritanya…” Bimo kemudian ceritakan bagaimana pertemuan tidak sengaja dengan Anita di cafe kemarin. Tapi Bimo tidak menceritakan apa yang di ceritakan Anita soal Arimbi. Biarlah itu hanya dia yang tau. “Ajib kan?” Pungkas Bimo sambil memainkan alisnya naik turun.

“Hebat!” Revan menepuk nepuk bahu Bimo. “Lanjutkan perjuangan-mu Nak.”

“Cemungut Bro… Cayooo lah cayooo.” Tambah Andri menimpali.

“Terus kapan mo lanjut pedekatenya?” Tanya Wanda lagi.

“Sekarang.” Sahut Bimo bangga. Andri Septi Wanda dan Revan hanya sanggup saling berpandangan. Demi apa… Ini adalah keajaiban. Setelah tragedi Arimbi, ini kali pertama Bimo bereaksi cepat berinisiatif dan taktis seperti ini. Sepertinya Bimo memang benar benar sudah -mulai- sembuh.

Ucapkan salam paling meriah untuk Anita yang sudah bisa menyembuhkan Bimo secepat ini.

“Ya udah sono gih… Cepet minggat klo gitu.” Ucap Andri dengan senyum memberi semangat.

“Dedek Anita cudah menunggu.” Sambung Revan.

Sekilas Bimo tersenyum malu malu dan kemudian berdiri. “Ya udah… Daku caow dulu ya.”

“Doa restuku bersama-mu anak muda.” Seloroh Revan tengil. Beriring doa dan tatapan bahagia sahabat sahabat-nya, Bimo meluncur menjemput pelabuhan-nya. “Tunggu Anita, Kakak Bimbim akan datang membawa sekintal cinta untuk-mu.” Timpal Revan sambil bergaya bak adegan Romeo dan Juliet yang langsung di sambut gelak tawa semuanya.

Huaaaahahahaha…

Motor matic Bimo menderu edan edanan menyusuri jalanan kota yang sepi. tak berapa lama akhirnya Bimo sampai di rumah Anita. Ini kali pertama Bimo kesini lagi setelah terakhir setahun yang lalu. Rumah sederhana itu masih terlihat asri dengan deretan bunga warna warni dalam pot. Hamparan luas sawah di seberang jalan membawa suasana damai.

Selesai memarkir motornya, Bimo kemudian melangkah deg degan ke arah pintu. Belum sempat Bimo mengetuk pintu. “Hai… Kirain nggak jadi kesini.” Anita sudah keburu membukakan pintu sambil menyapa ramah.

Sumpah demi Valentino Rossi sang dewa balap Yamaha, Anita super duper cantik sekali. Dalam balutan tank-top putih yang memamerkan tali bra-nya dan Hot-pant pendek yang mengekspos paha mulus-nya, Anita terlihat begitu menggoda dan menggairahkan. “Duh Sang Hyang Jagad Dewo Bathoro… Celanaku sesak cuin… Sesaaaak.”

“Hoeh…” Anita menepak pundak Bimo. “Lha kok malah bengong loh.”

“Eh…” Bimo merenges sambil menggaruk garuk pelipis-nya. “Aku terpana.”

“Huh…” Anita merengut imut. “Gombal.”

Anita kemudian mempersilahkan Bimo masuk. Ngapel pertama ini tak ada yang special. Mereka hanya menghabiskan waktu dengan ngobrol bercanda dan sedikit mengulas masa lalu. Benar benar tidak ada yang special kecuali… Kecuali celana Bimo yang sedari tadi sesak tergoda moleknya Anita.

Sabun Mak… Sabun… Sabun mana sabun…

“Arimbi.” Lagi lagi Bimo teringat Arimbi. Hanya bayangan tubuh polos Arimbi yang Bimo bisa hadirkan saat membayangkan isi di balik pakaian Anita. Hanya Arimbi karena hanya tubuh Arimbi satu satunya yang Bimo tau dan hafal.

Dapuk!

oOo
“Iya Hallo.”

“—”

“Kurang tau deh.”

“—”

“Kayaknya sih gitu.”

“—”

“Terus?”

“—”

“Nggak apa apa gitu?”

“—”

“Oooo… Iya Iya.”

“—”

“Ya udah kalau gitu.”

“—”

“Semoga aja gitu.”

“—”

“Wallaikum salam.”

~~~oOo~~~

Bersambung

Author: 

Related Posts

Comments are closed.