Cerita Sex Cinta Sejati – Part 6

Cerita Sex Cinta Sejati – Part 6by on.Cerita Sex Cinta Sejati – Part 6Cinta Sejati – Part 6 Sudah yuk Kita kembali ke perkemahan kataku sambil berdiri mengajak Pipit kembali ke perkemahan. Tatapan Pipit tak bisa aku artikan, tapi dia menurut kembali berjalan bersamaku kembali ke perkemahan. Cinta Sejati Bagian 5 Hati-hati dengan Hati (2) Malam itu, tak ada kejadian yang berarti lagi antara aku dan Pipit. Acara […]

multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-12 multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-13 multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-14Cinta Sejati – Part 6

Sudah yuk Kita kembali ke perkemahan kataku sambil berdiri mengajak Pipit kembali ke perkemahan.
Tatapan Pipit tak bisa aku artikan, tapi dia menurut kembali berjalan bersamaku kembali ke perkemahan.

Cinta Sejati
Bagian 5
Hati-hati dengan Hati (2)

Malam itu, tak ada kejadian yang berarti lagi antara aku dan Pipit. Acara api unggun yang sebenarnya seru dan heboh, terasa hambar buatku. Bagaimanapun, aku baru saja mengalami kejadian pahit.
Sepanjang acara, aku hanya menatap Pipit dari kejauhan, menatapnya yang juga terlihat gelisah dan serba salah. Berkali-kali aku melihatnya seperti sedang mencari sesuatu. Ah, mungkinkah dia mencari aku, hatiku galau sendiri.

Seminggu setelah perkemahan, aku merasa begitu canggung jika harus bertemu dengan Pipit. Berkali-kali dia sms menanyakan bagaimana kabarku, namun nyaliku begitu ciut untuk membalasnya. Aku menghindar, berusaha tidak bertemu dengan Pipit. Agak mudah aku lakukan karena aku masuk pagi dan Pipit masuk siang.
Namun hari itu, setelah seminggu aku berusaha menghindari Pipit, aku akhirnya tertangkap basah olehnya saat sedang melamun di sekretariat Pramuka. Saat itu aku benar-benar bad mood, sehingga memilih kabur dari pelajaran terakhir dan memilih nongkrong di sekretariat Pramuka. Ternyata hari itu Pipit datang cepat, dan nasib mempertemukan kami di sekretariat Pramuka.

eh, Pipit tumben udah dateng sapaku salah tingkah.
Iya kak, hari ini Pipit naik angkot karena mobil antar jemputnya rusak jawab Pipit.
Pipit memang pulang pergi sekolah dengan naik angkutan khusus bersama beberapa anak SMP dan SD yang menjadi penumpang tetap mobil itu, diantar jemput dari rumah ke sekolah setiap hari.

Lama juga kami terdiam, aku menyibukkan diri dengan komputer sementara Pipit memilih duduk di bangku rapat.

Kak Raka sekarang berubah kata Pipit pelan. Sombong sekarang ama Pipit

Aku terhenyak, walau sudah aku duga akan terjadi percakapan seperti ini namun tak ayal sempat membuatku tak mampu berkata apa-apa.

Maafkan kakak, Pit Kakak gak bermaksud begitu.. jawabku bingung Tapi Pipit tau sendiri lah.. Kakak juga bingung harus gimana

Iya Pipit paham, tapi ya gak harus gitu juga kali, Kak tukas Pipit.

Salah Kakak, Pit Maafkan Kakak ya aku menyerah tak mau berdebat dengan bidadari cerdas ini. terus terang Kakak masih sedih di tolak ama Pipit, makanya jadi begitu Maafkan Kakak ya

Kami saling menatap. Aku dengan tatapan rindu sementara Pipit dengan tatapan yang gak jelas antara marah ama kecewa.

Padahal Pipit selalu berharap bisa bertemu Kak Raka katanya pelan. Pipit nyariin tau, Kak.. tatapan matanya berkilat karena kecewa, dan aku dengan sukses jadi makin bingung dan serba salah.

Tak ada yang bisa aku lakukan lagi, hanya mampu membalas menatap matanya mencoba menyelami isi hatinya. Sampai akhirnya aku berdiri dan menghampiri Pipit, meraih tangannya mengajaknya berdiri dan dengan berpegangan tangan kami melangkah keruangan lain yang lebih private di sekretariat itu.

Diruangan itu, aku berdiri berhadapan dengan Pipit, kami saling bertatapan. Dengan hati-hati aku merengku bahunya, menariknya dalam dekapanku.
Tangan Pipit segera melingkar di pinggangku bersamaan dengan pelukanku merengkuh tubuhnya. Pipit menyandarkan pipinya di dadaku.

Seandainya kamu tau Aku sangat merindukan kamu, Pipit sayang bisikku lirih. Pipit semakin erat memelukku.
Tapi kenapa Kakak malah menghindar dari Pipit?? protesnya dengan nada manja menyentuh kalbu.
Habis Kakak harus gimana dong Pipit menolak kak Raka Kak Raka kan sedih, Pit.. jawabku.

Pipit semakin erat memelukku.
Hangat tubuh mungilnya yang hanya setinggi daguku, mengalir menghangatkan aku sampai ke dalam hati, meningkatkan detak jantungku, membuatku merasa sangat nyaman hingga mempererat pelukanku sampai terasa ingin melebur jadi satu dalam raganya.
Tak ada lagi kata-kata, kami seperti berusaha menyampaikannya melalui debaran jantungku yang menempel di telinga Pipit dan melalui hangatnya tubuh Pipit yang ku rengkuh.
Ya Tuhan, aku ingin selamanya bisa memeluk Pipit seperti ini. Terasa sekali aku sangat mencintai Pipit, dan aku sampaikan dengan makin eratnya pelukanku. Kami mulai bergerak, bergoyang pelan selayaknya orang berdansa yang aku sendiri belum pernah berdansa sebelumnya. Semua begitu natural mengalir begitu saja.

Pipit mengangkat wajahnya menatapku. Mata kami bertemu. Perlahan senyum terkembang di wajahnya.
Aku sangat mencintaimubisikku, dan Pipit kembali menenggelamkan kepalanya di dadaku.
Semua sudah sangat jelas. Aku bisa mengerti semua bahasa tubuhnya. Aku kembali mempererat pelukanku menumpahkan seluruh rasa cintaku pada Pipit.

Namun apalah dayaku, aku hanya seorang lelaki muda berusia 17 tahun dengan seluruh rasa dan hasrat yang terpendam, dan aku lelaki normal yang senormal-normalnya. Aku bukan lelaki maho yang disorientasi, dan pelukan hangat yang begini lama dengan sukses membuatku perlahan-lahan berdiri.

Setengah mati aku bertahan, mengalihkan pikiranku dari rasa itu, mengultimatum otak bahwa ini adalah pelukan penuh cinta. Tapi tetap saja aku merasakan bagian bawahku perlahan-lahan berdiri semakin tegak dan semakin keras menekan perut rata dan ramping milik Pipit.

Ya, penisku berdiri
Mengeras dan tegak menikam perut rata dan ramping milik Pipit.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.