Cerita Ngentot Slamet Kan Aku – Part 7

Cerita Ngentot Slamet Kan Aku – Part 7by on.Cerita Ngentot Slamet Kan Aku – Part 7Slamet Kan Aku – Part 7 CITA-CITA “Peliku obah-obah..hemm..gawukmu megap-megap..hemm” dering telpon berhasil membangunkan aku dari tidur. Siapa pula yang berani-beraninya membangunkan aku dari hibernasi ini. Aku lihat ke layar HP, ternyata panggilan dari Anas. “Met, cepet ke rumahku, bantuin aku nge cat kamar.” kata Anas “Baru bangun aku ple, mbok sebentar lagi ya?, tak […]

tumblr_n7hluhudQf1speriko6_1280 tumblr_n7hluhudQf1speriko7_540Slamet Kan Aku – Part 7

CITA-CITA

“Peliku obah-obah..hemm..gawukmu megap-megap..hemm” dering telpon berhasil membangunkan aku dari tidur.

Siapa pula yang berani-beraninya membangunkan aku dari hibernasi ini. Aku lihat ke layar HP, ternyata panggilan dari Anas.

“Met, cepet ke rumahku, bantuin aku nge cat kamar.” kata Anas

“Baru bangun aku ple, mbok sebentar lagi ya?, tak mandi dulu.”

” Ya udah, cepet tak tunggu di rumah.”

“Ya.” jawabku malas-malasan

Ini anak kalo lagi ada perlu ada hubungi aku, giliran aku yang minta tolong dia menghilang ditelan bumi. Dasar manusia Kampret. Sebenarnya mataku masih berat, disamping karena semalem bergadang ditambah lagi efek minuman buatan kang Prajak tadi malam yang ternyata belum hilang benar.

Aku segera meluncur ke rumah Anas, ternyata dia sudah menunggu di teras rumahnya. Sudah ada secangkir susu coklat dan juga satu piring gorengan, Tumben hari ini Anas baik, mentang-mentang ada maunya dia siapin semua nya.

Aku jadi teringat kejadian tadi malam, tentang wanita berjakun.

“Ple, enak semalem ngentotnya.” tanyaku pura-pura bego.

“Enak banget Met, goyangan e mantep. Pokok e josh banget lah.” jawab Anas

“Salah siapa semalem gak mau.” imbuhnya

“Cantik ya Nas?” tanyaku lagi

“Cantik banget Met, memang gak salah pilih aku, udah cantik, servicenya luar biasa lagi.” Anas menyombongkan mbak-mbak yang semalam

“Terus, terus, kontol e mbak e besar gak Nas?”

Muka anas langsung memerah, dia menahan malu. Aku yang melihat reaksi Anas langsung tertawa terpingkal-pingkal. Ada-ada aja ulah si Anas ini, ternyata sebelumnya si Anas gak tahu kalau cewek yang dia booking ternyata memiliki jakun. Dia langsung saja mengiyakan ketika tawarannya diterima sama cewek itu. Ketika Anas hendak meraba-raba kemaluan mbak-mbak tadi, manusia setengah mateng itu selalu menepis tangan Anas. Dan setelah terus-terusan dipaksa akhirnya justru Anas yang malah dibuat kaget karena dibalik Rok seksi cewek itu ada “pisang ambon” yang sudah berdiri tegak. Berhubung sudah terlanjur nafsu, ditambah lagi karena pengaruh alkohol, Anas tetap saja menghajar si manusia setengah mateng itu. Biar dia tidak malu dihadapanku, terpaksa Anas harus membuat cerita bohong, seolah-olah cewek tadi malam adalah cewek beneran dan bukan wanita berkontol.

Aku masih tertawa terbahak-bahak mendengarkan cerita dari Anas. Akhirnya aku punya senjata rahasia untuk berjaga-jaga dari mulut embernya. Kalau suatu saat nanti dia bikin gara-gara, tinggal aku ancam bakal sebarin cerita ini ke orang-orang. Maklum saja mulut si Anas ini beneran seperti TOA masjid, kalo ada masalah sedikit tentang aku pasti satu Kampung juga pasti akan tahu.

“Mana cat nya Nas?”

“Di kamar Met, tadi aku udah beli kok.”

“Ya udah, ayo kita mulai.”

Anas segera mengambil sketsa gambar yang akan melapisi dinding kamarnya. Kalau dilihat dari kegemarannya dia bakal menggambar tengkorak ditambahi gambar-gambar darah biar kelihatan keren. Tapi setelah aku melihat sketsa gambar yang ada ternyata dia memilih gambar si Unyil ditemani 2 bidadari semok yang gak pakai baju. Gambar yang sangat bagus memang, tapi kedua bidadari itu harus berhati-hati, kalo si Unyil khilaf bisa-bisa langsung diperkosa sama itu bidadari. Apa lagi pemilik kamar juga sama cabulnya. Sungguh harus berhati-hati kedua bidadari itu. Nanti aku tambahi gambar pedang aja, biar bisa buat jaga-jaga. Jadi kalo si Unyil nekat biar nanti otongnya dipotong pakai pedang.

Akhirnya gambar itu selesai juga. Gambar si Unyil ditemani 2 bidadari telanjang yang memegang pedang. Jadi aku tidak perlu was-was lagi untuk meninggalkan kedua bidadari itu disini. Paling mentok juga cuma Anas yang jadiin mereka bahan imajinasi, karena aku yakin si Unyil gak bakal berani macam-macam.

Setelah pamit kepada orang tua Anas, aku segera meluncur pulang. Aku kaget ketika membuka pintu kamar, ternyata tempat tidurku sudah berubah dengan kasur yang baru, diatas nya terdapat supucuk surat dari ibuku.

“Selamat ya nak, sebentar lagi kamu lulus, ini buat kamu biar tambah semangat ngerjain skripsi.”

Air mataku hampir saja menetes ketika aku membaca surat itu. Aku menjadi terharu, sudah lama aku tidak dibelikan barang baru oleh orang tuaku. Kali ini aku baru bener-bener sadar, betapa sayangnya mereka terhadapku, betapa perhatian mereka kepada anak semata wayangnya ini. Kalau saja mereka ada disini pasti aku kasih cipok basah buat mereka. Sudah-sudah gak usah dilanjutin masalah kasur barunya, bisa-bisa beneran nangis aku nanti.

Akhirnya sebentar lagi aku udah mau lulus, berarti aku akan segera bekerja, menikah dan punya anak. Menikah?, waduh udah 2 hari ini aku melupakan si bidadari kantin. Janah, minggu depan aku harus segera dapat no telp nya. Jadi waktu aku wisuda nanti aku ada pendamping di poto wisuda, jangan sampai yang ada dipoto wisuda ku nanti cuma si Anas. Minggu depan kan aku ada jadwal bimbingan dengan si Pepaya tua, jadi nanti bisa mampir ditempat Janah buat minta no telp dia.

Dulu waktu masih kecil, aku bercita-cita menjadi seorang tentara, tentara kan gagah, banyak duitnya, istrinya cantik. Tapi nanti kalau aku jadi tentara pasti kulitku yang kinclong ini berubah jadi hitam, rambutku yang habis direbonding ini harus potong botak. Ah tidak-tidak pasti bentukku akan jadi sangat aneh. Ditambah lagi berat badanku akan berkurang lalu aku akan kelihatan kurus, belum lagi kalau pulang kerumah ketemu bapak dan ibuku pasti mereka akan menegurku, apakah aku tidak punya uang buat makan, sehingga aku menjadi kurus. Padahal kan memang mereka harus menjaga badan biar bisa sembunyi kalo lagi perang. Coba badan mereka kaya aku pasti mereka akan gampang tertembak oleh musuh. Jadi cita-cita ku sebagai seorang tentara aku cancel aja karena sepertinya tidak sesuai dengan jiwaku.

Cita-cita kedua ku adalah seorang menjadi seorang dokter, berhubung aku kuliah di jurusan ekonomi jadi aku harus membuang jauh cita-citaku ini dari anganku. Padahal kalau aku jadi dokter pasti sangat enak tuh, bisa punya istri sesama dokter atau perawat yang biasanya putih-putih dan bersih-bersih. Tiap praktek cukup pakai sarung, dibawah meja udah ada yang menyambut. Nikmatnya dunia, tapi berhubung niatku yang udah gak baik duluan sih ya, jadinya Tuhan tidak mengabulkan cita-citaku yang ini.

Cita-citaku yang ketiga adalah menjadi seorang pegawai Bank, kerjaannya dikantor, diruangan ber AC, gajinya gedhe, ngitung uang terus, bisa liat cewek cantik setiap hari dan lain-lain. Sepertinya aku sudah mantap ingin menjadi pegawai Bank, sehabis lulus nanti aku akan menjadi seorang pegawai Bank. Ya seorang pegawai Bank.

Tapi kalau cita-citaku tidak terlaksana aku tidak akan terlalu kecewa, karena si Super Slamet harus mempunyai rencana cadangan, kalau memang gak bisa jadi pegawai Bank, aku akan mengikuti saran seorang temanku yang bernama Bulbul untuk menjadi juragan di Pasar Kembang. Ya paling tidak masih ada kata ang-ang nya dibelakang kerjaanku, Pasar Kembang dan Pegawai Bank kan tidak terlalu beda.

Hari sudah semakin larut, seperti biasa kalau jam-jam segini waktunya aku untuk meminum susu coklat hangat milik mbak Maya. Hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya , karena di angkringan mbak Maya ada Mas Parmin yang menemani. Suparmin tanpa huruf A di depannya adalah nama lengkap suami mbak Maya. Sampai sekarang aku masih heran, bagaimana bisa mbak Maya yang mempunyai Body seperti gitar Spanyol, berkulit putih, dan berdada kelapa bisa mempunyai suami seperti mas Parmin. Kalian bandingin aja deh aku dan mas Parmin, Mas Parmin yang kurus kering dan berambut botak sedangkan aku rambut aja udah rebonding dan badanku penuh berisi. Ya berisi air seperti Sapi glonggongan. Tentu saja masih mending aku kemana-mana kan, harusnya paling jelek itu mbak Maya ya dapetnya orang seperti aku, bukan seperti mas Parmin.

Sebenarnya bukan aku mau banding-bandingin aku sama mas Parmin lho ya, tapi coba bayangin kemaren aku dikerjainya. Aku udah jauh-jauh jemput dia di terminal Giwangan, bahkan aku hampir aja diperkosa sama mbak Sari si dada Mangga, eh dia malah asyik-asyikan berduaan sama mbak Maya dirumah, mana gak ada ngabarin aku pula. Memang perlu dikasih pelajaran mereka berdua.

“Sory ya met, kemaren aku lupa kabarin kamu kalo aku udah nyampe rumah.” kata mas Parmin

“Ah, gapapa mas, lagian cuma deket kok.” jawabku sekenanya. Padahal dari giwangan ke rumahku itu kurang lebih 45 KM lho.

“Ya udah Met, sebagai tanda maafku Susumu gak usah bayar wes.” lanjut mas Parmin

“Serius mas?, Oke deh, oke deh, mas Parmin memang manusia paling baik di kampung kita.” jawabku lagi

“Tapi aku minta tolong jagain angkringan bentar ya Met.”

“Emang mau ditinggal kemana sih mas?, kan ada mbak Maya juga mas.” jawabku males

“Tak ngentot bentar ya met, mumpung sepi.” bisik mas Parmin

Mohon kritik dan sarannya teman2..

Author: 

Related Posts

Comments are closed.