Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 33

Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 33by on.Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 33Pendekar Naga Mas – Part 33 Tiba-tiba ia merasa seluruh badannya bergolak keras, sadar hal ini disebabkan hawa kewanitaan yang dihisap dari tubuh Cin Se-si, satu ingatan melintas dalam benaknya, cepat dia berpakaian dan balik ke rumah makan Jitseng-kau. Begitu membuka pintu segera teriaknya, “Enci Bun!” Ternyata Bwe Si-jin serta dua bersaudara Suto sedang berdiri […]

4JITfEhX5l 5O64XbPOS8 5vvPLUTl8WPendekar Naga Mas – Part 33

Tiba-tiba ia merasa seluruh badannya bergolak keras, sadar hal ini disebabkan hawa kewanitaan yang dihisap dari tubuh Cin Se-si, satu ingatan melintas dalam benaknya, cepat dia berpakaian dan balik ke rumah makan Jitseng-kau.

Begitu membuka pintu segera teriaknya, “Enci Bun!”
Ternyata Bwe Si-jin serta dua bersaudara Suto sedang berdiri bingung di depan pembaringannya, begitu melihat kemunculan Cau-ji, Siau-bun segera berseru, “Adik Cau, kemana saja kau seharian? Kami hampir gila gara-gara mencarimu.”

“Aku….”
“Yang penting selamatkan jiwa orang lebih dulu,” tukas Bwe Si-jin cepat, “Cauji segera lepaskan pakaianmu!”
“Paman….”

Sementara itu dua bersaudara Suto telah menanggalkan semua pakaiannya, terdengar Siau-bun berbisik, “Adik Cau, racun yang berada di tubuh Jit-koh mulai kambuh, menurut paman, katanya hanya darahmu yang bisa digunakan untuk menyelamatkan jiwanya.”

“Aku mampu?”
Melihat anak muda itu sudah bertelanjang bulat, Bwe Si-jin segera berkata, “Adik Cau, memangnya kau lupa kalau dalam darahmu mengandung inti sari kekuatan naga sakti berusia seribu tahun yang mampu memunahkan berbagai racun? Cepat naik!”

“Tapi paman,” protes Siau-si, “tubuh Jit-koh sudah menyusut, mana mungkin bisa begituan dengan Cau-ji?”

“Kalau begitu … gunakan darahnya!”

Sambil berkata dia mengambil sebuah cawan dan melukai pergelangan kiri Cau-ji.
Tak selang lama kemudian ia sudah mendapatkan secawan kecil darah segar.

“Hentikan pendarahannya!” perintah Bwe Si-jin.

Kemudian ia membangunkan tubuh Jit-koh dan perlahan-lahan melolohkan darah segar itu ke dalam mulutnya.

Tak lama kemudian Im Jit-koh tersadar dari pingsannya, secara beruntun dia muntahkan tiga gumpalan darah hitam yang baunya sangat busuk, lalu keluhnya, “Ooh, sakitnya setengah mati!”

“Jit-koh, kionghi, racun di dalam tubuhmu telah punah!” seru Siau-si sambil menunjukkan gumpalan darah hitam itu.

Kemudian secara ringkas dia pun menceritakan bagaimana Cau-ji telah menyelamatkan jiwanya dengan memberikan secawan darah.
Waktu itu Im Jit-koh dalam keadaan tak sadar, tentu saja dia tak tahu kalau jiwanya telah diselamatkan, begitu mendengar penjelasan itu serunya, “Terima kasih Tongcu, kau telah menyelamatkan jiwaku!”

Sambil berkata dia hendak menjatuhkan diri berlutut.
Lekas Bwe Si-jin memeluk tubuhnya, sambil tertawa tergelak katanya, “Jitkoh, kita adalah orang sendiri, buat apa kau mesti berlaku sungkan? Ayo kita balik ke kamar, jangan menjadi lampu sorot di sini.” Habis berkata ia tertawa tergelak dan berlalu dari situ.

Kini Siau-bun dapat menghembuskan napas lega, ujarnya sambil tertawa, “Adik Cau, ada urusan apa kau terburu-buru mencariku?”
“Enci Bun, cepat lepas pakaianmu!”

Siau-bun melirik sekejap gumpalan darah di saputangan Siau-si, lalu dengan ilmu menyampaikan suara bisiknya, “Cici, adik Cau baru saja diambil darahnya, tapi dia ingin begituan, boleh tidak?”

“Boleh saja,” jawab Siau-si dengan wajah bersemu merah, “tadi adik Cau ditinggal Siau-hong setengah jalan, napsunya belum tersalurkan, lebih baik kita jangan membuat seleranya hilang, aku rasa luka kecil itu tak akan mengganggunya.”

Sambil berkata dia pun mulai melepas pakaian.
Tak terlukiskan rasa girang Cau-ji melihat kedua orang gadis itu sangat penurut, cepat dia membaringkan diri di atas ranjang.

Siau-bun melirik sekejap ke arah tombak yang mulai mengeras sambil berdiri tegak itu, lalu dengan malu-malu dia menaikinya dan menusukkan ke dalam liang surganya.

Sembari membelai tubuh Siau-si, secara ringkas Cau-ji pun bercerita tentang pengalamannya tadi.

Siau-bun yang selesai mendengar cerita itu segera menjerit tertahan, serunya, “Adik Cau, jadi kau benar-benar telah menghabisi nyawa Cin Se-si?”

“Benar, siapa suruh dia tak tahu diri dan ingin menghisap hawa kelakianku, jika aku tidak duluan menghisap hawa kewanitaannya, bukankah aku yang bakal mampus? Eh, enci Bun, bagaimana kalau kuhadiahkan hawa kewanitaan miliknya itu kepadamu?”

Mendengar berita gembira ini Siau-bun jadi kegirangan setengah mati, dengan air mata bercucuran serunya, “Terima kasih banyak adik Cau, cici tak tahu bagaimana harus membalas budi kebaikan ini.”

“Hahaha, padahal ada dua jalan untuk balas budi, pertama, kau harus lebih giat sehingga aku merasakan kenikmatan yang luar biasa, kedua, setelah menikah nanti, kau harus melahirkan berapa orang bayi gemuk untukku, paling tidak aku mesti mencetak rekor anak di atas rekor ayahku.”
Siau-bun tertunduk malu.
Tapi dia benar-benar mulai bekerja keras, menggoyang badannya makin giat.
Siau-si sendiri bersandar di dada Cau-ji sambil menciuminya dengan napsu.

0oo0

Ketika matahari sudah jauh di angkasa, akhirnya Siau-bun dan Cau-ji sama-sama telah mencapai puncak kenikmatan.

Mereka berdua tidur sambil berpelukan, mereka tak peduli cairan lengket masih membasahi bagian bawah tubuh mereka.

Waktu itu Siau-si sudah duduk bersila di belakang punggung adiknya, telapak tangannya ditempelkan di atas jalan darah Bing-bun-hiat, katanya serius, “Adik Cau, adik Bun, ayo cepat mengatur napas.”

Sambil berkata dia mulai menyalurkan tenaga muminya.
Dalam waktu singkat mereka bertiga sudah berada dalam keadaan tenang.
Di saat ketiga orang itu masih menikmati kesenangan di dalam ruangan, di luar gedung telah terjadi keributan yang luar biasa.

Kematian wakil ketua Jit-seng-kau serta kedua orang pelindung hukumnya di tangan ‘Manusia penghancur mayat’ telah menggemparkan seluruh rumah makan Jit-seng-kau.

Selesai memberi perintah anak buahnya untuk mengubur hancuran mayat serta membakar tandu mewah itu, Im Jit-koh bersama Bwe Si-jin dan kawanan kakek berbaju hitam itu melakukan rapat tertutup.

Perdagangan yang berlangsung di rumah makan itu tetap berlangsung ramai, tapi setiap orang mulai meningkatkan kewaspadaannya, orang takut ‘manusia penghancur mayat’ akan datang menyerang.

Bwe Si-jin tahu semua hasil karya itu tentu merupakan perbuatan Cau-ji, maka sambil mendengarkan usul orang lain, ia mulai menyusun strategi lebih jauh.

Kalau dulunya dia berencana mengajak Cau-ji meluruk ke markas besar Jitseng-kau dan mengambil kesempatan untuk membantai Su Kiau-kiau berempat, maka sekarang dia merubah rencana, dia berniat memancing kawanan iblis wanita itu meninggalkan bukit Wu-san.

Sebab markas besar di bukit Wu-san selain dilengkapi barisan yang aneh, juga dilapisi alat jebakan yang mengerikan, dia kuatir bila salah langkah, semua rencananya bakal berantakan.

Oleh sebab itu dia berniat memancing musuhnya datang mencari mereka.
Tentu saja dia pun sangat girang setelah tahu nama besar ‘manusia penghancur mayat’ menjadi amat populer di situ.
0oo0

Cau-ji dan dua bersaudara Suto telah membersihkan badan, kini mereka bertiga sedang bersantap sambil berbincang-bincang.

Tiba-tiba Cau-ji teringat sesuatu, tanyanya, “Aaah, benar, setelah repot seharian aku hampir saja lupa menanyakan keadaan Siau-hong, sebenarnya apa yang terjadi hingga dia nampak selalu tegang dan ketakutan?”

Mendapat pertanyaan itu, paras muka Siau-bun berubah jadi sedih bercampur gusar, katanya, “Dulu, Siau-hong adalah putri kesayangan Congpiauthau perusahaan ekspedisi Ban-an-piau-kiok di kota Soh-ciu, sejak barang kawalannya tiga kali dirampok orang, perusahaannya pailit, untuk membayar hutang, terpaksa putrinya dijual ke tempat ini.

“Siau-hong sungguh kasihan, pada malam pertama kedatangannya di sini dia telah dinaiki oleh Ciangkwe yang punya kelainan jiwa, sejak malam itu ada tiga hari ia tak mampu turun dari ranjang.

“Dalam tiga bulan terakhir, Ciangkwe sudah tiga kali mencarinya, setiap kali dia selalu menyiksanya dengan cara berubah-ubah, akibatnya timbul perasaan takut yang luar biasa pada diri gadis ini.”

Siau-si segera menambahkan, “Adik Cau, barangmu yang besar dan panjang membuat dia semakin ketakutan.”

“Ooh, Siau-hong yang patut dikasihani,” bisik Cau-ji sambil tertawa getir.
“Adik Cau, kau harus berusaha menyelamatkan Siau-hong!” pinta Siau-bun.
“Tapi… bagaimana caraku menolongnya?”
“Adik Cau, bagaimanapun Siau-hong berasal dari keluarga kenamaan, bila kau bersedia menampungnya

“Eh, jangan, jangan begitu, bukankah Siau-si telah berkata, Siau-hong ketakutan setelah melihat ukuran barangku yang luar biasa, mana mungkin aku bisa menolongnya?”

“Adik Cau, tahukah kau, setiap kali mau begituan, Ciangkwe selalu menggunakan tongkat yang jauh lebih besar dari milikmu untuk mengobok-obok lubang milik Siau-hong?”

“Kurangajar, jahat amat orang ini” teriak Cau-ji sambil menggebrak meja,
“hmmm! Akan kucari kesempatan untuk menghabisinya!”

“Benar, manusia jahat seperti itu memang pantas dihabisi secepatnya,” Siaubun menimpali, “tapi mengenai urusan Siau-hong, apakah kau akan mempertimbangkan kembali?”

“Enci Bun, segala urusan biarlah berjalan sewajarnya,” kata Cau-ji sambil tertawa getir, “aku sih mau-mau saja, tapi kalau sampai keluargaku ada yang keberatan, bagaimana jadinya?”

Mendengar perkataan itu kedua orang gadis itupun segera terbungkam.
Pada saat itulah terdengar suara pintu kamar diketuk orang.
Lekas Siau-si membuka pintu, serunya kemudian, “Ooh, rupanya Tongcu, silakan masuk!”
“Hahaha, bocah kunyuk, kau sudah membuat masalah besar di luaran sana sehingga menyebabkan kami semua tegang setengah mati, tapi kau sendiri malah mendekam di kamar mencari kesenangan.”
“Hahaha, jadi mereka telah menemukan mayat-mayat itu?”
“Cau-ji, bagus sekali tindakanmu, Cin Se-si memang perempuan berilmu silat paling tinggi di antara empat wanita lainnya, dia pun berhati bengis, kejam dan jahat, dengan kematiannya berarti kita sudah tak perlu repot lagi.”
“Paman, Cau-ji sendiri nyaris mati di tangannya.”
“Ooh, apa yang terjadi?”
“Paman, ilmu barisan merah empat musim dari keempat pembantunya sangat lihai, hampir saja Cau-ji tak mampu menahan diri.”

Secara ringkas ia menceritakan pengalamannya.
“Hahaha, setelah menderita kerugian, lain waktu kau pasti akan lebih pintar, lain kali jangan lupa menyerang dengan ilmu jari atau mencari sebilah pedang untuk menjaga diri begitu pertarungan mulai berlangsung, mengerti?”

“Paman, bagaimana kalau Cau-ji membawa pisau belati yang kutemukan dalam gua itu?”

“Benar, dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, ditambah membawa senjata mestika, maka keadaanmu ibarat harimau tumbuh sayap. Ehmm, carilah kesempatan untuk mengambil balik senjata itu.”

“Paman, ketika kita menyusup ke dalam markas besar nanti, tak ada salahnya kita ambil dulu senjata mestika itu.”
“Cau-ji, inilah alasan kenapa paman datang kemari, paman bermaksud mengubah siasat yang kita gunakan, kita tak perlu menyatroni mereka lagi, biar Su Kiau-kiau sekalian yang datang mencari kita, dengan begitu kita lebih gampang memusnahkannya.”

Cau-ji melirik kedua orang gadis itu sekejap, kemudian sahutnya sambil tertawa, “Bagus, bagus sekali, terus terang, Cau-ji memang kurang paham soal alat jebakan, aku kuatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan.”

“Cau-ji, untuk menciptakan situasi yang lebih seram agar Su Kiau-kiau semakin ingin datang kemari, paman berencana memintamu melakukan lagi peran sebagai manusia penghancur mayat!”
“Bagus, tapi enci Bun dan enci Si….”
“Hahaha, tentu saja suami kemana istri harus ikut, demi melindungi identitasmu, lebih baik mereka berdua sedikit mengubah wajah, lagi pula jangan terlalu sering berkumpul denganmu, mengerti maksud paman?”

Dengan rasa girang bercampur malu, kedua orang gadis itu menundukkan kepalanya.
Cau-ji manggut-manggut berulang kali.
“Baiklah Cau-ji, besok pagi berangkatlah, kalian harus membuat persiapan!”

Author: 

Related Posts

Comments are closed.