Cerita Sex Cinta Sejati – Part 37

Cerita Sex Cinta Sejati – Part 37by on.Cerita Sex Cinta Sejati – Part 37Cinta Sejati – Part 37 Bagian 19 Cinta Kan Membawamu Kembali (Disini) Halaman Ketiga Mazda CX5 warna hitam milikku membelah malam di jalan antara Hanura menuju Bandar Lampung. Aku dan Pipit berangkat menuju ke Pondok Annisa milik Fredy. Sesampainya di Bandar Lampung, aku menyempatkan diri membelikan Pipit sebuah tablet, agar setidaknya Pipit ada hiburan selama […]

Cinta Sejati – Part 37

Bagian 19
Cinta Kan Membawamu Kembali (Disini)

Halaman Ketiga

Mazda CX5 warna hitam milikku membelah malam di jalan antara Hanura menuju Bandar Lampung. Aku dan Pipit berangkat menuju ke Pondok Annisa milik Fredy. Sesampainya di Bandar Lampung, aku menyempatkan diri membelikan Pipit sebuah tablet, agar setidaknya Pipit ada hiburan selama masa persembunyiannya. Aku pun sudah mengontak Didit dan Fredy, dan kami janjian akan bertemu jam delapan malam.

Aku sudah menyimpan nomor hape Pipit dan Bang Haiqal, tetapi tidak aku save di hapeku, hanya aku hapalkan saja. Begitu pula Pipit, nomor hapeku hanya dihapalkan saja. Ini semua bertujuan agar tidak ada bukti bahwa kami pernah melakukan percakapan di hape apabila nanti di perlukan, dan semua catatan panggilan pun langsung di hapus setelah menelpon.

Sesampainya di Pondok Annisa di Gedong Meneng, sudah ada Didit, Fredy dan Bagas di sana. Tinggal menunggu Bagas dan Bambang, sementara Yoyok, Zaldi dan Ucup tidak bisa hadir karena mereka kini tidak menetap di Bandar Lampung. Yoyok kini dinas dan menetap di Way Kanan, sementara Zaldi dan Ucup bekerja di Jakarta.

Apa kabar, bro kataku sambil menyalami mereka. Kenalkan, ini Pipit, Pit, ini namanya Bang Didit, yang itu Bang Fredy, kalo yang badannya gede namanya Mas Bagas, dan yang itu Mas Bambang

Pipit mengangguk hormat pada mereka. Kenalkan, nama saya Pipit

Selamat datang, Pit Salam kenal ya kata mereka.

Kami semua kemudian berkumpul dan ngobrol di aula yang memang biasa dipergunakan untuk menerima tamu di pondokan ini. Untungnya, suasana sedang sepi karena ini malam Senin. Tak lama kemudian, Mas Dodo dan istrinya datang membawakan minuman dan camilan.

Sudah siap semua, Mas? tanya Fredy pada Mas Dodo.

Sudah, Mas sahut Mas Dodo.

Pit, ayo kita lihat kamarnya dulu kata Fredy.

Boleh, bang Sahut Pipit. Ka? Pipit menoleh ke arahku seakan minta persetujuanku dan minta ditemani sekalian.

Ayo jawabku sambil membawa tas bawaan Pipit. Bagas dan Didit langsung tertawa.

Wah, si Pipit gak berani kalo cuma ama lu doang Pet Sampe ngajak si Raka dia ledek Bagas.

Tau dia kalo lu itu penjahat hahaha sahut Didit.

Pipit sampai memerah mukanya diganggu seperti itu. Kami semua jadi tertawa.

Tenang coooy Kalo permaisurinya kawan, gua gak bakal ganggu sahut Fredy sambil tertawa. Tenang aja Pit, gak usah diladenin mereka itu, orang sarap semua itu

Pipit hanya tersenyum malu, dia melangkah semakin mendekat ke arahku. Kami berjalan beriringan ke salah satu salah satu kamar di lantai 1. Mas Dodo membuka kunci pintu dan menyalakan lampu.

Kamar itu cukup luas, dimana terbagi menjadi 3 ruang, ada ruang tamu sekaligus ruang belajar, kamar, dan area dapur dan kamar mandi, dengan AC dan TV sebagai perlengkapan standar. Kami mengikuti Fredy yang menjelaskan isi kamar tersebut. Mantap, memang kelas premium.

Silakan kalo kamu beberes dulu, Pit kataku pada Pipit. Kaka dan yang lain akan menunggu di aula

Iya, Ka jawab Pipit. Abang-abang semua, makasih banyak ya

Kemudian aku dan teman-temanku menuju aula.

Jadi itu yang namanya Pipit, pacar lu waktu SMA itu ya? tanya Bagas padaku.

Iya jawabku. Jadi ceritanya begini

Aku kemudian menceritakan secara rinci dan berurutan, bagaimana kisahnya sampai Pipit ada di sini. Teman-temanku mendengarkan dengan serius.

Nah, jadi gitu ceritanya kataku akhirnya.

Artinya lu harus siap-siap, bro Bahkan pada kemungkinan paling buruk kalo lu dilaporin ke polisi ama keluarganya kata Didit.

Kemudian kami berdiskusi, langkah apa yang akan kami lakukan. Pada intinya, semua sahabatku akan mendukung dan membantuku sepenuhnya. Harapan yang terbaik, aku akan menikah dengan Pipit, dan yang terburuk aku dipenjara karena melarikan anak gadis orang.

Ya udah, sip kalo gitu Kita tinggal nunggu aja apa yang bakal kejadian setelah ini kata Fredy. Laper nih, gua belum makan malam. Kita makan sate aja ya? kata Fredy.

Kemudian, dia menyuruh Mas Dodo membeli sate madura. Tak lama kemudian kami semua, termasuk Pipit, makan bersama di aula itu.

Tak terasa, hari sudah hampir jam sebelas malam. Kami kemudian bubar, aku rencananya akan langsung ke Metro setelah dari sini. Aku mengantarkan Pipit sampai ke kamarnya, sementara teman-temanku sudah pulang duluan.

Jadi setelah ini Kaka langsung ke Metro? tanya Pipit. Dia sudah masuk ke dalam kamarnya, sementara aku hanya berdiri dan bersandar di pintu.

Iya Supaya besok Kaka bisa ikut apel pagi jawabku. Pipit gak apa apa kan sementara tinggal di sini?

Gak apa kok, Ka Tempatnya bagus, kok dan kayaknya nyaman juga jawab Pipit sambil tersenyum. kayaknya Pipit bakal betah deh di sini

Ya sudah Kalo gitu Kaka pamit, ya kataku. Sekarang kamu istirahat. Kalo sampai perlu apa-apa, kamu tinggal bilang sama mas Dodo atau istrinya, Kaka sudah titipkan kamu secara khusus pada mereka Jangan lupa kabari Kaka kalau Pipit ada perlu apa pun. Besok sore Kaka sudah di Bandar Lampung lagi, kok sementara ada kamu di sini, Kaka akan kerja pulang pergi ke Metro setiap hari

Pipit meraih tanganku, dan menciumnya.

Makasih banyak ya, Ka katanya kemudian, sambil tersenyum padaku.

Sama-sama, sayangku. Jawabku sambil tersenyum, dan mengusap kepalanya lembut. Pipit sampai terpejam menikmati usapanku di kepalanya yang masih terbalut jilbab.

Kaka berangkat sekarang, ya kataku akhirnya. jaga dirimu baik-baik ya

Iya, Ka Hati-hati di jalan ya Nanti setelah sampai di Metro jangan lupa kabari Pipit Pipit gak akan tidur sebelum Kaka ngasih kabar kalo Kaka sudah sampai dengan selamat kata Pipit sambil menatapku.

Iya, nanti akan Kaka telpon jawabku. Kaka pamit ya

Hhmmmm Gak cium Pipit dulu? tanya Pipit sambil menatapku malu-malu.

Aku langsung mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang. Nanti saja, Kaka akan kumpulkan semua ciuman yang ingin Kaka berikan sejak tadi, dan akan Kaka berikan nanti setelah kita menikah. Jawabku sambil tersenyum.

Mendengar jawabanku, Pipit semakin erat menggenggam tanganku. Aku menatap gadis yang sangat aku cintai ini dengan penuh kasih sayang. Sungguh, sangat susah sekali menahan hasrat agar tidak memeluk dan menciumnya saat ini.

Kalo dipegangin terus, Kaka gak bisa berangkat nih kataku sambil tertawa geli melihat tingkah Pipit.

Iyaaa. Kata Pipit melepaskan genggamannya, tapi dia kemudian mengusap pipiku dengan lembut. Hati-hati di jalan ya, Ka

Iya. Jawabku sambil tersenyum. Kaka berangkat ya Assalamualaikum

Waalaikumussalam jawab Pipit sambil tersenyum manis.

~???????~??db??~???????~

Senin, 16 Desember 2013, 19.30 WIB.

Aku dan Pipit sedang makan malam di ruang tamu kamar kost Pipit ketika hape Pipit berbunyi menandakan ada sms masuk. Seketika kami berdua terdiam, dan Pipit membaca sms yang baru saja masuk itu.

Duh, Ka. Kata Pipit dengan wajah yang kini tampak sangat khawatir.

Aku membaca sms itu, dari Bang Haiqal.

Kami ke Lpg malam ini by Limex, papa mau cari Raka di ktrnya besok. Siap2. Jgn balas, aman.

Aku mengerutkan kening. Bang Haiqal dan papanya akan ke Lampung malam ini naik kereta dari Palembang, dan akan mencariku di kantor besok.

Bagaimana beliau bisa tau aku berkantor di mana?

Gimana ini, Ka? tanya Pipit dengan tatapan cemas. Papa mau datang dan nyariin Kaka.

Pipit tenang aja jawabku mencoba menenangkannya. Kan gak ada bukti kalo Pipit bersama Kaka saat ini Lagi pula ada Bang Haiqal, pasti dia sudah punya rencana, dan dia pasti membela kita

Pipit terdiam, terlihat sekali dari wajahnya bahwa dia sangat gundah saat ini.

~???????~??db??~???????~

Selasa, 17 Desember 2013, 09.30 WIB.

Aku mendengar suara gaduh dari luar ruanganku. Tiba-tiba pintu ruanganku terbuka dengan kasar.

Mana yang namanya Raka??! teriaknya begitu masuk ruanganku. Teman-teman seruanganku seketika terkejut dengan kehadirannya yang mengagetkan itu.

Aku menatap lelaki tua yang datang itu, aku masih bisa mengingat siapa dia. Dia adalah orang yang pernah menamparku dengan keras, dan meninggalkankan aku di pinggir kota.

Dia, Papanya Pipit.

Wajahnya tampak tegang, matanya menyapu seluruh ruangan dan akhirnya bertemu pandang denganku. Dengan segera dia langsung menghampiri mejaku. Sementara seorang lelaki muda berjalan mengikuti di belakangnya, berdiri gelisah karena sikap orang ini. Dia, Bang Haiqal.

Aku segera berdiri dari bangku, dan tersenyum pada mereka.

Saya Raka, Pak. Silahkan duduk kataku mempersilahkan beliau sambil menarik kursi yang ada di depan mejaku.

Gak usah banyak basa basi! bentaknya sambil menarik kerah bajuku. Dimana anak saya??

Pa Sabar, pa Gak enak ini kantor orang kata lelaki muda yang berdiri di belakangnya. Tapi si lelaki tua tampak tak perduli.

Sebentar, pak Ada apa ini sebenarnya?? tanyaku sambil berusaha menenangkannya.

Jangan belagak gak tahu kamu, ya! Dimana kamu sembunyikan anak saya?? Saya laporkan ke polisi baru tahu, kamu! bentaknya lagi, cengkeramannya di bajuku semakin keras.

Sebentar, Bapak ini siapa?? Dan yang Bapak maksud anak Bapak itu, anak yang mana?? tanyaku.
Tentu saja pura pura tidak ingat.

Kamu gak ingat sama saya, hah?? Saya ayahnya Pipit.! bentaknya lagi.

Aku memasang muka emosi. Oh, iya Saya ingat sekarang. Anda Papanya Pipit Maafkan saya, bagaimana saya bisa melupakan orang yang pernah menampar saya. kataku dingin.

Hoho bagus jika kamu masih ingat peristiwa itu! Sekarang cepat kamu bilang dimana Pipit, sebelum saya menghajar kamu lagi!

Pa Sudahlah jangan bikin keributan di kantor orang kata lelaki muda yang berdiri di belakangnya. Tapi si lelaki tua tetap tak perduli.

Silakan duduk dulu, pak Kita bisa bicarakan baik baik kataku lagi.

Gak perlu! bentaknya gusar, bahkan dia masih mencengkeram kerah bajuku, hampir membuatku tercekik. Aku terpaksa mengeraskan otot leherku, mukaku jadi memerah dibuatnya.

Oooh.. Kamu mau melawan, ya??? Mau saya hajar, hah?? katanya semakin emosi melihat wajahku yang mengeras dan memerah.

Ya elah, Paaakkkk siapa yang melawan.??? Tercekik, neeehhh

Lelaki muda di belakangnya hanya bisa menggelengkan kepala.

Aku sudah tak sabar lagi. Aku pegang lengannya yang mencengkeram kerah bajuku dengan erat. Bapak tiba-tiba datang, marah-marah dan menyerang saya Saya yang akan melaporkan ke polisi, saksinya banyak dan semua teman saya desisku kepadanya. Jika masih mau, saya masih menawarkan pada Bapak untuk bicara baik-baik

Papanya Pipit semakin emosi, tapi dia tidak berbuat apa-apa. Dengan satu sentakan keras penuh kekesalan, dia melepaskan kerah bajuku.

Silakan duduk, pak kataku setelah beliau agak tenang. Silakan duduk, Mas kataku pada Bang Haiqal, tetap berpura-pura tidak kenal. Bang Haiqal memberikan kode kepadaku dengan gerakan matanya. Aku mengerti, aku diminta untuk meladeni papanya dengan sabar. Aku menganggukkan kepala perlahan.

Sekarang kamu bilang, dimana kamu sembunyikan Pipit! kata papanya lagi, masih dengan nada marah.

Maaf, tapi saya masih gak mengerti maksud Bapak. Kataku dengan tenang. Memangnya Pipit kemana? Kenapa saya disangka menyembunyikan Pipit??

Karena kamu beberapa hari yang lalu menemui Pipit di Palembang, dan kamu juga ribut dengan calon suaminya Sekarang Pipit kabur, pasti kamu yang sudah menghasut Pipit supaya mau kabur dari rumah, padahal dia sudah mau menikah besok! Pasti kamu yang menghasutnya, pasti kamu yang ingin pernikahannya batal, kan??! kata papanya dengan penuh emosi. Kamu jangan coba-coba berbohong, ya! Saya tahu kamu lah dalang dari semua ini.!

Saya memang ke Palembang dan menemui Pipit, tapi itu untuk bersilaturahmi, Pak kataku mencoba menjelaskan dengan nada sabar. Kalo masalah ribut dengan calon suaminya, itu semua karena dia salah paham saja saat melihat saya sedang ngobrol sama Pipit

Sekilas aku melihat Bang Haiqal tersenyum tipis. Makasih supportnya, Bang

Wajar calon suaminya marah, karena dia melihat kamu sampai memegang-megang Pipit! tukasnya lagi.

Saya akui, saya memang salah dalam hal itu kataku lagi. Tapi kalo sampai masalah kaburnya Pipit dari rumah, saya benar-benar tidak tahu.

Kamu jangan coba-coba membohongi saya! Karena kamu menemui Pipit, Pipit jadi berubah, tak mau menurut pada saya lagi!

Kenapa Bapak tidak mencoba menelpon Pipit saja?

Gak mungkin, hapenya ada pada saya, saya sita supaya kamu tidak menghubungi dia lagi!

Kalo begitu, bukan salah saya jika sekarang Pipit tidak bisa dicari Seandainya Bapak tidak mengambil hapenya, mungkin Pipit sekarang bisa diketuhui dimana dia berada

Kamu jangan mencoba memutar balikkan fakta, ya! Malah menyalahkan saya! Sudah jelas kamu yang mempengaruhi Pipit sampai dia kabur dari rumah dan menghindari pernikahannya!

Saya tidak memutarbalikkan fakta, Pak Tapi saya benar-benar gak tahu Pipit dimana Sejak pulang dari Palembang kemarin, saya sudah tidak pernah menghubunginya lagi. Saya juga gak mau dimarahi oleh calon suaminya, Pak Mana calonnya itu galak bener, gak pake nanya langsung maen pukul Jadi ngapain saya menghubungi Pipit?? Saya gak mau dipukuli lagi, Pak Sudah Bapak pernah memukuli saya, ini sekarang calon suaminya Terus terang saya kapok berurusan dengan Pipit, Pak Kapok Saya digebukin terus setiap dekat dengan Pipit

Bang Haiqal sampai menunduk menahan tawa mendengar penjelasanku.

Aku berusaha setengah mati menahan ekspresi serius yang aku pasang sejak tadi, walau sudah hampir terbawa seperti kelakuan bang Haiqal.

Papanya Pipit terdiam, aku berharap dia termakan oleh ucapanku barusan.

Saya mohon maaf, pak Jika kedatangan Bapak bermaksud untuk mencari tahu dimana Pipit berada dari saya, saya mohon maaf Saya benar-benar tidak tahu kataku lagi. Karena sejak pertemuan di Palembang kemarin, saya tidak pernah lagi menghubungi Pipit. Bapak bisa lihat di hapenya yang ada sama Bapak, apakah ada saya menghubungi Pipit? Selain saya kapok dan takut, saya juga tahu kalo Pipit akan segera menikah.. Sekali lagi saya mohon maaf, saya gak bisa membantu Bapak mencari Pipit. Saya sungguh-sungguh gak tahu Pipit dimana

Orangtua itu menghela nafas kesal, tapi kini tak berbuat apa-apa lagi.

Saya mengenal beberapa orang teman akrab Pipit yang masih ada di Lampung, nanti saya akan coba membantu cari kabar dari mereka kataku lagi, mencoba meyakinkan beliau dengan niat akan membantu.

Maksud kami sebenarnya juga begitu, Mas Raka kata bang Haiqal tiba-tiba menimpali. Oh, iya Kenalkan, saya adalah kakak kandung Pipit Jika Mas Raka bisa membantu kami dengan mencari kabar dari teman-temannya yang ada disini, kami akan sangat berterima kasih

Papanya menatap Bang Haiqal agak tidak setuju.

Tentu saja, Mas Saya akan berusaha semampu saya akan mencoba mencari Pipit juga Semoga ada titik terang

Terima kasih, Mas

Kalo saudara yang masih ada di sini, sudah coba di lacak, Mas? tanyaku pada Bang Haiqal. Setidaknya dengan bicara dengan Bang Haiqal yang bersikap kooperatif, aku bisa menyadarkan papanya yang sejak tadi marah-marah.

Setelah dari sini, kami akan mencoba mencari pada sanak saudara kami disini

Kalo gitu saya minta nomor hapenya ya, mas Biar kita bisa saling mengabari jika ada kabar tentang Pipit

Aku dan Bang Haiqal bertukar nomor hape. Papanya diam saja.

Pak kataku pada papanya Pipit. Terus terang, kabar Pipit kabur dari rumah ini saja sudah membuat saya khawatir. Saya berjanji akan berusaha membantu untuk menemukan Pipit. Semoga saja upaya saya ada hasilnya

Papanya Pipit tetap terdiam. Kini tampak jelas beliau tampak kacau sekali.

Mohon maaf, Pak saya bisa merasakan peristiwa ini sangat berat buat kita semua. Saya bisa merasakan apa yang Bapak rasakan saat ini kataku padanya dengan lembut. Tapi sekali lagi mohon maaf, saya berharap Bapak mau sedikit bersabar, agar tidak berpengaruh buruk pada kesehatan Bapak Sekali lagi saya mohon maaf

Papanya menatapku dengan pandangan yang menyala.

Terimakasih atas sarannya, Mas Saya juga takut karena terlalu emosi, berpengaruh pada kesehatan papa saya kata Bang Haiqal, lalu menatap Papanya. Kita pergi sekarang, Pa? Haiqal rasa si Raka memang gak tau Pipit ada di mana

Papanya mengangguk, lalu beliau berdiri dan melangkah pergi begitu saja.

Makasih banyak, Mas Raka Mohon maaf pada kejadian tadi Kami mohon permisi kata Bang Haiqal sambil menjabat tanganku. Bang Haiqal mengedipkan matanya padaku. Amaan katanya perlahan sambil tertawa pelan.

Makasih banyak, bang bisikku pada Bang Haiqal, benar-benar berterima kasih. Lega sekali rasanya. Jagain papa, bang

Sambil berjalan mengejar Papanya yang sudah pergi duluan, Bang Haiqal mengangkat jempol, lalu memberi kode untuk menelpon dengan jarinya. Aku mengangguk, sambil mengawasi kalau saja komunikasi diam-diam kami diketahui oleh papanya Pipit.

Dan mereka pun pergi. Segera saja aku dikerubuti teman-teman sekantor yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

~???????~??db??~???????~
Selasa, 17 Desember 2013, 19.30 WIB.

Saat makan malam, aku menceritakan semua kejadian yang aku alami saat di kantor kepada Pipit. Pipit terdiam, terlihat sekali wajahnya sangat berduka.

Aku bisa merasakan kesedihannya. Pipit selama ini memang sangat dekat dengan papanya.

Aku hanya bisa menghiburnya, meyakinkan Pipit bahwa ada Bang Haiqal yang akan selalu menjaga papanya. Pipit agak terhibur walau masih terlihat gurat duka di wajahnya.

~???????~??db??~???????~

Kamis, 19 Desember 2013, 16.30 WIB.

Sejak pagi ini aku sudah bersama dengan Pipit. Sejak pagi aku sudah menjemput Pipit di Pondok Annisa, dengan mengemudikan Civic milik Didit aku membawa Pipit jalan-jalan. Hari itu aku sengaja tidak masuk kantor, dan seharian kami keliling kota, bahkan sampai jauh ke pantai Elty di Kalianda.

Karena hari ini, adalah hari yang khusus. Seharusnya, Pipit hari ini menikah dengan Bram.

Aku berusaha mengurangi beban pikirannya, dengan membawanya jalan-jalan. Cukup sukses, Pipit tampak ceria hari ini. Walau tampak jelas dia berusaha tidak memikirkan masalah yang sedang dihadapinya.

Sementara hanya ini yang aku bisa, aku hanya diminta menjaganya. Seandainya Pipit kabur dari rumah ini dengan tujuan untuk kawin lari denganku, pasti akan lebih banyak hal yang bisa aku perbuat untuk Pipit.

Kami sampai di Pondok Annisa menjelang maghrib. Saat masih ngobrol dengan Pipit di ruang tamu, Bang Haiqal menelponku. Aku aktifkan loudspeaker agar Pipit juga bisa mendengarkan.

Ka, abang sekarang sudah di Palembang lagi, tadi pagi sampai kata Bang Haiqal. dan tadi siang sudah ada pertemuan dengan keluarga Bram, akhirnya secara resmi pernikahan Pipit dan Bram sudah dibatalkan.

Lalu kondisi papa gimana bang..? tanyaku.

Kalo kesehatannya, beliau baik-baik saja. Memang sih, masih marah-marah terus. Ini aja abang tinggalin, abang pusing juga mendengar dia ngoceh terus. kata Bang Haiqal lagi.

Syukurlah kalo begitu, bang Pipit bersyukur Papa sehat-sehat saja kata Pipit menimpali.

Iya, dek sahut Bang Haiqal. Sekarang abang tinggal mikirin bagaimana caranya supaya kamu bisa pulang Kan gak mungkin kamu ngabur terus, bikin repot keluarga disini dan disana kamu bikin repot Raka

Iya bang, itu yang masih jadi ganjalan buat Pipit keluh Pipit. Mana Pipit belum tau gimana caranya supaya bisa pulang, supaya papa gak sampai marah ama Pipit

Begini, kalo kamu dan Raka setuju, abang punya rencana kata Bang Haiqal bersemangat.

Rencananya begini..

~???????~??db??~???????~

Jumat, 28 Desember 2013, 18.30 WIB.

Assalamualaikum, bang

Waalaikumussalam Raka, apa kabar?

Alhamdulillah baik, bang jawabku. Bang, saya dapat kabar Pipit ada dimana, dan setelah saya cek langsung, memang benar ada disitu

Oh ya? Trus gimana, ceritakan sama abang, kebeneran abang sedang sama papa dan mama nih terdengar suara latar orang ribut bertanya di belakang Bang Haiqal.

Saya kan menghubungi semua teman Pipit yang saya tahu, kebetulan ada seorang teman saya adalah sepupu dari temannya Pipit ini jawabku lagi.

Raka, ini Papa, nak terdengar suara Papanya di telpon, aku sampai terkejut. Suara beliau terdengar ramah walau tak bisa menyembunyikan nada khawatirnya. Gimana ceritanya? Kamu sudah menemukan Pipit?

Begini, pak Saya kan menghubungi semua teman Pipit yang saya tahu, kebetulan ada seorang teman saya adalah sepupu dari temannya Pipit inikataku mengulang penjelasanku. Rupanya, selama ini Pipit berada di rumah sepupunya itu, di Jakarta. Ini Raka sudah di Jakarta, mengawasi dari depan rumahnya. Pipit benar ada disini, Pak Tadi Raka sudah melihat Pipit baru pulang dari sholat maghrib di masjid. Jika Bapak izinkan, saya akan menemui Pipit di rumah itu sekarang

Alhamdulillah suara papanya terdengar lega. Temui Pipit, nak Papa mohon tolong kamu temui dia Bujuk dia pulang Kalo bisa tolong nanti tolong telpon Papa lagi, biar Papa bicara dengan Pipit

Baik, pak jawabku lagi. Tolong doakan agar Pipit mau menemui saya nanti, Pak

Iya iya pasti Papa berdoa semoga Pipit bisa kamu bujuk Tolong bicara baik-baik padanya, ya Bilang sama dia Papa yang bersalah, mintakan maaf Papa padanya Sampaikan juga bahwa Papa yang meminta kamu mencari dia Ajak dia pulang, supaya Papa bisa ngomong sama dia, Papa akan turuti semua maunya Pipit, Papa gak akan memaksanya lagi

Iya, Pak Kalo begitu, sekarang saya akan menemui Pipit dulu jawabku pelan. Mohon dibantu doa ya, Pak

Iya.. iya. Segera kabari Papa, ya

Baik, pak Assalamualaikum

Waalaikumussalam

Percakapan telepon itu aku tutup, lalu aku menatap Pipit yang duduk di sebelahku. Matanya tampak berkaca-kaca, sudah hampir tak mampu menahan tangis.

Papa. hikz isaknya lirih. Pipit gak nyangka Papa bisa berubah begitu, Ka

Aku menghela nafas, tak mampu berkata apa-apa lagi.

Sudaaah Jangan cengeng gitu, ah Sekarang siap-siap, sebentar lagi telpon Papa kamu Minta ampun sama beliau. kata Anne.

Saat itu kami memang berada di rumah Anne, di daerah Puri Kembangan Jakarta Barat, duduk berempat bersama suami Anne. Ini memang bagian dari rencana yang disusun Bang Haiqal, dan kami bersyukur Anne dan suaminya berkenan membantu menjalankan rencana ini.

Kami menunggu hingga satu jam lamanya, sebelum aku menelpon bang Haiqal kembali. Kembali loudspeaker aku nyalakan agar semua yang hadir dapat mendengarkan percakapanku.

Assalamualaikum sapa bang Haiqal saat mengangkat panggilanku.

Waalaikumussalam Bang, ini Raka sudah bertemu dengan Pipit jawabku.

Gimana Gimana? kata bang Haiqal cepat, seakan tak sabar ingin tahu bagaimana kabar adiknya. Pipit mau kan diajak pulang

Itu dia masalahnya, bang Pipit masih belum mau di ajak pulang

Raka, ini Papa, nak Kamu berhasil membujuk Pipit? Papanya Pipit langsung mengambil alih pembicaraan.

Maaf pak, Pipit bersikeras belum mau pulang. Kataku dengan nada suara dibuat lemas. Saya sudah berusaha membujuknya, tapi dia ngotot. Setelah saya tanya, alasannya gak akan pulang karena dia gak mau dinikahkan dengan Bram

Mana, serahkan hapenya pada Pipit. Biar Papa yang bicara langsung padanya kata papanya cepat.
Aku menoleh menatap Pipit, dan mendapatkan isyarat anggukan kepalanya.

Sebentar, pak Saya cari lagi dia ke dalam Ini saya menelpon dari luar rumahnya jawabku. Sebenarnya tadi saya sudah di usir oleh Pipit, Pak Semoga dia mau menemui saya lagi

Iya Tolong kamu usahakannya Papa benar-benar ingin bicara dengannya

Baik, pak Saya tutup dulu teleponnya, nanti akan saya telpon lagi kataku, kemudian aku menutup telepon itu.

Nah, Pit Sekarang teleponlah papa kamu Jangan terlalu keras padanya kata Anne. Bagaimana pun, apa yang beliau lakukan niatnya adalah untuk kebahagiaa kamu. Kamu juga harus selalu berbaik sangka pada beliau, walau pun keinginan kamu dengan beliau berbeda, tapi yakinlah kebahagiaanmu adalah yang terpenting buat beliau.

Pipit hanya bisa mengangguk. Aku menatap Pipit, mencoba memberikan kekuatan pada hatinya.

Lima menit kemudian, aku menelpon kembali.

Assalamualaikum suara papanya langsung terdengar.

Waalaikumussalam, papa kata Pipit pelan.

Pipit Ya ampun, nak Kamu sekarang dimana? Sehat kan? Kamu baik-baik saja, kan.? Kata papanya bertubi-tubi begitu mendengar suara Pipit.

Alhamdulillah sehat, Pa Pipit di Jakarta Di rumah Anne jawab Pipit, kini dia berusaha menahan tangisnya.

Syukurlah, Papa khawatir sekali padamu kata papanya lagi. Pulanglah, nak Papa sengsara sekali saat kamu pergi, setengah mati Papa mencarimu kemana-mana.

Tangis Pipit meledak begitu mendengar perkataan papanya. Kami semua terdiam, terbawa haru oleh suasana ini.

Papa minta maaf padamu, ampuni Papa Mungkin Papa terlalu memaksakan kehendak Papa padamu Tapi sekarang Papa sadar, kamu yang akan menjalani, maka seharusnya semua keputusan itu ada pada kamu, Papa hanya bisa merestuinya saja

Pipit semakin terisak. Pipit juga minta maaf sama Papa

Pipit segera pulang ya, kasihani Papa dan Mama, kami semua sangat khawatir karena tak tahu bagaimana keadaanmu

Pipit mau pulang, Pa Tapi Pipit gak mau menikah dengan Bram Setelah kejadian ribut dengan Raka kemarin, Bram menunjukkan sifat aslinya Pipit gak suka Bukan seperti itu suami idaman Pipit

Sudah, jangan kamu pikirkan hal itu. Papa sudah mengerti semuanya. Yang paling penting buat Papa adalah kebahagiaanmu Jika memang itu sudah keputusanmu, maka tenang saja, nak Pernikahan kalian sudah Papa batalkan. Mau seperti apa pun bagusnya menantu yang akan Papa dapatkan, tak akan ada gunanya bila anak papa malah tidak bahagia.

Papa sudah tidak peduli bagaimana tanggapan keluarga Bram Bahkan jika nanti kamu pulang nanti mereka masih berusaha untuk mengusahakan pernikahan kalian lagi, jika kamu tidak mau maka Papa pun tidak akan mau. Papa akan mendukung semua keputusan kamu, nak kata Papanya lagi. Yang penting, kamu jangan tinggalin Papa lagi. Papa benar-benar tak mampu menahan kesedihan saat kamu pergi

Pipit semakin sedih. Tangisnya semakin menjadi.

Pulanglah segera ya, nak Papa kangen banget sama kamu kata papanya perlahan.

Iya, Paa Pipit besok segera pulang Pipit besok pulang, Pa jawab Pipit dengan seluruh ledakan emosinya, airmata berlinang di pipinya.

Terimakasih, nak Papa sekarang bahagia sekali Papa tunggu kedatanganmu besok ya suara papanya kini terdengar serak, beliau pun tak mampu menahan rasa haru.

Iya, Pa Maafkan Pipit ya, pa Ampuni Pipit Pipit juga sudah gak sabar ingin bersujud mohon ampun pada Papa

Desiii pulang ya, naakkk. Terdengar suara mamanya yang menangis.

Iya, Maa Desi akan segera pulang besok Desi kangen sama Mama. Pipit menangis lagi begitu mendengar suara mamanya.

Nak, mana Raka? Papa mau bicara sama dia kata papanya lagi.

Pipit menoleh menatapku. Ingin rasanya aku segera mengusap airmata di pipinya. Sebentar, Pa Pipit panggilkan dulu. Jawab Pipit.

Kami saling menatap sejenak, aku meraih hape yang disodorkan Pipit. Pipit langsung memeluk Anne dan menumpahkan tangisnya di bahu Anne. Anne dengan sabar mengusap punggung sahabatnya itu. Sementara Iskandar, suami Anne, hanya mampu duduk sambil menatap langit-langit rumahnya. Suasananya memang sangat emosional.

Saya, Pak kataku akhirnya pada papanya Pipit.

Raka, Papa ingin minta tolong sekali lagi padamu kata papanya Pipit begitu mendengar suaraku.

Insya Allah, pak Sekiranya saya mampu

Jika kamu tidak keberatan, tolong temani Pipit pulang ke Palembang Tolong antarkan dia sampai kami bertemu kembali dengannya. Papa juga ingin bertemu dengan kamu, ada hal yang ingin Papa bicarakan

Insya Allah saya siap, Pak Saya akan mengantarkan Pipit ke Palembang, jika Pipit memang mengizinkan

Bilang padanya, ini permohonan Papa kata papanya, Pipit sampai menoleh menatapku. Papa juga ingin sekali bertemu dengan kamu, Papa ingin minta maaf atas segala sikap buruk Papa selama ini padamu

Baik, pak Akan saya usahakan jawabku perlahan.

Baiklah Usahakan besok dapat pesawat biar cepat sampai, ya Papa sudah tak sabar ingin bertemu dengan kalian

Baik, pak, nanti bagaimana perkembangannya akan segera saya kabari…

Terimakasih, nak Papa permisi dulu. Assalamualaikum

Waalaikummussalam, Pak

Aku meletakkan hapeku di atas meja. Sejenak aku menatap Iskandar.

Lo itu aneh, Ka Beliau sudah menyebut dirinya Papa, lo masiiih aja manggil beliau Pak kata Iskandar sambil cengar cengir.

Paling sebentar lagi juga manggil Papa itu, Mas goda Anne menambahkan, Pipit yang cemberut malu semakin mempererat pelukannya pada Anne dan menyembunyikan wajahnya. Iskandar dan Anne tertawa, sementara aku hanya bisa tersenyum kecut.

Setelah mendapat persetujuan Pipit, aku dan Iskandar langsung sibuk menelpon sana sini mencari tiket pesawat ke Palembang. Akhirnya kami mendapatkan tiket untuk keberangkatan jam

Aku segera mengabari bang Haiqal lewat sms tentang jadwal keberangkatan kami ke Palembang besok. Bang Haiqal membalas bahwa dia yang besok akan menjemput kami ke bandara.

~???????~??db??~???????~

Sabtu, 29 Desember 2013, 11.00 WIB.

Begitu keluar dari gerbang kedatangan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin Palembang, Pipit yang melihat keluarganya yang datang menjemput, langsung berlari dan bersujud di kaki papanya. Papanya langsung mengangkat Pipit dan memeluknya. Aku yang menatap dari jauh hanya bisa terharu, dan meraih travelbag Pipit dan menariknya bersama dengan dengan travelbag milikku, ikut menghampiri mereka.

Ada Papanya, Mamanya, Bang Haiqal, dan dua gadis berkerudung adiknya Pipit yang datang menjemput.
Kita aku sampai di dekat mereka, Pipit sedang memeluk Mamanya, dikerubuti oleh kedua adiknya.

Begitu melihatku, papanya langsung menghampiri dan menepuk pundakku berkali-kali sambil tersenyum.

Raka. katanya sambil tersenyum lebar. Apa kabar, nak? Kamu mau kan memaafkan Papa? Tidak dendam kan pada Papa?

Saya juga mohon maaf, Pak Saya banyak bikin kesal Bapak

Ha.. ha.. ha Sudahlah.. Kita lupakan semua yang sudah berlalu Jadi kita saling memaafkan, kan? katanya sambil mengulurkan tangan mengajakku bersalaman. Aku segera mencium tangannya.

Saling memaafkan, Pak Lahir dan Bathin jawabku sambil tersenyum.

Wah, lebaran sudah lewat bro celetuk bang Haiqal sambil tertawa. Aku segera menghampirinya, dan menyalaminya.

Apa kabar bang salamku.

Sehaaatt jawab bang Haiqal sambil tertawa.

Makasih banyak, bang kataku perlahan, tulus berterimakasih atas seluruh bantuan bang Haiqal.

Sama-sama, Ka Abang juga banyak terima kasih karena kamu sudah susah payah menjaga Pipit jawab bang Haiqal sambil tersenyum padaku.

Selanjutnya aku menghampiri dan mencium tangan Mamanya Pipit, beliau langsung memelukku dan berkali-kali mengucapkan terimakasih. Kemudian kedua adikknya Pipit juga menyalamiku dan mencium tanganku.

Sungguh, hatiku sangat berbunga-bunga. Pipit yang sedang merangkul Papanya hanya menatapku sambil tersenyum. Kemudian papanya merangkul pundakku, dan membawa kami berdua berjalan dalam rangkulannya.

Ayo kita pulaaang. Kata beliau senang sambil tertawa-tawa.

Wooooyyy Kopernya! Teriak bang Haiqal mengingatkan travelbag kami yang masih tergeletak tak ada yang membawa.

Kami semua tertawa, aku yang akan berbalik mengambil travelbag itu malah semakin diseret Papanya Pipit yang masih merangkulku.

Ya kamu aja yang bawa, Qal kata Mamanya sambil tersenyum, dan disambut dengan gerutuan bang Haiqal.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.